

Pada sesi perdagangan Asia terbaru, Bitcoin sempat turun di bawah $90.000—level terendah dalam tujuh bulan—sebelum sedikit pulih. Sentimen hati-hati membuat pelaku pasar perlahan masuk kembali, tetapi selera risiko yang rapuh masih membatasi pemulihan penuh kepercayaan investor.
Bitcoin telah menghapus seluruh kenaikan sepanjang tahun ini, turun sekitar 26% dari puncak di atas $126.000 pada Oktober lalu. Harga saat ini di $92.361, naik hampir 2,3% dari titik terendah sebelumnya di $89.286,75. Fluktuasi harga ini menunjukkan perubahan tajam sentimen pasar dan ketidakpastian arah ke depan.
Di pasar kripto yang lebih luas, sekitar $1,2 triliun kapitalisasi pasar telah lenyap dalam enam minggu terakhir. Kerugian besar ini menegaskan tingginya volatilitas aset kripto. Pengamat pasar menilai hal ini akibat pudarnya ekspektasi pemangkasan suku bunga AS dan aversi risiko luas setelah reli panjang ekuitas global. Pasar kripto—yang kerap menjadi indikator murni selera risiko—mengalami pukulan terberat akibat pergeseran sentimen ini.
Harga mata uang kripto utama saat ini:
ETF Bitcoin spot AS juga turut membebani pasar. Data Morningstar menunjukkan sejak saham AS turun pada 10 Oktober akibat kekhawatiran tarif AS-Tiongkok, sekitar $3,7 miliar telah keluar dari ETF Bitcoin spot AS, dengan $2,3 miliar ditarik hanya pada November.
Arus keluar ini menambah tekanan jual dan memperkecil likuiditas pasar untuk aksi beli saat harga turun. Sebagai jalur kunci investor institusi mengakses kripto, arus ETF secara luas dipandang sebagai indikator sentimen pasar. Arus keluar yang berlanjut menandakan kehati-hatian institusi terhadap prospek jangka pendek dan semakin membebani kepercayaan.
Bursa saham Asia juga belum mampu memberi dukungan. Investor di kawasan ini tetap tanpa arah, dengan kekhawatiran atas valuasi AI yang terlalu tinggi menjelang laporan laba Nvidia. Nasdaq yang didominasi teknologi turun 1,2% pada sesi sebelumnya—penurunan kedua berturut-turut—dan kini melemah lebih dari 6% dari level tertinggi akhir Oktober. Kelemahan sektor teknologi ini turut menular ke kripto.
Saat awal perdagangan Asia, futures S&P 500 dan Nasdaq 100 bergerak mendekati posisi tidak berubah. Nikkei Jepang naik tipis 0,4%, sedangkan Kospi Korea Selatan turun 0,8%, mencerminkan suasana risk-off yang juga dialami Bitcoin. Sikap hati-hati di seluruh pasar ini menyoroti kegelisahan terhadap kondisi makro dan valuasi aset.
Keraguan juga meningkat mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga Fed pada Desember. Investor khawatir turunnya dukungan terhadap Presiden Trump dapat mendorong belanja fiskal lebih besar dan memicu inflasi—membuat pelonggaran agresif kecil kemungkinan terjadi dan kondisi keuangan tetap ketat lebih lama. Perubahan ini semakin menekan aset berisiko, khususnya kripto.
Sentimen pasar kripto berubah drastis. Indeks Fear and Greed telah masuk zona “ketakutan ekstrem”, tolok ukur utama kondisi pasar secara umum.
Seorang Chief Marketing Officer di bursa utama menilai level ini sebagai fase kapitulasi klasik—sering kali menjadi tanda pasar mendekati dasar, membuka peluang akumulasi strategis dan pertumbuhan jangka panjang ekosistem kripto. Ia menyebut aksi jual paksa baru-baru ini sebagai bukti proses pembersihan pasar.
