
Bitcoin tengah mengalami penurunan kinerja bulanan paling tajam sejak 2022, dengan sejumlah investor ventura terkemuka memperingatkan bahwa fase penurunan mata uang kripto baru saja dimulai. Aset digital ini telah kehilangan sekitar 23% nilainya dalam beberapa bulan terakhir, menjadi penurunan bulanan terbesar sejak pertengahan 2022, di tengah tekanan ganda mulai dari aksi jual institusi hingga memburuknya sentimen di ekosistem kripto secara luas.
Partner Placeholder, Chris Burniske, menjadi sorotan karena pernyataannya bahwa "era penjualan distribusi baru saja dimulai, seperti saat kita naik, demikian pula saat kita turun." Sentimen ini juga disuarakan oleh Co-Founder Alliance DAO, QwQiao, yang memprediksi bahwa pasar bearish yang sedang terbentuk masih membutuhkan penurunan lagi sebesar 50% sebelum dapat membangun fondasi kuat untuk pertumbuhan masa depan. Peringatan dari para veteran industri ini mengejutkan komunitas kripto, karena investor kini meninjau ulang posisi mereka di tengah ketidakpastian yang terus meningkat.
Kripto terbesar berdasarkan kapitalisasi pasar turun hingga 6,4% ke $81.629 pada sesi perdagangan terbaru, mencerminkan penurunan lebih dari 30% dari rekor tertinggi yang dicapai pada awal musim gugur. Penurunan tajam ini terjadi meski situasi tampak mendukung, termasuk lingkungan politik pro-kripto di Washington dan lonjakan adopsi institusional melalui exchange-traded funds. Tekanan jual yang parah ini telah memicu likuidasi massal hingga $1,9 miliar, melampaui baik kejatuhan pasar akibat COVID-19 pada 2020 maupun kolapsnya FTX pada 2022 dalam hal penutupan posisi paksa.
Kerentanan pasar terungkap akibat likuidasi beruntun yang menciptakan siklus tekanan jual berulang. Penutupan paksa posisi leverage menambah tekanan turun pada harga, sehingga memicu likuidasi lanjutan dalam lingkaran destruktif. Fenomena ini sangat terasa di pasar derivatif, di mana trader leverage tinggi terkejut oleh kecepatan dan besarnya penurunan harga.
Sikap bearish Burniske semakin mendapat perhatian setelah ia memperingatkan pada pertengahan musim gugur bahwa sebuah peristiwa besar pada akhir 2024 "merusak kripto untuk sementara waktu," sehingga sangat sulit membangun momentum beli yang berkelanjutan setelah kehancuran tersebut. Ia menilai struktur pasar telah rusak secara fundamental, membutuhkan periode konsolidasi dan pembentukan basis yang panjang sebelum pemulihan yang berarti dapat terjadi.
Dalam analisisnya, Burniske mencatat bahwa meski Bitcoin dan Ethereum masih bergerak pada kisaran harga tinggi dibanding rata-rata historis, keretakan serius mulai terlihat pada fondasi pasar. Ia secara khusus menunjuk penurunan harga saham MicroStrategy sebagai sinyal peringatan, karena kepemilikan Bitcoin besar dan eksposur leverage perusahaan ini menjadi barometer penting bagi sentimen institusi. Ia juga menyoroti sinyal mengkhawatirkan dari pasar emas dan kredit, yang menunjukkan bahwa aset safe haven tradisional mengindikasikan ketidakpastian ekonomi lebih luas yang dapat semakin menekan aset berisiko seperti kripto.
QwQiao dari Alliance DAO menguatkan pandangan pesimis ini dengan mengulang prediksi sebelumnya bahwa gelombang "uang tak terinformasi" yang membeli Bitcoin spot dan ETF saat reli euforia harus melikuidasi posisi sebelum pasar dapat kembali tumbuh dalam jangka panjang. Teori ini menunjukkan pasar telah jenuh oleh investor lemah—pihak yang mudah panik saat pasar turun—dan peserta seperti ini harus keluar sebelum dasar pasar yang sehat dapat terbentuk.
