
Pasar bullish Bitcoin diperkirakan mendekati titik penentuan, menurut trader Tony "The Bull" Severino. Ia menilai, mata uang kripto ini berpeluang mengalami rally parabola atau justru mengakhiri siklus saat ini dalam 100 hari ke depan. Analisis penting ini didasarkan pada beberapa indikator utama:
Pada analisis terbaru yang diunggah di media sosial, Severino menyoroti indikator Bollinger Bands, alat ukur volatilitas klasik yang kini mencapai tingkat "penyempitan" terketat pada grafik mingguan Bitcoin. Pola teknikal ini terbukti sering mendahului pergerakan harga eksplosif ke dua arah, sehingga membuat setup pasar saat ini sangat krusial.
Bollinger Bands mengukur volatilitas dengan memplot deviasi standar di atas dan di bawah moving average. Jika band menyempit drastis, itu menandakan volatilitas rendah dan pasar sedang terkonsolidasi—setup yang sering diikuti pergerakan harga besar. Kompresi seperti ini menciptakan efek "pegas tertekan", di mana pasar mengumpulkan energi menuju breakout besar.
"Untuk saat ini, BTCUSD belum berhasil breakout kuat di atas upper band," jelas Severino. "Berdasarkan pola konsolidasi sebelumnya, bisa saja butuh lebih dari 100 hari untuk terjadi breakout valid—atau breakdown, jika BTC justru jatuh."
Severino juga menekankan, "head fakes" atau breakout palsu sebelum munculnya tren sejati sangat sering terjadi di kondisi seperti ini. Pergerakan harga yang menyesatkan ini dapat menjebak trader di sisi pasar yang salah sebelum tren sebenarnya terbentuk.
"Ekspansi dari setup squeeze seperti ini bisa menimbulkan head fakes," paparnya. "Kita mungkin sudah melihat satu saat harga menembus $126.000, dan bisa saja terjadi penurunan lagi sebelum breakout sebenarnya."
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $122.700, sedikit turun dari rekor tertingginya baru-baru ini. Fase konsolidasi ini memicu perdebatan di kalangan analis, apakah pasar bullish yang dimulai sejak awal 2023 sudah memasuki tahap akhir atau justru bersiap menuju fase penemuan harga baru.
Secara historis, pasar bullish Bitcoin biasanya berakhir dengan "blow-off" top tajam sekitar 18 bulan setelah halving. Waktu ini mengarah ke akhir 2025 sebagai potensi puncak siklus sekarang. Namun, seiring struktur pasar berkembang dan institusi makin banyak terlibat, pola historis bisa berubah.
Namun, menurut analis Rekt Capital, siklus pasar Bitcoin tampak semakin panjang, menandakan rally kali ini masih punya ruang tumbuh. Kedewasaan pasar kripto dan meningkatnya adopsi institusi bisa memperpanjang durasi siklus tradisional.
"Tidak mungkin Bitcoin sudah mencapai puncak, karena itu akan menjadikannya salah satu siklus terpendek," sebut Rekt Capital. Ia menambahkan, Bitcoin bisa segera memasuki "tren naik penemuan harga", di mana aset ini menjelajah valuasi baru tanpa hambatan resistansi historis.
Sementara itu, Severino menilai beberapa bulan ke depan akan sangat menentukan bagi arah Bitcoin. "Ini bisa mendorong Bitcoin ke rally parabola—atau justru mengakhiri tiga tahun pasar bullish," tegasnya, menyoroti sifat biner setup pasar saat ini.
Bitcoin, yang sering dijuluki "emas digital" berkat statusnya sebagai penyimpan nilai, meniru lonjakan emas baru-baru ini dengan melampaui $125.000 pada sesi perdagangan terakhir—rally terkuat sepanjang sejarah. Pergerakan paralel antara Bitcoin dan aset safe-haven tradisional ini semakin menegaskan peran kripto yang berkembang di portofolio investasi.
