

Keruntuhan xUSD sangat erat kaitannya dengan kebangkrutan Stream Finance. Stream Finance adalah protokol keuangan terdesentralisasi yang menerapkan strategi Delta netral berisiko tinggi, yang awalnya bertujuan menurunkan eksposur risiko dengan melakukan lindung nilai terhadap volatilitas pasar. Namun, pada kondisi pasar yang ekstrem, strategi yang semula terlihat kuat ini justru gagal berfungsi sebagaimana mestinya dan berujung pada kerugian keuangan yang besar.
Krisis ini tidak terjadi secara kebetulan, melainkan merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor risiko. Berikut adalah faktor-faktor utama di balik keruntuhan xUSD:
Pemanfaatan Berlebihan Model Leverage Berulang: Stream Finance menerapkan model leverage berulang yang sangat agresif, di mana melalui beragam lapisan pinjaman dan penjaminan ulang, simpanan awal sebesar 160 juta dolar AS diperbesar hingga mencapai total aset 520 juta dolar AS. Model ini memang dapat memberikan imbal hasil tinggi pada periode pasar stabil, namun leverage yang berlebihan sangat menurunkan ketahanan risiko protokol. Begitu terjadi fluktuasi pasar yang tajam, efek domino likuidasi bisa langsung terjadi.
Runtuhnya Kepercayaan Pasar Secara Total: Ketika informasi tentang hilangnya aset hingga 93 juta dolar AS yang dikelola oleh pihak eksternal terungkap, komunitas DeFi langsung dilanda kepanikan. Kepercayaan investor terhadap Stream Finance pun runtuh, sehingga banyak pengguna buru-buru menjual xUSD. Akibatnya, harga xUSD anjlok tajam dari nilai patok 1 dolar AS, bahkan sempat menyentuh 0,27 dolar AS, atau mengalami depegging lebih dari 70%.
Risiko Re-penjaminan Berlapis pada Aset Jaminan: Di dalam ekosistem DeFi, aset jaminan seperti xUSD, xBTC, dan xETH digunakan berulang kali pada berbagai protokol pinjaman dan staking. Meski praktik ini meningkatkan efisiensi modal, ia juga membentuk jaringan risiko yang saling bergantung sangat erat. Ketika xUSD mulai lepas patokan, nilai aset jaminan yang telah dijaminkan ulang ikut turun, sehingga memicu likuidasi dan gagal bayar berantai di seluruh pasar pinjaman.
Keruntuhan Stream Finance dan depegging harga xUSD menimbulkan dampak yang luas dan mendalam bagi seluruh ekosistem keuangan terdesentralisasi. Karena hubungan antarprotokol DeFi sangat erat, kegagalan satu platform bisa menjalar ke banyak proyek lain. Dalam krisis kali ini, protokol pinjaman utama seperti Euler, Silo, Morpho, dan Sonic terpapar utang macet hingga 285 juta dolar AS—angka yang menunjukkan betapa seriusnya transmisi risiko.
Berikut beberapa contoh protokol yang terdampak signifikan:
Krisis Stablecoin deUSD Elixir: Elixir sebagai kreditur utama Stream Finance meminjamkan dana sebesar 68 juta dolar AS. Ketika Stream Finance bermasalah, Elixir mendapati 65% dana cadangannya terkunci dalam utang tak tertagih. Demi mencegah risiko penarikan massal, Elixir terpaksa membekukan fungsi penukaran deUSD, menyebabkan banyak pengguna tidak dapat menukar stablecoin mereka ke aset dasar, sehingga memicu krisis likuiditas dan menurunkan kepercayaan pengguna secara signifikan.
Eksposur Risiko Besar TelosC: Protokol TelosC menghadapi eksposur risiko hingga 123,6 juta dolar AS, menjadikannya salah satu platform paling terdampak. Kasus ini menyoroti betapa eratnya keterkaitan antarprotokol DeFi—ketika satu simpul bermasalah, node lain dalam jaringan juga bisa terdampak dan memicu risiko sistemik.
Efek domino ini tidak hanya menyebabkan kerugian ekonomi secara langsung, namun yang lebih penting adalah menggoyahkan kepercayaan pasar terhadap keamanan dan keandalan protokol DeFi, serta berdampak negatif pada perkembangan industri dalam jangka panjang.
Banyak analis membandingkan krisis xUSD dengan krisis subprime pada krisis keuangan global 2008, dan memang terdapat kemiripan yang mengagumkan. Dalam keuangan tradisional, inti masalah krisis subprime adalah lembaga keuangan yang menggunakan struktur derivatif kompleks secara berlebihan, sehingga leverage risiko dikemas dan disebarkan ke seluruh sistem keuangan, hingga akhirnya menyebabkan keruntuhan sistemik.