Seorang pengamat pasar menambahkan bahwa IBIT, salah satu ETF Bitcoin terbesar, memiliki rata-rata harga dasar sekitar $80.500. Ini menjadi level psikologis penting karena investor di atas ambang ini menghadapi kerugian tak terealisasi. Pengamat tersebut memperingatkan potensi percepatan arus keluar ETF dan aksi jual pasar oleh perusahaan "zombie"—perusahaan yang memegang Bitcoin di neraca dan mungkin terpaksa melepasnya demi kebutuhan operasional atau margin. Analisis ini juga menilai harga dasar IBIT tidak mungkin menjadi dasar akhir pasar bearish, sehingga risiko penurunan lebih lanjut masih ada.
Namun, tidak semua trader senior bersikap pesimistis. Peter Brandt, trader komoditas legendaris dengan pengalaman puluhan tahun, menawarkan pandangan kontrarian jangka panjang. Ia menyebut bahwa penjualan paksa ini adalah "hal terbaik bagi Bitcoin" secara struktural dalam jangka panjang. Menurutnya, pembersihan posisi leverage berlebih dan investor lemah justru menciptakan dasar pasar yang lebih sehat untuk siklus bullish berikutnya.
Brandt mengungkapkan ia kini memegang 40% dari posisi maksimal Bitcoin miliknya, dengan harga masuk rata-rata seperdua puluh harga beli rata-rata Michael Saylor, CEO MicroStrategy. Posisi ini menandakan keyakinannya bahwa meski ada tekanan jangka pendek, arah jangka panjang Bitcoin tetap terjaga. Ia memperkirakan siklus bullish berikutnya akan mendorong Bitcoin ke $200.000 pada kuartal ketiga 2029, lebih dari dua kali lipat dari level saat ini, berdasarkan analisis siklus historis Bitcoin dan pola empat tahunan yang selaras dengan halving reward penambangan.
Tekanan jual meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir, dipimpin oleh institusi yang menarik eksposur dari kripto. Dua belas exchange-traded funds Bitcoin yang terdaftar di AS mencatat arus keluar bersih $903 juta dalam satu hari—redemption terbesar kedua sejak produk ini diluncurkan awal 2024. Gelombang eksodus modal dari instrumen investasi teregulasi ini menjadi sinyal perubahan mendasar sentimen institusi, saat manajer dana profesional menilai ulang risiko dan imbal hasil portofolio kripto mereka.
Berdasarkan data Bloomberg, open interest pada kontrak futures perpetual anjlok 35% dari puncak $94 miliar di musim gugur. Penurunan tajam posisi derivatif ini menunjukkan trader leverage baik menutup posisi secara sukarela maupun terpaksa karena likuidasi. Aktivitas spekulatif pun menurun drastis, dengan banyak peserta pasar memilih menunggu kejelasan arah pasar.
Institusi tampak sangat enggan melakukan "buy the dip", strategi yang sebelumnya efektif saat koreksi kripto. Laporan pelaku pasar menyebut sentimen sangat negatif, dengan banyak investor profesional memilih menunggu daripada mencoba menangkap pisau jatuh. Sikap skeptis institusi menjadi penting mengingat sebelumnya arus modal institusi melalui ETF dan kas korporasi justru menjadi pendorong utama reli Bitcoin ke rekor tertinggi.
Pembantaian pasar saat ini terjadi setelah gelombang likuidasi besar-besaran dalam peristiwa utama akhir 2024 yang menghapus $19 miliar posisi token leverage hanya dalam hitungan jam. Deleveraging besar ini menghilangkan sekitar $1,5 triliun dari kapitalisasi pasar gabungan seluruh kripto, menjadi salah satu perusakan kekayaan satu hari terbesar dalam sejarah pasar kripto. Skala likuidasi ini bahkan melebihi gejolak pasar akibat COVID-19 dan kolapsnya bursa FTX, menyoroti tingkat leverage yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ethereum, kripto terbesar kedua, juga tak luput dari kejatuhan. Aset ini turun hingga 7,6% ke bawah $2.700 dalam aksi jual terbaru, dengan likuidasi melampaui $1 miliar di berbagai periode. Dalam satu jam yang sangat volatil, nilai likuidasi mendekati $1 miliar, menunjukkan betapa rapuh posisi leverage dan cepatnya perubahan kondisi pasar. Kejatuhan Ethereum menimbulkan pertanyaan mengenai kesehatan ekosistem smart contract dan protokol DeFi yang dibangun di atasnya.
