

Tren Makro
Dengan prediksi outlook makroekonomi yang cukup suram oleh analis dan investor terkemuka seperti Jeremy Grantham, Michael Burry, dan Ray Dalio, apa yang sebaiknya menjadi pilihan investasi saat terjadi resesi?
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar global menghadapi tantangan berat. Perekonomian dunia mengalami luka akibat lockdown pandemi selama beberapa tahun terakhir, yang memicu inflasi tertinggi dalam sejarah di banyak negara dan menimbulkan stagflasi di sejumlah wilayah.
Di tengah situasi yang sudah suram, komplikasi geopolitik seperti konflik Rusia-Ukraina semakin memperbesar kemungkinan terjadinya resesi. Saham teknologi seperti Netflix bahkan telah kehilangan lebih dari 50% nilainya, dan S&P 500 turun ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Di satu sisi, inflasi menggerus tabungan kas kita, sementara di sisi lain, ketidakstabilan ekonomi mengancam pasar keuangan, membuat investor seolah terjebak dalam situasi yang sulit.
Namun, jika Anda tahu di mana harus mencari, peluang tetap ada untuk dimanfaatkan. Berikut beberapa rekomendasi untuk membantu Anda menavigasi masa-masa menantang ini dan menemukan peluang investasi di tengah penurunan ekonomi.
Penurunan ekonomi dapat memunculkan peluang investasi yang sangat menguntungkan, karena investor bisa memperoleh saham bernilai tinggi dengan harga diskon ketika pasar turun. Inilah sebabnya investor sukses memandang masa sulit sebagai peluang: mereka membeli saat harga jatuh.
Perlu diingat, tidak ada resesi atau depresi yang berlangsung selamanya. Guncangan ekonomi adalah siklus yang berulang. Dengan kata lain, investor tetap bisa mendapatkan keuntungan di masa penurunan ekonomi dengan berinvestasi secara strategis pada perusahaan yang memiliki potensi pertumbuhan.
Di masa resesi, strategi investasi tertentu menjadi sangat bernilai. Memahami jenis aset yang cenderung tetap berkinerja baik saat kontraksi ekonomi dapat membantu investor tidak hanya menjaga modal, tetapi juga berpotensi meraih imbal hasil signifikan. Kuncinya adalah mengidentifikasi sektor dan instrumen yang menunjukkan ketahanan atau bahkan diuntungkan oleh ketidakpastian ekonomi.
Berikut beberapa tips khusus untuk investasi di masa resesi:
Evaluasi instrumen terkelola seperti reksa dana, dana indeks, dan ETF. Instrumen ini merupakan portofolio aset yang mencakup sektor, industri, pasar, atau indeks secara keseluruhan. Dengan demikian, umumnya lebih seimbang daripada investasi pada saham individual. Instrumen investasi terdiversifikasi ini menawarkan manajemen risiko bawaan dan pengawasan profesional.
Pertimbangkan menyimpan kelebihan kas pada instrumen aman dan berisiko rendah seperti dana pendapatan tetap jangka pendek. Di tengah kondisi inflasi dan suku bunga tinggi seperti paruh kedua beberapa tahun terakhir, pasar uang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Pendekatan ini menjaga likuiditas sekaligus memberikan hasil moderat yang dapat membantu mengimbangi inflasi.
Pertimbangkan investasi saham di sektor tahan resesi: yaitu bisnis penyedia barang dan jasa esensial seperti bahan makanan pokok, layanan kesehatan, teknologi kritis, pasokan energi dan air, jasa perbaikan, hingga sektor "kenikmatan" seperti makanan ringan dan permen. Sektor-sektor ini cenderung mempertahankan permintaan stabil tak tergantung kondisi ekonomi, karena konsumen tetap membeli kebutuhan pokok meski dalam situasi keuangan sulit.
Pertimbangkan saham blue-chip yang sedang diskon. Jika Anda siap mengambil risiko, saham perusahaan berfundamental kuat bisa menjadi investasi menarik di masa resesi. Korporasi mapan biasanya memiliki neraca yang solid, model bisnis yang terbukti, serta sumber daya untuk bertahan menghadapi krisis ekonomi, sehingga menarik untuk investasi jangka panjang ketika dibeli dengan valuasi rendah.
Pertimbangkan investasi emas, yang secara historis mampu mempertahankan nilainya di tengah ketidakpastian ekonomi. Emas berfungsi sebagai lindung nilai tradisional terhadap inflasi dan devaluasi mata uang, memberikan stabilitas portofolio saat aset lain mengalami volatilitas.