Di ranah DeFi, pola serupa juga tampak jelas:
Leverage Berlebihan: Baik institusi keuangan tradisional pada 2008 maupun Stream Finance sama-sama menerapkan strategi leverage agresif demi mengejar imbal hasil lebih tinggi, namun praktik ini berujung bencana saat pasar berbalik arah.
Akumulasi Risiko Sistemik: Dalam krisis subprime, penggunaan luas Mortgage-Backed Securities (MBS) dan Collateralized Debt Obligations (CDO) membentuk jaringan risiko saling terkait. Demikian juga di DeFi, re-penjaminan aset berlapis dan pinjaman lintas protokol menciptakan struktur risiko sistemik serupa.
Kekurangan Transparansi: Salah satu pelajaran penting dari krisis 2008 adalah ketidaktransparanan produk keuangan yang menutupi risiko sebenarnya. Di DeFi, meski blockchain secara teori lebih transparan, struktur jaminan yang rumit dan operasi leverage tetap membuat investor awam sulit menilai risiko riil.
Kemiripan ini menunjukkan bahwa baik di keuangan tradisional maupun terdesentralisasi, leverage berlebihan, risiko tersembunyi, dan minimnya regulasi bisa memicu krisis sistemik.
Pada dinamika krisis xUSD, sistem oracle hardcoded yang digunakan di protokol pinjaman memperlihatkan kekurangan teknis yang serius. Oracle berfungsi sebagai penghubung antara protokol on-chain dan data dunia nyata off-chain, dan memegang peran sentral pada sistem DeFi, khususnya dalam menentukan nilai jaminan dan memicu mekanisme likuidasi.
Namun dalam krisis kali ini, banyak sistem oracle yang digunakan menghadapi masalah berikut:
Keterlambatan Pembaruan Harga: Sistem oracle hardcoded tidak mampu secara real-time mencerminkan perubahan harga xUSD yang sangat tajam, sehingga penilaian nilai jaminan tertinggal jauh dari kondisi pasar sebenarnya.
Kegagalan Mekanisme Likuidasi: Karena oracle terlambat menyesuaikan nilai jaminan, proses likuidasi yang seharusnya terjadi pun tertunda, sehingga utang macet terus menumpuk dan memperparah dampak krisis.
Kekurangan Mekanisme Darurat: Ketika pasar bergejolak ekstrem, sistem oracle yang ada kurang fleksibel dan tidak memiliki respons darurat yang memadai, sehingga gagal beradaptasi dengan dinamika pasar yang sangat cepat.
Situasi ini menyoroti kebutuhan mendesak ekosistem DeFi akan solusi oracle yang lebih dinamis, andal, dan tahan manipulasi. Sistem oracle masa depan harus tetap stabil di bawah kondisi pasar ekstrem dan mampu menyediakan data harga real-time yang akurat.
Keruntuhan xUSD menjadi peringatan keras bagi komunitas DeFi dan mengungkap banyak masalah struktural dalam ekosistem saat ini. Krisis ini menegaskan pentingnya reformasi fundamental dalam manajemen risiko, transparansi, dan mekanisme tata kelola. Berikut pelajaran utama yang dapat dipetik dari peristiwa ini:
Peningkatan Transparansi Secara Signifikan: Protokol DeFi harus memberikan pengungkapan informasi yang lebih jelas dan menyeluruh kepada pengguna, terutama terkait struktur jaminan, rasio leverage, dan alur dana. Investor harus dapat memahami eksposur risiko protokol secara nyata tanpa bingung oleh istilah teknis yang rumit. Standarisasi kerangka pengungkapan risiko akan memperkuat kepercayaan pasar dan mengurangi asimetri informasi.
Membangun Kerangka Manajemen Risiko yang Kuat: Pengembang protokol perlu menerapkan manajemen risiko yang lebih ketat, mencakup stress test rutin, analisis skenario, dan simulasi kondisi pasar ekstrem. Batas leverage yang masuk akal dan buffer risiko berlapis juga perlu disusun untuk mengantisipasi potensi guncangan pasar.
Audit Independen Pihak Ketiga: Audit berkala oleh pihak ketiga membantu mengidentifikasi kerentanan dan titik risiko dalam protokol, serta memastikan kepatuhan pada praktik terbaik industri. Audit tidak hanya meliputi kode smart contract, tapi juga model ekonomi, tata kelola, dan proses operasional.
Upgrade ke Sistem Oracle Dinamis: Protokol perlu mengadopsi solusi oracle yang lebih canggih, mampu memperbarui harga pasar secara real-time, serta otomatis memicu mekanisme perlindungan dalam kondisi ekstrem. Agregasi data multi-sumber dan jaringan oracle terdesentralisasi akan meningkatkan keandalan data serta ketahanan terhadap manipulasi.
