
Analis keuangan Willy Woo secara terbuka mengkritik metrik Long-Term Holder (LTH) yang lazim digunakan dalam analisis Bitcoin, menyebutnya sudah ketinggalan zaman dan menyesatkan. Selama beberapa tahun, metrik LTH menjadi acuan utama dalam analisis pasar kripto, digunakan oleh analis dan investor untuk menilai sentimen pasar serta perilaku pemegang aset. Namun, Woo berpendapat bahwa metrik yang telah diadopsi luas ini justru berpotensi memberikan sinyal keliru kepada pelaku pasar, sehingga dapat menyebabkan keputusan investasi yang salah arah.
Kontroversi seputar metrik LTH menyoroti perdebatan yang berlangsung di komunitas analis kripto mengenai metode paling efektif untuk memahami dinamika pasar. Seiring kematangan dan evolusi pasar Bitcoin dalam beberapa tahun terakhir, metrik tradisional yang dahulu memberi wawasan berharga kini kerap gagal mencerminkan kondisi pasar secara akurat. Kritik dari analis terkemuka seperti Woo turut memicu diskusi penting mengenai perlunya peninjauan dan penyempurnaan alat analisis yang dipakai dalam analisis pasar kripto.
Menurut Woo, permasalahan utama pada metrik LTH terletak pada definisinya. Metrik ini mengklasifikasikan setiap Bitcoin yang telah disimpan lebih dari lima bulan sebagai "long-term holder". Woo menilai ambang waktu lima bulan tersebut terlalu sewenang-wenang dan tidak mampu membedakan secara akurat antara berbagai tipe pelaku pasar serta karakteristik perilaku kepemilikan mereka.
Rentang waktu lima bulan mungkin relevan pada siklus pasar sebelumnya, namun seiring makin matangnya pasar Bitcoin, pola kepemilikan telah berkembang pesat. Investor institusi, treasury korporasi, dan trader profesional kerap menggunakan strategi yang tidak cocok dengan kategorisasi sederhana berbasis waktu seperti ini. Misalnya, hedge fund yang menggunakan strategi rotasi enam bulan akan masuk kategori long-term holder, padahal tujuan dan perilakunya sangat berbeda dengan investor ritel yang menyimpan Bitcoin selama bertahun-tahun.
Woo juga menyoroti bahwa metrik ini gagal memperhitungkan kompleksitas solusi penyimpanan dan kustodi Bitcoin modern. Dengan berkembangnya layanan kustodi canggih, produk wrapped Bitcoin, serta berbagai protokol DeFi, Bitcoin dapat berpindah antar alamat tanpa mencerminkan tekanan jual yang sesungguhnya dari pemegang asli. Keterbatasan teknis ini membuat metrik LTH semakin kurang dapat diandalkan sebagai indikator sentimen pemegang sebenarnya.
Argumen utama Woo berpusat pada interpretasi penurunan pasokan LTH. Analisis tradisional biasanya menafsirkan penurunan pasokan LTH sebagai tanda bahwa long-term holder sedang menjual Bitcoin, sehingga dianggap sebagai sinyal bearish. Namun, Woo menyatakan bahwa interpretasi ini keliru dan terlalu menyederhanakan situasi yang sebenarnya terjadi di pasar.
Woo menekankan bahwa penurunan pasokan LTH sering kali merupakan hasil rotasi kustodi, bukan penjualan aktual oleh pemegang Bitcoin asli. Ketika Bitcoin berpindah dari satu alamat ke alamat lain setelah disimpan lebih dari lima bulan, "penghitung waktu kepemilikan" di-reset dan tidak lagi tercatat sebagai pasokan LTH, meski entitas yang sama tetap memiliki Bitcoin tersebut. Hal ini bisa terjadi karena alasan yang sah, seperti upgrade keamanan, perubahan layanan kustodi, atau penyeimbangan portofolio dalam satu organisasi.
Untuk mendukung argumennya, Woo mengamati bahwa penurunan pasokan LTH pada siklus pasar terbaru jauh lebih kecil dibandingkan siklus tahun 2017. Hal ini mengindikasikan metrik tersebut mungkin menangkap dinamika pasar yang berbeda dari periode sebelumnya. Pada 2017, pasar kripto didominasi oleh investor ritel dengan pola kepemilikan sederhana sehingga metrik LTH lebih relevan. Sebaliknya, siklus pasar belakangan diwarnai partisipasi institusi yang meningkat dan solusi kustodi yang lebih canggih, sehingga pergerakan Bitcoin di ekosistem pun berubah secara fundamental.