Saat resesi, hindari fokus pada bisnis siklikal seperti pariwisata, perhotelan, dan hiburan. Sektor-sektor ini lebih rentan terhadap penurunan ekonomi karena bergantung pada belanja konsumen, yang cenderung menurun di masa resesi. Ketika anggaran rumah tangga mengetat, pengeluaran untuk perjalanan, makan di luar, dan hiburan umumnya menurun drastis.
Namun, menarik untuk mencermati fenomena Lipstick Effect yang terjadi selama Depresi Besar tahun 1930-an. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan konsumen untuk tetap membeli "ekstra" kecil seperti kosmetik meski ekonomi sedang buruk. Artinya, tidak semua pengeluaran diskresi hilang saat resesi, dan beberapa barang mewah terjangkau tetap diminati.
Selain itu, sejumlah sektor manufaktur kerap terdampak oleh penurunan permintaan atau kenaikan biaya. Industri berat dan produsen barang tahan lama kerap mengalami penurunan pendapatan signifikan karena belanja besar baik oleh konsumen maupun bisnis berkurang saat kontraksi ekonomi.
Hindari perusahaan yang memiliki leverage tinggi. Perusahaan dengan utang besar lebih berisiko mengalami kebangkrutan atau gagal bayar, karena beban cicilan yang berat jika pendapatan menurun akibat pelemahan ekonomi. Perusahaan dengan kewajiban utang berlebihan menghadapi tantangan khusus saat pasar kredit mengetat dan pembiayaan ulang menjadi sulit atau mahal.
Kebijaksanaan umum menyarankan menjauh dari aset seperti mata uang kripto, yang volatil bahkan di ekonomi normal. Saran investasi tradisional biasanya menekankan pelestarian modal saat resesi, yang tampaknya tidak cocok dengan karakter berisiko tinggi aset digital.
Dalam periode terakhir, kripto umumnya bergerak di zona merah, meski ada pengecualian. Sebagai contoh, Bitcoin turun hingga 72% dari puncaknya di akhir 2021. Penurunan tajam ini menunjukkan volatilitas ekstrem pasar mata uang kripto, terutama saat terjadi tekanan ekonomi secara luas.

Hal yang mencolok dari kripto sebagai kelas aset adalah usianya yang sangat muda. Pasar mata uang kripto memiliki data historis terbatas terkait siklus ekonomi utama, sehingga sulit untuk memprediksi performanya saat resesi yang berlangsung lama. Berbeda dengan aset tradisional yang memiliki data kinerja puluhan bahkan ratusan tahun, kripto baru melewati segelintir lingkungan ekonomi.
Maka, baik di masa resesi maupun ekonomi normal, aturan investasi kripto dan investasi pada umumnya tetap sama:
Investasikan hanya kelebihan kas atau dana yang Anda siap kehilangan. Prinsip dasar ini makin penting di masa ketidakpastian ekonomi, ketika keamanan pekerjaan dan pendapatan bisa terganggu.
Investasikan hanya jika Anda yakin pada kripto, sehingga Anda termotivasi melakukan riset mendalam. Memahami teknologi, use case, dan potensi jangka panjang mata uang kripto sangatlah penting sebelum mengalokasikan dana, apalagi di pasar yang volatil.
Pada akhirnya, keputusan berinvestasi pada mata uang kripto di masa resesi bergantung pada toleransi risiko, jangka waktu investasi, dan komposisi portofolio masing-masing individu. Sebagian investor melihat potensi pertumbuhan jangka panjang sebagai alasan untuk mengalokasikan sebagian kecil portofolio pada aset digital, sementara yang lain lebih memilih menghindari kelas aset ini di tengah ketidakpastian ekonomi.
Menyimpan kas sangat penting di masa resesi, mengingat Anda berisiko kehilangan dana yang telah dikumpulkan. Kas yang cukup memungkinkan Anda menutup pengeluaran minimal beberapa bulan ke depan. Dana darurat ini memberi rasa aman dan ketenangan di tengah ketidakpastian ekonomi.
Dari sudut pandang investasi, kas adalah aset yang bermanfaat di masa resesi. Kas memberi Anda likuiditas dan peluang untuk memanfaatkan investasi yang muncul saat pemulihan ekonomi. Ketika harga aset turun tajam, cadangan kas memungkinkan investor membeli aset berkualitas pada valuasi menarik.
Namun, tergantung pada tujuan finansial, kas mungkin bukan investasi terbaik di masa resesi, khususnya jika Anda memiliki kelebihan dana. Meski kas menawarkan keamanan dan fleksibilitas, daya beli bisa tergerus inflasi seiring waktu.
Jika tujuan Anda adalah pertumbuhan jangka panjang, lebih baik berinvestasi pada aset lain yang berpotensi naik nilai seiring waktu. Menyeimbangkan kas dengan investasi strategis pada aset undervalued akan memposisikan investor untuk meraih manfaat pemulihan ekonomi sambil menjaga likuiditas untuk kebutuhan darurat dan peluang investasi.
