

Harga likuidasi adalah indikator penting dalam trading margin yang menentukan titik otomatis penutupan posisi demi melindungi kedua pihak transaksi. Setiap trader yang memakai cross margin atau isolated margin wajib memahami rumus ini.
Untuk menghitung harga likuidasi pada perdagangan margin dengan mata uang "i", perhatikan komponen utama berikut:
Likuidasi terjadi saat rasio risiko mencapai batas yang telah ditetapkan. Rumus rasio risiko: rasio risiko = total aset / (total pinjaman + bunga berjalan). Rasio ini sangat penting untuk memantau kesehatan posisi margin Anda.
Pada mata uang "i", hubungan antara indeks harga dengan harga likuidasi referensi adalah: (harga likuidasi - indeks harga) / indeks harga. Rumus ini membantu trader mengukur buffer sebelum likuidasi otomatis terjadi.
Kebanyakan platform trading menyediakan Kalkulator Margin khusus untuk memperkirakan harga likuidasi secara cepat dan akurat. Anda juga dapat memakai metode perhitungan retroaktif untuk memverifikasi hasil.
Contoh praktis: Pada cross margin, rasio likuidasi ditetapkan 1,1—rasio aset terhadap liabilitas harus 1,1. Pengguna A deposit 10.000 USDT sebagai jaminan dan meminjam 20.000 USDT untuk membeli 1 BTC di harga 30.000 USDT. Posisi margin kini memegang 1 BTC (aset) dan 20.000 USDT (utang).
Perhitungan harga likuidasi:
Pada kondisi ini, proyeksi harga likuidasi BTC adalah 22.000 USD. Jika BTC turun ke harga tersebut, posisi akan otomatis dilikuidasi.
Untuk ilustrasi lebih detail, simak contoh berikut: Pengguna C memindahkan 100 USDT ke akun 5X Cross Margin dan meminjam 0,4 ETH (ETH/USDT di 1.000 USD). Margin awal 1,25; margin likuidasi 1,1.
Cara hitung level margin:
Jika bunga ETH 0,01% per jam, setelah 4 jam Pengguna C memperoleh bunga 0,00004 ETH (0,4 ETH × 0,01% × 4 jam). Sementara itu, ia memasang order jual 0,4 ETH di harga 1.100 USD, namun order belum tereksekusi. Harga likuidasi ETH dalam USDT dihitung sebagai:
Selanjutnya, Pengguna C menjual 0,4 ETH seharga 440 USDT pada harga ETH/USDT 1.100 USD. Harga likuidasi ETH terbaru dalam USDT:
Perhitungan ini berlaku setelah order jual tereksekusi dan posisi diperbarui. Setelah waktu berjalan, Pengguna C memperoleh bunga 0,00288 ETH (0,4 ETH × 0,01% × 72 jam). Harga likuidasi ETH yang diperbarui dalam USDT:
Contoh ini menunjukkan perubahan harga likuidasi saat posisi dan bunga bertambah—dasar untuk memahami T zero dan dampak settlement period dalam margin trading.
Harga likuidasi suatu posisi kadang muncul sebagai "/" atau "--". Penyebabnya, harga likuidasi tiap token dihitung dengan asumsi nilai aset posisi lain tetap stabil.
Jika aset posisi tertentu tidak memicu likuidasi—walau nilainya 0 USD—harga likuidasi tidak ditampilkan. Misal: Pengguna A punya 10.000 USDT sebagai agunan, meminjam 20.000 USDT untuk membeli 1 BTC di harga 29.000 USD dan 1 ETH di harga 1.000 USD. Posisi margin memegang 1 BTC dan 1 ETH (aset) serta 20.000 USDT (utang).
Harga likuidasi BTC dalam USDT, jika ETH tetap di 1.000 USD:
Harga likuidasi ETH dalam USDT, jika BTC tetap di 29.000 USD:
Pada kasus ini, meski nilai ETH jadi 0 USD, agunan BTC 29.000 USD tetap menutup utang 20.000 USDT. Tidak terjadi likuidasi. Harga likuidasi ETH akan tampil sebagai "/" atau "--", menandakan tidak ada titik likuidasi aktual untuk aset tersebut dalam kondisi saat ini.
Perhitungan harga likuidasi margin menggabungkan nilai aset, saldo pinjaman, bunga berjalan, dan indeks harga. Penguasaan rumus dan variabelnya sangat penting bagi trader margin agar mampu mengelola risiko dan mengambil keputusan bijak. Kalkulator di platform trading memudahkan verifikasi perhitungan, sementara contoh nyata menunjukkan bagaimana perubahan posisi dan bunga memengaruhi harga likuidasi secara dinamis. Ingat: pada skenario tertentu, harga likuidasi tidak muncul jika posisi sudah sepenuhnya ter-cover—menunjukkan kekuatan portofolio margin Anda.
T 0 adalah titik awal—referensi waktu nol. Dalam dunia kripto dan keuangan, istilah ini menandai permulaan sebuah transaksi atau peristiwa, sebagai acuan waktu untuk seluruh perhitungan dan settlement berikutnya.
T1, T2, dan T3 adalah periode penyelesaian transaksi. T1 berarti settlement di hari berikutnya, T2 dua hari kerja, dan T3 tiga hari kerja setelah eksekusi. Periode ini menentukan kapan aset dan dana benar-benar berpindah antar pihak.