Mata uang kripto utama ini menarik dana miliaran dolar ke ETF, memperlihatkan permintaan institusi yang kuat. Analis JPMorgan memproyeksikan BTC bisa mencapai $165.000 dalam beberapa bulan ke depan jika momentum saat ini berlanjut, meski proyeksi ini tetap tergantung minat institusi dan kondisi makroekonomi yang mendukung.
"Semakin banyak institusi merasakan Bitcoin kembali mendekati harga tertinggi setelah koreksi, semakin nyaman mereka menjadi pemegang jangka panjang," ujar Timot Lamarre, Head of Market Research Unchained, perusahaan layanan keuangan berbasis Bitcoin dengan aset kelolaan di atas $11 miliar. Pergeseran perilaku di kalangan institusi ini dapat memperkokoh fondasi harga Bitcoin.
Lamarre menambahkan, "Jika pelemahan mata uang dianggap struktural, bukan sementara, Bitcoin kemungkinan memasuki fase revaluasi besar berikutnya." Pandangan ini menunjukkan bahwa kekhawatiran akan penurunan nilai mata uang fiat dapat mendukung permintaan Bitcoin sebagai lindung nilai terhadap ekspansi moneter.
Ketidakpastian fiskal di negara-negara utama mendorong peralihan ke Bitcoin, emas, dan perak, karena investor mengantisipasi pelemahan mata uang lebih lanjut. "Debasement trade" kian diminati di tengah utang nasional yang meningkat dan ketidakpastian politik di banyak wilayah, mendorong peralihan dari aset berbasis fiat.
Tren ini menandakan kekhawatiran yang makin besar terhadap daya beli jangka panjang mata uang tradisional, terutama saat bank sentral melanjutkan kebijakan moneter ekspansif. Pasokan Bitcoin yang terbatas pada 21 juta koin menjadikannya alternatif menarik bagi investor yang ingin melindungi aset dari inflasi dan penurunan nilai mata uang, mendukung apresiasi harga jangka menengah hingga panjang.
比特币抛物线走势指价格急速上升,形成陡峭曲线。通常意味着市场过度热情,买盘集中,交易额激增。这种走势往往预示价格可能面临快速调整或继续突破历史高位,代表市场情绪极度乐观阶段。
Bitcoin kini berada pada tahap awal hingga pertengahan siklus bullish, dengan momentum yang terus menguat. Analis memperkirakan rally dapat berubah menjadi parabola atau berakhir dalam 100 hari ke depan, sehingga periode ini sangat krusial untuk penemuan harga dan potensi volatilitas.
Analis menggunakan beberapa indikator teknikal seperti RSI, MACD, moving average, serta metrik on-chain seperti volume perdagangan dan aktivitas whale. Dikombinasikan dengan analisis sentimen pasar dan level resistansi historis, alat-alat ini membantu memproyeksikan apakah Bitcoin akan masuk fase parabola atau justru mengakhiri bull run dalam 100 hari.
Sinyal berakhirnya pasar bullish meliputi penurunan volume transaksi, melemahnya momentum, breakdown pada level resistansi, dan divergensi teknikal. Investor disarankan mengambil keuntungan di level resistansi, melakukan diversifikasi, menetapkan stop-loss, serta memantau indikator makroekonomi. Siapkan dana cadangan untuk peluang akumulasi saat koreksi harga.
Siklus bullish Bitcoin pada umumnya berlangsung 1-2 tahun, dengan pola terkait peristiwa halving setiap 4 tahun. Catatan historis menunjukkan puncak terjadi 12-18 bulan setelah setiap halving, menandakan ritme yang cukup konsisten dalam dinamika pasar.
Lonjakan harga tajam Bitcoin dalam jangka pendek berisiko menimbulkan koreksi pasar, pengumuman regulasi, perubahan makroekonomi, dan aksi ambil untung oleh pemegang besar. Volatilitas tinggi dapat memicu likuidasi posisi leverage, sementara perubahan sentimen akibat katalis negatif dapat mempercepat penurunan harga secara signifikan.