Memperkuat Kolaborasi Antarprotokol: Dibutuhkan mekanisme komunikasi dan koordinasi antarprotokol DeFi untuk bersama-sama menghadapi risiko sistemik. Ketika satu protokol bermasalah, protokol terkait harus siap bertindak cepat agar risiko tidak menyebar.
Walaupun krisis xUSD mengungkap celah dan tantangan besar di bidang keuangan terdesentralisasi, insiden ini juga menjadi momentum berharga bagi komunitas DeFi untuk belajar dan berevolusi. Sejarah membuktikan bahwa inovasi keuangan tidak pernah mulus, dan setiap krisis menjadi katalisator kematangan industri.
Dengan menganalisis insiden ini secara serius dan menerapkan perbaikan yang efektif, ekosistem DeFi dapat menjadi lebih kuat dan resilien. Kuncinya adalah kesiapan para pelaku industri untuk mengambil pelajaran dan beraksi nyata dalam menuntaskan masalah yang telah teridentifikasi.
Prioritas pengembangan DeFi ke depan mencakup:
Keterkaitan antarprotokol DeFi adalah kekuatan sekaligus tantangan. Inovasi satu protokol dapat membawa manfaat ke seluruh ekosistem, namun kegagalan satu protokol juga bisa berdampak luas. Karena itu, kolaborasi dan inovasi adalah kunci pencegahan krisis serupa di masa depan.
Baik Anda pengembang protokol, investor, maupun penggemar DeFi, memahami kronologi dan pelajaran dari keruntuhan xUSD sangat penting untuk mengambil keputusan bijak di dunia keuangan terdesentralisasi yang semakin kompleks. Hanya melalui pembelajaran berkelanjutan, kehati-hatian, dan kerja sama, kita dapat membangun masa depan DeFi yang benar-benar aman, berkelanjutan, dan inklusif.
xUSD adalah stablecoin dalam ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) yang dipatok pada berbagai aset melalui mekanisme smart contract. Dalam DeFi, xUSD berfungsi sebagai alat pembayaran, penyedia likuiditas, serta jaminan pinjaman. Pengguna dapat mencetak xUSD dengan menjaminkan aset dan berpartisipasi dalam perdagangan, pinjaman, atau aktivitas lain di ekosistem DeFi.
Keruntuhan xUSD utamanya disebabkan kekurangan aset jaminan, pemicu likuidasi yang memicu reaksi berantai, serta runtuhnya kepercayaan investor. Risiko sistemik meliputi bug smart contract, mengeringnya likuiditas, dan leverage berlebihan, yang akhirnya membuat nilai aset turun drastis.
Keruntuhan xUSD menyebabkan pemegangnya mengalami kerugian besar. Nilai aset mereka anjlok drastis, banyak yang kehilangan sebagian besar atau seluruh investasinya. Keruntuhan ini dipicu oleh bug smart contract dan likuiditas yang mengering, sehingga harga token jatuh mendekati nol. Pemilik tidak dapat menukarkan aset sesuai nilai awal, sehingga terjadi kerugian ekonomi nyata.
Risiko sistemik DeFi mencakup bug smart contract, serangan flash loan, dan penurunan tajam harga aset jaminan. Kasus xUSD menunjukkan kerentanan stablecoin algoritmik, krisis likuiditas, serta risiko likuidasi berantai, yang memicu kepanikan pasar dan eksodus dana besar-besaran.
Celah pada mekanisme jaminan DeFi meliputi: keterlambatan likuidasi hingga kekurangan jaminan, kegagalan oracle yang memicu deviasi harga, dan bug smart contract yang menyebabkan dana keluar. Ketika nilai jaminan anjlok, sistem gagal melakukan likuidasi tepat waktu, mekanisme patokan stablecoin terhadap dolar AS gagal, hingga akhirnya terjadi depegging.
Pantau laporan audit smart contract, kedalaman likuiditas, kualitas aset jaminan, serta struktur tata kelola proyek. Evaluasi tingkat ketergantungan antarprotokol, waspadai leverage berlebihan dan risiko flash loan. Perhatikan transparansi tim pengembang, kecukupan dana cadangan, serta rekam jejak respons darurat. Tinjau data pasar dan indikator risiko secara berkala.
Keruntuhan xUSD mengungkap risiko sistemik DeFi dan memicu krisis kepercayaan pasar. Efek domino menyebabkan penurunan volume transaksi pada protokol terkait, merusak reputasi stablecoin, dan menurunkan minat risiko investor. Peristiwa ini mendorong audit smart contract dan manajemen risiko menjadi perhatian utama serta mempercepat penguatan tata kelola industri.
USDC dan USDT didukung institusi keuangan tradisional dengan cadangan dolar AS memadai, sedangkan DAI menerapkan sistem over-collateralization dan manajemen risiko yang lebih baik. xUSD kekurangan aset penjamin yang cukup, sehingga sistemnya sangat rentan.