Pratik Kala, manajer portofolio Apollo Crypto, mencermati bahwa "tampaknya ada penjual paksa di pasar dengan kedalaman yang tidak jelas." Ini mengindikasikan satu atau lebih pemegang besar mungkin melikuidasi posisi besar, baik karena tekanan keuangan, regulasi, atau alokasi ulang strategis. Ketidakpastian mengenai besaran dan durasi tekanan jual ini membuat banyak calon pembeli ragu, karena investor khawatir mengambil posisi sebelum penjual paksa selesai. Kala menyimpulkan, "Sentimen sangat buruk di seluruh lini," menggambarkan pesimisme mendalam yang melanda pasar kripto.
Analis Michael Van De Poppe menyoroti titik balik kritis pada peristiwa besar akhir 2024, menyebut "ada sesuatu yang rusak parah" dan kerusakan ini "masih tercermin pada perilaku pasar Bitcoin saat ini." Ia menilai struktur pasar mengalami kerusakan fundamental, menciptakan hambatan teknis dan psikologis yang masih menekan harga. Ini tercermin pada ketidakmampuan pasar menahan reli dan mudahnya tekanan jual mengalahkan aksi beli.
Sebagai perbandingan historis, terakhir kali Bitcoin mengalami penurunan bulanan serupa adalah saat kehancuran proyek stablecoin TerraUSD milik Do Kwon di pertengahan 2022, yang memicu rangkaian kegagalan perusahaan di ekosistem kripto. Gelombang gagal bayar ini berujung pada kejatuhan FTX, bursa kripto terbesar kedua dunia, yang runtuh karena skandal penipuan dan penyalahgunaan dana nasabah. Pararel ini membuat banyak pelaku pasar khawatir akan risiko leverage tersembunyi dan keterkaitan antar pihak yang mungkin kembali terungkap.
Benjamin Cowen, CEO Into The Crypto dan analis pasar terkemuka, mengingatkan bahwa "bear market adalah hal yang wajar" dan merupakan bagian alami dari siklus pasar kripto. Berdasarkan data historis, Cowen mencatat "Bitcoin selalu mencapai puncak di kuartal empat tahun pasca-halving dan menyentuh dasar sekitar setahun kemudian." Ini berkaitan dengan siklus empat tahunan Bitcoin yang berhubungan dengan halving reward penambangan. Dengan demikian, penurunan saat ini memang diperkirakan setelah halving terakhir, dan dasar kemungkinan tercapai beberapa bulan mendatang.
Cowen menyarankan, "Berdaganglah di pasar yang Anda miliki, bukan pasar yang Anda inginkan," menekankan pentingnya merespons aksi harga nyata daripada narasi atau prediksi. Pendekatan ini menegaskan bahwa meski banyak teori dan model beredar, satu-satunya hal relevan bagi trader adalah di mana harga Bitcoin saat ini. Ia juga memperingatkan agar tidak terlalu terikat pada narasi tertentu, baik bullish maupun bearish, dan tetap fleksibel beradaptasi dengan kondisi pasar yang dinamis.
Analis Plan C menghadirkan model harga jangka panjang Bitcoin yang diklaim akurat hingga 99,72% pada batas bawah proyeksinya. Beda dengan prediksi harga tunggal yang sering meleset, model ini menawarkan beberapa kemungkinan hasil berdasarkan skenario dan distribusi probabilitas berbeda. Model ini menunjukkan volatilitas Bitcoin yang makin menyempit seiring pasar dewasa dan kapitalisasi pasar bertambah, sehingga pergerakan ekstrem makin jarang.
