

Penambangan Bitcoin adalah proses yang memvalidasi transaksi di jaringan dan mengedarkan bitcoin baru. Per akhir 2024, sekitar 19,5 juta bitcoin telah beredar. Namun, mata uang kripto ini diprogram dengan total pasokan sebanyak 21 juta koin, sehingga 1,5 juta bitcoin masih belum beredar.
Individu yang disebut "penambang" memanfaatkan komputer berdaya tinggi untuk menyelesaikan persoalan matematika kompleks dan "menambang" bitcoin baru melalui proses penambangan. Setiap transaksi di jaringan Bitcoin ditempatkan dalam sebuah blok. Setelah blok penuh, blok tersebut harus diverifikasi sebelum masuk ke blockchain.
Penambangan Bitcoin mirip perburuan harta karun digital. Dengan perangkat komputer canggih, penambang mencari kode heksadesimal 64 digit yang disebut hash, mewakili satu blok transaksi. Kode ini ditemukan melalui proses hashing, yang mengharuskan perangkat keras komputer menelusuri triliunan hash untuk menemukan yang sesuai dengan tingkat kesulitan blok.
Tingkat kesulitan penambangan diatur setiap 2.016 blok, berdasarkan jumlah penambang yang aktif di jaringan. Semakin banyak penambang, semakin tinggi tingkat kesulitannya; semakin sedikit, semakin rendah kesulitannya. Satoshi Nakamoto, pencipta Bitcoin, memprogram jaringan agar terjadi halving setiap 210.000 blok (sekitar setiap empat tahun) demi menciptakan kelangkaan digital. Dengan pola ini, Bitcoin baru akan mencapai batas 21 juta pada tahun 2140. Setelah itu, penambang masih memperoleh imbalan blok melalui biaya transaksi, namun tidak lagi merilis bitcoin baru ke jaringan.
Penambang menghasilkan bitcoin menggunakan perangkat penambangan, mulai dari komputer biasa hingga mesin khusus, selama mendukung algoritma SHA-256—algoritma penambangan Bitcoin. SHA-256 adalah metode enkripsi yang membuat data sulit diakses tanpa alat yang sesuai.
Penambang menambang blok baru setiap 10 menit, dan jaringan membagikan bitcoin sebagai imbalan atas kontribusi mereka. Pelepasan bitcoin ini disebut hadiah blok. Penambang juga menerima biaya transaksi sesuai dengan ukuran blok. Setelah peristiwa halving Bitcoin terbaru pada awal 2024, hadiah blok ditetapkan menjadi 3,125 BTC per blok, turun dari 6,25 BTC sebelumnya.
Setiap kali halving terjadi, penambang makin sulit memperoleh imbalan seperti sebelumnya, sehingga kelangkaan dan nilai Bitcoin dapat meningkat.
Waktu untuk menambang 1 Bitcoin bervariasi, bergantung pada pengaturan tingkat kesulitan jaringan. Satu blok Bitcoin saat ini menghasilkan 3,125 BTC. Menambang sekitar 3 bitcoin memerlukan rata-rata 10 menit, dan kecepatan ini akan berubah seiring perkembangan jaringan.
Hampir mustahil bagi satu penambang untuk memperoleh seluruh hadiah 3,125 BTC sendirian. Jenis perangkat penambangan sangat menentukan berapa banyak BTC yang dapat diperoleh. Banyak penambang bergabung dengan mining pool untuk mempercepat proses penambangan Bitcoin. Mining pool adalah kelompok penambang yang menggabungkan hash rate mereka sebagai satu entitas untuk menemukan hash target. Dengan cara ini, penambang menerima imbalan sesuai dengan kontribusi hash rate mereka.
Proportional Pool: Mining pool proporsional membagikan imbalan berdasarkan kontribusi hash rate penambang. Penambang juga bisa memperoleh imbalan tambahan dari biaya transaksi.
Pay Per Last N Groups (PPLNS): Mining pool tipe ini membagi penambang dalam shift dan membayar berdasarkan waktu yang dihabiskan dalam "shift". Shift merupakan periode tertentu saat penambang berkontribusi pada mining pool.
Pay-Per-Share (PPS): Mining pool pay-per-share memberikan pendapatan stabil, dengan ekspektasi penambang berkontribusi sejumlah hash rate setiap hari. Metode ini stabil, namun penambang tidak mendapat komisi dari biaya transaksi.
