

Co-founder Gemini, Cameron Winklevoss, baru-baru ini menyampaikan kepada para investor bahwa ia memandang Bitcoin di bawah $90.000 sebagai peluang terakhir untuk membeli pada level harga ini. Hal ini terjadi setelah mata uang kripto utama tersebut turun di bawah ambang tersebut dan menghapus kenaikan yang diperoleh sejak awal 2025. Pernyataan ini memicu kembali perdebatan seputar siklus pasar saat ini, apakah Bitcoin telah memasuki fase koreksi berkepanjangan atau justru sedang mengalami penurunan sehat sebelum bergerak naik lebih lanjut.

Bitcoin mencatat koreksi signifikan dari level tertingginya di atas $126.000 pada awal Oktober ke kisaran rendah $90.000 dalam beberapa minggu terakhir. Penurunan tajam ini mengurangi sekitar $600 miliar dari kapitalisasi pasar Bitcoin, mengembalikan harga ke level yang terakhir terlihat tujuh bulan sebelumnya. Skala koreksi ini kembali menghidupkan perdebatan klasik antara pihak bullish dan bearish di meja perdagangan kripto, dengan pelaku pasar terbagi antara melihatnya sebagai peluang beli atau awal dari pasar bearish yang lebih dalam.
Di satu sisi, para trader menyoroti fenomena "kepanikan siklus" dan mencatat bahwa aksi jual ini tidak dipicu satu pemicu utama yang jelas. Banyak pengamat pasar kembali mengacu pada kerangka siklus halving empat tahunan untuk menjelaskan pergerakan harga saat ini, meskipun meningkatnya arus institusional membuat model historis tersebut kian kurang relevan dibandingkan era sebelumnya. Pasar kripto telah berkembang pesat sejak siklus sebelumnya, dengan partisipasi institusional yang secara mendasar mengubah dinamika dan pola likuiditas pasar.
Kondisi makroekonomi dalam beberapa bulan terakhir menjadi tantangan bagi pasar kripto. Penutupan pemerintah yang berkepanjangan, kekhawatiran perang dagang yang terus berlanjut, dan melemahnya likuiditas global secara kolektif menekan aset berisiko di seluruh pasar keuangan, menjadikan kripto sangat sensitif terhadap fluktuasi kekuatan dolar, ekspektasi suku bunga, dan sentimen pertumbuhan global. Hambatan makro ini berkontribusi pada tingginya volatilitas di pasar Bitcoin dan mata uang kripto secara umum.
Para analis semakin mengamati bahwa Bitcoin kini diperdagangkan layaknya aset makro tradisional, bukan sekadar komoditas berbasis pasokan, sehingga merespons indikator ekonomi dan keputusan kebijakan yang sama dengan yang menggerakkan saham, obligasi, dan mata uang. Evolusi ini mencerminkan integrasi Bitcoin yang makin dalam ke sistem keuangan global, di mana investor institusional memperlakukannya sebagai bagian dari portofolio, bukan kelas aset terpisah. Korelasi antara Bitcoin dan aset berisiko tradisional menguat signifikan dalam setahun terakhir, menandakan pasar kripto kini tak lagi dapat dianalisis terpisah dari kondisi ekonomi global.
Leverage telah memperbesar volatilitas harga secara signifikan. Bitcoin mengalami penurunan tajam setelah sekitar $19 miliar posisi leverage dilikuidasi dalam beberapa minggu terakhir, didorong pula oleh aksi ambil untung pemegang jangka panjang di puncak siklus. Kombinasi likuidasi paksa dan profit-taking tersebut menciptakan tekanan jual yang melampaui daya beli yang ada. Koreksi saat ini terjadi pada jendela waktu historis ketika Bitcoin biasanya mencapai puncak siklus pasar sebelumnya, yakni 400–600 hari setelah halving, dengan halving terakhir pada April 2024.
Data on-chain akhir 2024 menunjukkan aktivitas signifikan dari para pemegang Bitcoin besar—dikenal sebagai whale di pasar kripto. Analis Bitunix mengidentifikasi kelompok dompet dengan lebih dari 1.000 Bitcoin melakukan penjualan terfokus dalam periode tersebut, menekan harga dari bawah $100.000 ke kisaran $97.000. Data bursa dan indikator pasar derivatif sama-sama menunjukkan tekanan jual terkoordinasi dari para whale ini, mengindikasikan distribusi terorganisir ketimbang aksi ambil untung acak.
Analisis tersebut menunjukkan eksposur short whale kini jauh lebih besar dari posisi long, dengan metrik on-chain mencatat sekitar $2,17 miliar posisi short dibanding $1,18 miliar posisi long. Posisi bearish di kalangan pelaku pasar profesional ini menandakan pemegang besar bertaruh pada penurunan harga lebih lanjut dalam waktu dekat. Selain itu, ETF Bitcoin telah mencatat beberapa pekan berturut-turut arus keluar bersih bernilai miliaran dolar, mengindikasikan investor institusional memangkas eksposur kripto mereka.
