
Amerika Serikat mengalami penutupan pemerintah terpanjang dalam sejarahnya, berlangsung selama 40 hari. Kejadian luar biasa ini dipicu oleh perselisihan mengenai alokasi anggaran federal dan prioritas kebijakan. Selama periode tersebut, banyak layanan pemerintah dihentikan, sehingga berdampak pada ratusan ribu pegawai federal dan sejumlah layanan publik. Penutupan yang berkepanjangan ini menimbulkan ketidakpastian ekonomi yang signifikan dan memicu kekhawatiran atas kelangsungan operasi penting pemerintah.
Penutupan ini memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari pariwisata hingga kontraktor federal. Taman nasional ditutup, lembaga regulasi beroperasi dengan staf terbatas, dan sejumlah program pemerintah mengalami gangguan. Lamanya penutupan turut mengguncang pasar keuangan, karena investor semakin khawatir terhadap stabilitas politik dan arah kebijakan ekonomi di masa mendatang.
Senat AS berhasil mengesahkan RUU pendanaan yang telah direvisi dengan suara 60 berbanding 40, menandai langkah penting untuk mengakhiri penutupan pemerintah. Dukungan bipartisan ini, meski tipis, menunjukkan adanya kemauan politik untuk mencapai solusi. RUU yang diamendemen memuat sejumlah kompromi dari kedua partai, mengatasi isu utama yang sebelumnya menghambat tercapainya kesepakatan.
Setelah mendapat persetujuan Senat, RUU tersebut dikirim ke Dewan Perwakilan untuk dipertimbangkan dan mendapatkan persetujuan akhir. Jadwal legislatif menunjukkan keputusan akan diambil dalam waktu dekat, dengan legislator bekerja di bawah tekanan untuk memulihkan operasi pemerintah. Presiden Trump secara terbuka mendukung RUU ini dan menyatakan akan menandatangani menjadi undang-undang ketika sampai di mejanya, memberikan dorongan lebih lanjut bagi penyelesaian penutupan.
Pengumuman persetujuan Senat memicu reaksi signifikan di pasar cryptocurrency. Bitcoin melonjak 6,7% hingga mencapai harga puncak US$106.000. Lonjakan ini mencerminkan optimisme pasar atas penyelesaian ketidakpastian politik dan potensi pemulihan kondisi ekonomi. Pelaku pasar dan investor menilai kemajuan legislatif sebagai sinyal positif bagi aset berisiko, termasuk cryptocurrency.
Namun, euforia awal tersebut tidak berlangsung lama dan Bitcoin kemudian terkoreksi, kehilangan sebagian kenaikannya. Volatilitas ini menyoroti hubungan kompleks antara dinamika politik dan pasar cryptocurrency. Meski sempat reli, Bitcoin tercatat turun 11,85% dalam 90 hari terakhir, menunjukkan adanya tantangan pasar yang lebih luas di luar situasi politik. Tren penurunan jangka panjang ini mengindikasikan banyak faktor yang memengaruhi valuasi cryptocurrency, termasuk isu regulasi, kondisi makroekonomi, dan perubahan sentimen investor.
Berakhirnya penutupan pemerintah menjadi angin segar bagi stabilitas pasar, namun pelaku pasar cryptocurrency tetap berhati-hati dalam melihat prospek ke depan. Pergerakan harga Bitcoin yang fluktuatif mencerminkan ketidakpastian yang berlanjut atas situasi ekonomi global dan landskap regulasi aset digital. Para pelaku pasar terus memantau sejumlah faktor, seperti potensi perubahan kebijakan, tren adopsi institusional, dan kondisi ekonomi global.
Ke depan, pasar cryptocurrency menghadapi peluang dan tantangan. Meskipun penutupan pemerintah telah berakhir dan satu sumber ketidakpastian teratasi, masih ada pertanyaan terkait kerangka regulasi jangka panjang serta perkembangan pasar aset digital. Trader dan investor kini mengambil sikap lebih seimbang, menyadari bahwa perkembangan politik jangka pendek hanyalah satu dari banyak faktor yang memengaruhi valuasi cryptocurrency di sistem keuangan global yang semakin kompleks dan terhubung.
Penutupan pemerintah terjadi ketika Kongres AS gagal mengesahkan anggaran, sehingga lembaga federal tidak dapat beroperasi. Penutupan selama 40 hari pada tahun 2013 dipicu oleh perbedaan pendapat di Kongres mengenai alokasi anggaran, menyebabkan layanan terhenti sampai tercapai resolusi.
RUU alokasi sementara yang disetujui Senat memberikan pendanaan federal yang diperlukan untuk mencegah penutupan pemerintah. Dengan disahkannya RUU ini, pemerintah langsung melanjutkan operasionalnya, mengakhiri penutupan. RUU tersebut mengalokasikan sumber daya untuk memastikan layanan dan fungsi utama pemerintah berjalan selama periode fiskal.
Penutupan pemerintah selama 40 hari menyebabkan penundaan publikasi data ekonomi, gangguan layanan federal, serta pengalihan biaya program makan siang siswa ke tingkat negara bagian dan kabupaten yang meningkatkan tekanan fiskal lokal. Tunjangan pengangguran dapat tertunda, kontraktor federal menghadapi ketidakpastian pembayaran, sehingga memengaruhi kepercayaan konsumen dan aktivitas ekonomi.
Selama penutupan pemerintah, sekitar 800.000 pegawai federal harus menjalani cuti tanpa bayaran. Layanan publik seperti museum, taman nasional, dan monumen dapat ditutup atau mengalami pengurangan jam operasional. Pembayaran kontraktor tertunda, sehingga berdampak pada operasi penting pemerintah dan akses masyarakat terhadap layanan publik.
Penutupan pemerintah kali ini disebabkan oleh perselisihan mengenai Affordable Care Act. Partai Republik menuntut agar Demokrat mengesahkan RUU perpanjangan pendanaan pemerintah, sementara Demokrat menolak syarat yang diwajibkan pada alokasi anggaran. Perselisihan anggaran dan perbedaan kebijakan kesehatan yang bersifat partisan mendorong terjadinya penutupan selama 40 hari.
Pemerintah AS telah mengalami penutupan lebih dari 20 kali dalam sejarah. Presiden Reagan memegang rekor penutupan terbanyak, yaitu 8 kali dengan total 14 hari, yang sebelumnya merupakan penutupan terlama. Penutupan selama 40 hari kali ini jauh melampaui rekor tersebut.











