

Nilai total yang terkunci (TVL) di pasar NFT lending telah berubah sangat drastis dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini, TVL turun menjadi USD8,3 juta, atau penurunan 97% dari puncaknya yang pernah melampaui USD300 juta pada Maret 2024.
Penyusutan tajam ini mencerminkan pergeseran struktural di sektor NFT lending serta perubahan perilaku investor. TVL (Total Value Locked) merupakan indikator utama yang menunjukkan total aset yang terkunci pada protokol DeFi maupun platform NFT lending, sekaligus menjadi barometer penting bagi kesehatan pasar dan tingkat kepercayaan investor.
Penurunan pasar NFT lending berdampak pada sejumlah platform utama. Perubahan paling signifikan terjadi di platform yang sebelumnya menjadi penggerak pasar.
TVL Arcade jatuh drastis hingga 98%, kini tersisa hanya USD300.000. Penurunan ini menegaskan sikap investor yang semakin berhati-hati terhadap NFT lending.
Hal serupa dialami Blend—protokol inti pada Blur—yang mencatat penurunan TVL lebih dari 90% dan kini berada di level USD3 juta. Blend pernah berperan besar dalam pasar NFT lending, namun pengaruhnya menurun tajam sejalan dengan perubahan kondisi pasar.
Nicolas Larmann, analis di NFT Price Floor, menyampaikan analisis kunci terkait puncak Maret 2024. Ia menyoroti bahwa lonjakan TVL saat itu dipicu program insentif dari Blur, sehingga angka TVL meningkat secara artifisial dan tidak mencerminkan pertumbuhan berkelanjutan.
Setelah program insentif berakhir, pasar menyesuaikan ke level yang lebih merefleksikan permintaan riil. Dalam periode penyesuaian ini, sektor NFT lending bergerak ke arah model yang lebih transparan dan berkelanjutan. Platform seperti Gondi dengan skema peer-to-peer (P2P) semakin diminati karena menawarkan lingkungan lending yang lebih stabil.
Meski TVL turun tajam, jumlah utang beredar di pasar NFT lending masih mencapai USD83 juta, menandakan aktivitas lending tetap berjalan di tengah ketatnya likuiditas.
Rasio utang beredar terhadap TVL mengindikasikan bahwa para pelaku pasar cenderung mempertahankan posisi saat ini, namun cermat dalam memulai investasi besar yang baru. Tren ini memperlihatkan kematangan sektor NFT lending dengan praktik manajemen risiko yang lebih baik.
Pasar NFT lending kini bertransisi dari spekulasi jangka pendek menuju penciptaan nilai jangka panjang. Popularitas model peer-to-peer seperti Gondi menandakan pergeseran ke struktur pasar yang lebih transparan dan berbasis kepercayaan langsung antar peserta.
Ke depannya, model bisnis yang berkelanjutan, manajemen risiko yang tangguh, dan kepatuhan terhadap regulasi akan menjadi fondasi utama bagi NFT lending. Seiring kematangan pasar, ekosistem lending yang sehat berbasis jaminan NFT premium diperkirakan akan terbentuk.
NFT lending merupakan layanan DeFi di mana pengguna meminjam aset kripto dengan NFT sebagai jaminan. Pengguna menyetor NFT bernilai, lalu smart contract menilai aset tersebut dan memberikan pinjaman dalam stablecoin sebesar persentase tertentu (umumnya 50–75%). Setelah pelunasan, NFT dikembalikan; jika gagal bayar, NFT disita secara otomatis.
Penurunan aktivitas peserta dan minat terhadap NFT lending menjadi faktor utama. Baik peminjam maupun pemberi pinjaman menjadi jauh lebih pasif sehingga permintaan pasar ikut turun.
Risiko utama NFT lending meliputi kerentanan pada smart contract, volatilitas harga, terbatasnya likuiditas, serta isu keamanan platform. Selain itu, terdapat risiko terkait ketergantungan pada oracle dan akurasi penilaian jaminan.
NFT lending menggunakan NFT sebagai jaminan, sementara DeFi lending tradisional mengandalkan aset kripto fungible. Risiko NFT lending lebih tinggi karena volatilitas harga yang besar, likuiditas rendah, dan proses penilaian yang lebih kompleks.
Masih ada peluang. Penurunan pasar membuka kesempatan untuk memperoleh NFT berkualitas dengan harga diskon. Bagi investor jangka panjang, ini bisa menjadi momentum strategis untuk akumulasi aset.