Trader derivatif aktif membeli perlindungan melalui opsi put pada kisaran harga $90.000–$95.000, menandakan permintaan kuat untuk lindung nilai penurunan di level tersebut. Aktivitas opsi ini menunjukkan trader profesional bersiap menghadapi potensi penurunan harga lebih lanjut, meskipun sebagian pelaku pasar melihat level saat ini sebagai peluang beli. Konsentrasi minat opsi put pada level strike ini menunjukkan $90.000 menjadi support psikologis penting bagi banyak pelaku pasar.
Laporan dari firma analitik blockchain seperti Glassnode dan MarketVector menyebut pergerakan harga terkini sebagai “distribusi terjadwal” oleh pemegang jangka panjang, bukan likuidasi panik. Namun, kedua firma itu menekankan bahwa kemampuan pasar menyerap pasokan telah melemah tajam dibanding periode sebelumnya. Kombinasi penebusan Bitcoin ETF dan alokasi institusional yang lebih lambat membuat gelombang penjualan serupa kini mampu memicu pergerakan harga tajam dan lebih banyak likuidasi berantai daripada siklus sebelumnya saat partisipasi institusional masih minim.
Dari sudut pandang analisis teknikal, para analis memantau $100.000 sebagai resistance utama dan $93.000 sebagai support krusial. Penembusan harga secara berkelanjutan di atas $100.000 dapat menarik minat beli baru dan memicu penutupan short, sementara pergerakan tegas di bawah $93.000 dapat mempercepat tekanan jual dan menguji level support yang lebih rendah. Level-level harga ini menjadi batas psikologis penting berdasarkan pola perdagangan dan kedalaman order book terkini.
Bitunix dan firma analisis pasar lain menilai arus dompet whale, tren ETF, dan posisi pasar opsi sebagai indikator utama untuk memantau arah pasar. Perubahan serempak pada ketiga indikator ini, didukung arus masuk spot yang lebih kuat, penurunan eksposur short whale, dan volatilitas tersirat yang lebih stabil di pasar opsi, akan menandakan permintaan riil mulai kembali—bukan sekadar penutupan short sementara. Sampai ada konfirmasi tersebut, pelaku pasar tetap berhati-hati dalam menyimpulkan telah terjadi bottom.
Meski kondisi pasar penuh tantangan, pembeli institusional masih terus mengakumulasi Bitcoin di belakang layar. MicroStrategy, dalam pengumuman terbarunya, mengungkapkan telah membeli tambahan 8.178 Bitcoin pada harga rata-rata $102.171, menginvestasikan sekitar $835 juta dan semakin memperbesar posisi neraca yang menjadikannya salah satu pemegang korporasi terbesar kripto ini. Akumulasi berkelanjutan oleh perusahaan publik ternama ini membuktikan bahwa sebagian investor institusional masih memandang harga saat ini sebagai titik masuk menarik untuk kepemilikan jangka panjang.
Pernyataan Cameron Winklevoss bahwa periode ini bisa menjadi kesempatan terakhir membeli Bitcoin di bawah $90.000 menyoroti tema yang jamak di pasar kripto: penurunan tajam dan koreksi sering kali merupakan bagian dari perjalanan menuju puncak harga baru dalam jangka panjang. Namun, jalan menuju potensi harga lebih tinggi kini makin bergantung pada kondisi likuiditas global, kebijakan moneter, dan laju adopsi institusional, bukan hanya pada siklus halving atau dinamika pasokan on-chain yang mendominasi era sebelumnya. Seiring Bitcoin berkembang sebagai kelas aset, pergerakan harganya kini dipengaruhi interaksi kompleks antara kekuatan pasar keuangan tradisional dan faktor khusus kripto, sehingga perbandingan historis sederhana makin kurang relevan sebagai alat prediksi ke depan.
Cameron Winklevoss menilai Bitcoin di bawah $90.000 sebagai undervalued dibandingkan potensi jangka panjang dan fundamental pasarnya. Ia percaya pembelian strategis saat harga turun membuka peluang masuk menarik bagi investor yang mengincar pertumbuhan Bitcoin di masa depan.
Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran 100.000 USD, melampaui level tertinggi historis tahun 2021 sekitar 68.789 USD. Ini mencerminkan kemajuan pasar yang signifikan dan momentum naik yang kuat pada siklus kali ini.
Risiko investasi Bitcoin meliputi volatilitas harga sangat tinggi akibat sentimen pasar, ketidakpastian regulasi dari kebijakan pemerintah yang terus berubah, serta persaingan ketat dari mata uang kripto alternatif. Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan fluktuasi harga besar dan potensi kerugian bagi investor.
Pendiri Gemini memprediksi harga Bitcoin dapat mencapai satu juta dolar AS dan menilai pasar masih berada di tahap awal dengan potensi pertumbuhan sangat besar.
Sebagian besar investor institusional menilai Bitcoin undervalued pada kisaran $85.000–$95.000. Sekitar 71% menilai valuasi saat ini masih rendah, dengan 80% berencana menahan atau membeli lebih banyak jika harga turun 10% lagi. Ekspektasi pelonggaran moneter pada 2026 memperkuat optimisme mereka terhadap potensi jangka panjang Bitcoin.