Ada berbagai langkah yang dapat dilakukan investor saat resesi untuk melindungi portofolio dan membangun kesiapan menghadapi pemulihan ekonomi. Strategi investasi yang sukses di masa resesi membutuhkan perencanaan matang, disiplin eksekusi, serta perspektif jangka panjang untuk menghadapi volatilitas pasar.
Diversifikasi investasi Anda. Artinya, jangan menaruh seluruh dana pada satu aset saja. Sebarkan dana ke berbagai kelas aset dan instrumen investasi. Diversifikasi mengurangi risiko portofolio, sehingga kinerja buruk di satu area dapat diimbangi oleh kestabilan atau kenaikan di area lain. Kombinasikan saham, obligasi, properti, komoditas, dan investasi alternatif agar portofolio tetap tangguh.
Tetap disiplin dalam investasi. Maksudnya, tetap berpegang pada rencana investasi dan hindari keputusan impulsif. Reaksi emosional terhadap volatilitas pasar sering kali berakibat buruk, seperti menjual di titik terendah atau mengejar investasi spekulatif. Disiplin berarti melakukan peninjauan portofolio secara berkala, rebalancing sesuai kebutuhan, dan menghindari perubahan strategi drastis karena pergerakan pasar jangka pendek.
Ingat, resesi tidak berlangsung selamanya. Meski masa sulit bagi investor, resesi pasti berakhir. Data historis menunjukkan bahwa pasar selalu pulih dari penurunan, bahkan sering mencapai rekor tertinggi baru beberapa tahun setelah resesi. Investor yang tetap tenang dan mengikuti prinsip investasi yang baik di masa sulit umumnya akan mendapat imbal hasil saat ekonomi membaik. Kuncinya adalah perspektif jangka panjang dan menyadari bahwa penurunan sementara kerap menjadi dasar pertumbuhan dan kemakmuran di masa depan.
Obligasi berkualitas tinggi, saham defensif seperti utilitas dan barang konsumsi pokok, serta emas merupakan pilihan yang relatif aman saat resesi. Portofolio terdiversifikasi akan melindungi dari fluktuasi ekonomi dan menjaga kekayaan secara optimal.
Hindari sektor siklikal seperti barang mewah, otomotif, dan hiburan. Jauhi aset dengan leverage tinggi, mata uang kripto spekulatif, dan saham pertumbuhan. Hindari juga pasar berkembang yang fundamentalnya lemah serta sektor yang bergantung pada belanja konsumsi diskresi saat penurunan ekonomi.
Diversifikasi ke aset yang tidak berkorelasi seperti obligasi dan komoditas. Tingkatkan alokasi ke sektor defensif seperti utilitas dan barang konsumsi pokok. Bangun cadangan kas untuk fleksibilitas dan peluang pembelian saat pasar turun.
Di masa resesi, obligasi berkualitas tinggi dan saham defensif seperti utilitas dan barang konsumsi pokok umumnya berkinerja lebih baik. Emas cenderung mempertahankan nilai saat penurunan ekonomi. Portofolio terdiversifikasi akan membantu mengelola risiko secara optimal.
Kombinasikan kedua strategi. Simpan kas untuk memanfaatkan peluang pembelian saat aset undervalued, sekaligus pertahankan investasi kripto terdiversifikasi untuk potensi pertumbuhan jangka panjang. Alokasi strategis pada kedua posisi akan mengoptimalkan hasil investasi saat resesi.
Amati penurunan laba perusahaan, kepercayaan konsumen, dan volume perdagangan sebagai sinyal awal resesi. Kurangi aset berisiko tinggi, alihkan ke sektor defensif, dan pertahankan cadangan kas untuk peluang. Diversifikasi ke stablecoin dan aset kripto bervolatilitas rendah untuk perlindungan portofolio.
Retailer diskon dan saham "kenikmatan kecil" umumnya berkinerja baik saat resesi. Konsumen lebih sensitif terhadap harga, sehingga sektor ini diuntungkan. Layanan kesehatan, utilitas, dan barang konsumsi pokok juga tetap tangguh di masa penurunan ekonomi berkat permintaan yang stabil.
Mulailah dengan membangun dana darurat, lalu berinvestasi pada aset stabil seperti Bitcoin dan Ethereum. Metode dollar-cost averaging membantu mengurangi risiko waktu. Lakukan riset fundamental, diversifikasi portofolio, dan fokus pada pertumbuhan jangka panjang. Mulai dengan nominal kecil yang Anda rela kehilangan.