Dalam penambangan Bitcoin, ASIC merupakan perangkat paling efisien karena dirancang khusus untuk tugas ini. Performa dan efisiensinya jauh melampaui prosesor CPU dan GPU.
Central Processing Unit (CPU): Mirip seperti mencari opsi secara manual. Bukan cara tercepat untuk menambang Bitcoin, namun tetap menyelesaikan tugasnya.
Graphics Processing Unit (GPU): GPU jauh lebih mampu dibandingkan CPU dalam menangani perhitungan kompleks penambangan.
Application-Specific Integrated Circuit (ASIC): Karena chip ASIC hanya dirancang untuk penambangan bitcoin, performanya jauh melebihi GPU maupun CPU. Penambang ASIC merupakan teknologi perangkat keras penambangan paling mutakhir dan menawarkan ROI terbaik untuk penambang profesional.
Penambangan Bitcoin solo berarti satu penambang bersaing dengan seluruh penambang di dunia. Proses ini amat sulit, sehingga penambang biasanya bergabung menghadapi tantangan bersama. Protokol konsensus proof-of-work (PoW) Bitcoin menjadikan penambangan sebagai kompetisi terbuka.
Peluang penambang solo mengalahkan semua penambang lain untuk mendapatkan hash target blok hampir mustahil. Pada masa awal Bitcoin, waktu menambang satu Bitcoin cukup singkat karena peserta sedikit. Namun, nilai Bitcoin saat itu pun jauh lebih rendah.
Saat ini, penambang solo cenderung bergabung dengan cryptocurrency mining pool untuk meningkatkan peluang mendapat imbalan. Calon penambang tanpa perangkat efisien juga memilih layanan cloud mining agar hemat biaya awal perangkat. Cloud mining berarti penambang menyewa hash power melalui cloud dan pengguna membayar sesuai porsi mereka. Imbasnya, penambang membebankan sebagian biaya energi kepada pengguna yang membayar. Sebagai imbalan, pengguna akan memperoleh hadiah blok sesuai porsi hash power yang dimiliki.
Penambangan Bitcoin merupakan proses kompleks yang memerlukan sumber daya komputasi besar serta strategi yang tepat. Meski waktu rata-rata menambang blok baru ditetapkan 10 menit untuk setiap 3,125 bitcoin, waktu aktual yang diperlukan sangat bergantung pada kualitas perangkat, partisipasi mining pool, dan tingkat kesulitan jaringan. Penambangan solo kini semakin tidak praktis karena persaingan yang ketat, sehingga mining pool dan layanan cloud mining menjadi opsi utama bagi kebanyakan penambang. Memahami mekanisme ini dan memilih cara yang paling tepat—baik melalui mining pool maupun layanan cloud—sangat penting bagi siapa pun yang ingin menjalankan penambangan bitcoin secara profesional.
Menambang satu bitcoin rata-rata membutuhkan waktu sekitar 10 menit, karena jaringan menjaga waktu blok melalui penyesuaian tingkat kesulitan. Namun, penambang individu bisa membutuhkan waktu jauh lebih lama tergantung pada kekuatan perangkat keras dan partisipasi mining pool.
Penambangan Bitcoin solo rata-rata memerlukan waktu 10 menit, namun waktu aktual sangat bergantung pada kekuatan perangkat keras, tingkat kesulitan jaringan, dan faktor keberuntungan. Dengan perangkat standar, proses ini bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
Menambang 1 bitcoin membutuhkan sekitar 155.000 kWh energi, setara dengan konsumsi listrik tahunan rumah tangga rata-rata. Konsumsi energi bergantung pada efisiensi perangkat penambangan dan tarif listrik.
Sekitar 900 BTC ditambang setiap hari di jaringan Bitcoin. Jumlah ini akan disesuaikan setiap 4 tahun saat halving, yang mengurangi imbalan penambangan sebanyak 50%. Jumlah harian dapat sedikit berubah sesuai penyesuaian tingkat kesulitan jaringan.
Tingkat kesulitan yang lebih tinggi memperpanjang waktu penambangan blok Bitcoin, sehingga membutuhkan daya komputasi lebih besar. Jaringan otomatis menyesuaikan tingkat kesulitan setiap 2 minggu untuk menjaga waktu blok tetap konsisten 10 menit. Semakin tinggi kesulitan, semakin lama rata-rata waktu penambangan bagi penambang.