Kritik Woo mendapat dukungan dari analis kripto dan tokoh industri lain yang berpengaruh. Julio Moreno dari CryptoQuant dan Samson Mow dari JAN3 sama-sama menyuarakan kekhawatiran atas ketergantungan berlebihan pada metrik LTH dan mendorong pemanfaatan pendekatan analisis yang lebih canggih.
Para analis tersebut menegaskan pentingnya memprioritaskan analisis sisi permintaan daripada hanya memantau pergerakan LTH untuk memperoleh wawasan pasar yang lebih baik. Metrik sisi permintaan meliputi volume transaksi on-chain, penciptaan alamat baru, pola inflow dan outflow aset di exchange, serta analisis akumulasi oleh kelompok investor tertentu. Dengan menelaah berbagai titik data dan mengombinasikan beragam metrik, analis dapat membangun pemahaman yang lebih menyeluruh tentang dinamika pasar.
Konsensus industri dari diskusi ini menunjukkan bahwa tidak ada satu pun metrik yang seharusnya menjadi acuan tunggal untuk analisis pasar. Sebaliknya, pendekatan multifaset yang menggabungkan berbagai metrik on-chain, analisis keuangan tradisional, serta faktor makroekonomi menawarkan kerangka kerja yang jauh lebih solid untuk memahami perilaku pasar Bitcoin. Seiring ekosistem kripto terus berkembang dan matang, metodologi analitik pun harus beradaptasi agar tetap relevan dan akurat.
Perdebatan ini menegaskan pentingnya inovasi berkelanjutan dalam alat analisis pasar kripto serta perlunya evaluasi kritis atas metrik yang sudah mapan ketika kondisi pasar berubah. Bagi investor dan analis, poin krusial yang perlu diambil adalah melakukan analisis pasar dengan perangkat yang komprehensif, bukan hanya mengandalkan satu indikator meskipun telah diakui secara luas.
Willy Woo adalah analis on-chain dan peneliti Bitcoin ternama yang dikenal berkat pengembangan metrik analisis blockchain yang canggih. Ia berpengaruh besar terhadap pasar kripto lewat riset mengenai perilaku pemegang aset, siklus pasar, dan penilaian Bitcoin yang diikuti baik oleh investor institusi maupun ritel.
Metrik HODLER melacak alamat bitcoin yang menyimpan koin dalam periode lama tanpa perpindahan. Penghitungan dilakukan dengan menganalisis data on-chain untuk mengidentifikasi dompet dengan aktivitas transaksi minimal selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, merepresentasikan investor jangka panjang yang berkomitmen dibanding trader aktif.
Willy Woo berpendapat bahwa metrik long-term holder gagal memperhitungkan koin yang hilang atau tidak aktif, sehingga tingkat komitmen pemegang sebenarnya menjadi terlalu tinggi. Metrik ini tidak membedakan antara hodler sejati dan alamat dorman, sehingga menghasilkan gambaran yang kurang akurat terhadap partisipasi dan keyakinan pasar.
Indikator yang lebih reliabel meliputi: MVRV ratio (market value to realized value), NVT ratio (network value to transaction volume), volume transaksi on-chain, jumlah alamat aktif, serta metrik inflow/outflow di exchange. Indikator ini memberikan wawasan komprehensif tentang siklus pasar dan perilaku pemegang aset.
Perilaku pemegang Bitcoin berpengaruh besar terhadap dinamika pasar. Pemegang jangka panjang mengurangi suplai yang beredar, menciptakan kelangkaan yang dapat mendongkrak harga. Pola akumulasi mereka saat pasar turun memperkuat lantai harga, sementara gelombang penjualan saat reli memicu koreksi. Pergerakan pemegang besar yang disebut aktivitas whale menyebabkan volatilitas harga yang signifikan. Secara keseluruhan, perilaku pemegang sabar mendukung pasar bullish, sedangkan penjualan panik mempercepat siklus bearish.
Analisis distribusi pemegang, volume transaksi, dan tren durasi kepemilikan, bukan hanya satu metrik. Pertimbangkan pergerakan whale, pola akumulasi, dan aktivitas on-chain. Metrik long-term holder saja menyesatkan; gabungkan berbagai titik data untuk memperoleh wawasan pasar yang komprehensif.