Berdasarkan model Plan C, posisi akhir harga Bitcoin sangat dipengaruhi oleh interaksi faktor eksternal dan psikologi investor, baik dari kondisi makroekonomi seperti suku bunga dan inflasi, perkembangan regulasi di yurisdiksi utama, tingkat adopsi institusi, hingga kemajuan teknologi jaringan Bitcoin itu sendiri. Model ini mengakui ketidakpastian prediksi harga, namun menyediakan kerangka probabilistik atas kemungkinan yang mungkin terjadi.
Latar belakang makroekonomi global saat ini juga tidak memberi dukungan pada aset berisiko seperti kripto. Pasar saham AS menyerahkan keuntungan berbasis AI di tengah kekhawatiran valuasi sektor teknologi yang terlalu tinggi. Investor kini makin skeptis dengan proyeksi laba yang tinggi dan waktu monetisasi AI, sehingga banyak yang mengambil untung dari saham-saham unggulan teknologi. Selain itu, muncul keraguan apakah Federal Reserve akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat, mengingat inflasi masih di atas target dan data ekonomi tetap kuat sehingga pelonggaran moneter bisa saja batal dilakukan.
Sektor kripto lebih luas kini menghadapi tekanan berat seiring berlanjutnya pasar bearish tanpa dasar yang jelas. Altcoin umumnya turun lebih dalam dari Bitcoin, banyak token anjlok 40-60% dari puncak terakhir. Protokol DeFi mengalami penurunan total value locked signifikan, sementara volume perdagangan non-fungible token merosot ke level terendah sejak awal 2021. Luasnya penurunan di seluruh subsektor kripto menandakan penyesuaian risiko menyeluruh, bukan sekadar masalah pada proyek atau protokol spesifik.
Pelaku pasar kini berupaya mencari katalis yang dapat membalikkan tren penurunan. Beberapa analis menyoroti level support teknikal yang jika bertahan dapat memberi fondasi stabilisasi. Yang lain menantikan potensi kabar positif dari regulasi atau minat institusi baru. Namun, konsensus pengamat senior menilai pasar masih butuh waktu untuk mencerna leverage berlebih dan posisi spekulatif yang terbangun selama reli sebelumnya, sehingga kesabaran diperlukan sebelum pemulihan berkelanjutan benar-benar terjadi.
Placeholder VC menilai era penjualan dimulai seiring adopsi institusi meningkat, kematangan pasar bertambah, dan metrik on-chain menunjukkan akumulasi maksimum. Dengan fundamental dan infrastruktur yang makin kuat, institusi mulai memposisikan diri untuk keluar dalam skala besar, menandai pergeseran dari fase akumulasi ke distribusi dalam siklus kripto.
Perhatikan spekulasi ritel berlebihan, sentimen euforia, lonjakan volume perdagangan, dan divergensi antara puncak harga dan metrik on-chain. Ketika adopsi arus utama mencapai puncak dan regulasi diperketat, biasanya puncak pasar segera menyusul.
Investor sebaiknya mendiversifikasi portofolio, mengambil keuntungan di level resistance, memantau pergeseran sentimen pasar, dan menjaga likuiditas untuk memanfaatkan peluang. Penempatan strategi saat volatilitas dapat memaksimalkan keuntungan serta meminimalkan risiko penurunan.
Puncak pasar kripto historis biasanya diiringi euforia ekstrem, reli harga parabola, volume perdagangan puncak, dan partisipasi ritel maksimum. Sinyal jual utama termasuk bull run 12-18 bulan, puncak dominasi Bitcoin, puncak musim altcoin, dan sentimen media sosial ekstrem. Puncak pasar kerap diikuti koreksi besar 2-4 minggu setelah akumulasi whale berhenti dan smart money keluar.
Placeholder VC mengambil pendekatan kontrarian dengan menyatakan puncak pasar kripto saat institusi lain masih bullish. Mereka menyoroti pergeseran fundamental dalam dinamika pasar dan tekanan jual, berbeda dari optimisme institusi tradisional pada siklus pertumbuhan berkepanjangan.
Puncak pasar umumnya ditandai euforia ekstrem, lonjakan harga parabola, volume perdagangan berlebih, leverage yang sangat tinggi, FOMO ritel besar-besaran, dukungan selebritas, serta memburuknya fundamental di tengah spekulasi liar.