“$800 juta likuidasi Bitcoin menyoroti sensitivitas kripto terhadap leverage, berbeda dengan koreksi S&P 500 yang lebih moderat dan tangguh. Saham mencerminkan kalibrasi risiko dari stabilitas ekonomi, sedangkan kripto menghadapi volatilitas uniknya sendiri,” jelas analis tersebut.
Perusahaan itu meyakini kombinasi sentimen ekstrem dan likuidasi skala besar sedang membersihkan ekses spekulatif dan membuka jalan bagi pembangunan ulang—berpotensi menarik partisipasi institusional yang lebih kuat ke depan. Walau menyakitkan, proses pembersihan ini kerap penting untuk siklus pasar sehat dan membantu mempersiapkan reli berikutnya.
Secara historis, ketika indeks ketakutan berada di level ekstrem, itu menandakan pasar kemungkinan oversold, sehingga investor jangka panjang mendapat peluang masuk menarik. Namun, volatilitas jangka pendek kemungkinan masih tinggi, sehingga investor harus tetap sabar dan rasional.
Seorang analis investasi sekaligus co-founder Coin Bureau berpendapat, “Ketika saham teknologi bersin, Bitcoin pasti ikut pilek.” Ia mengaitkan pergerakan Bitcoin belakangan ini dengan volatilitas saham teknologi bertumbuh tinggi yang memicu reli ekuitas tahun ini. Hubungan ini sangat terasa akhir-akhir ini—setiap pergerakan di sektor teknologi langsung berdampak ke kripto.
“Namun penting diingat, korelasi ini bisa berubah, dan nilai Bitcoin jauh melampaui keterkaitan dengan saham teknologi. Jika gelembung AI benar-benar pecah, peran Bitcoin sebagai penyimpan nilai digital akan semakin menonjol. Saat itu, Bitcoin di bawah $100.000 bisa jadi peluang yang terlewatkan,” tambahnya.
Pandangan ini menegaskan proposisi nilai unik Bitcoin. Meski pergerakan harga jangka pendek kerap sejalan dengan saham teknologi, sifat desentralisasi dan status penyimpan nilai memberikan Bitcoin nilai jangka panjang di luar sistem keuangan tradisional.
Seiring perubahan tren makro global dan adopsi aset digital yang makin luas, Bitcoin berpotensi lepas dari korelasi ketat dengan aset berisiko—menunjukkan daya tariknya sebagai aset alternatif. Bagi investor jangka panjang, penurunan saat ini bisa menjadi jendela strategis untuk alokasi dana.
Namun, investor perlu memahami bahwa pemulihan sentimen membutuhkan waktu dan volatilitas jangka pendek masih tinggi. Dalam mengambil keputusan investasi, pertimbangkan toleransi risiko dan jangka waktu Anda—hindari mengejar reli atau panik menjual.
Ada tiga faktor utama yang mendorong pemulihan Bitcoin: Pertama, rencana pemangkasan suku bunga dan pelonggaran kuantitatif The Fed pada 2026 yang meningkatkan likuiditas dan mendukung aset berisiko; kedua, akumulasi berkelanjutan oleh institusi besar yang membangun fondasi untuk rebound; ketiga, metrik valuasi on-chain menunjukkan Bitcoin berada di rentang nilai historis, sehingga relatif menarik.
Kinerja pembukaan pasar Asia dipengaruhi data ekonomi global, peristiwa geopolitik, pergerakan pasar saham AS, kebijakan moneter, dan volume perdagangan. Proyeksi makroekonomi serta perubahan selera risiko juga menjadi penggerak utama.
Investor sebaiknya tetap tenang dan hindari aksi jual panik. Diversifikasikan portofolio untuk mengelola risiko. Pantau perubahan sentimen pasar dan tinjau strategi investasi secara berkala. Cari peluang beli saat volatilitas dan fokus jangka panjang pada aset berkualitas.











