
Greater Fool Theory adalah pola pikir pasar di mana pembeli lebih mengutamakan ekspektasi dapat menjual aset kepada pihak lain dengan harga lebih tinggi, dibandingkan menilai nilai intrinsiknya. Dalam konteks ini, harga lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dan harapan penjualan ulang, bukan oleh hasil yang stabil atau arus kas fundamental.
Konsep ini sering disebut sebagai "greater fool theory" dan mirip dengan permainan "hot potato": selama Anda bisa mengalihkan aset sebelum "musik berhenti", Anda berpeluang meraih keuntungan. Namun, mereka yang masih memegang aset saat permintaan menghilang biasanya menanggung kerugian paling besar.
Di pasar kripto, perilaku ini sering muncul saat narasi tren melonjak atau pada aset yang aktif diperdagangkan namun sulit dinilai—seperti token baru atau token tanpa model profit yang jelas.
Greater Fool Theory sangat lazim di Web3 karena hambatan masuk yang rendah, perdagangan 24 jam nonstop, dan amplifikasi sosial yang cepat—faktor yang membuat pergerakan harga berbasis sentimen menjadi sangat jelas dan langsung. Basis partisipan yang besar dan asimetri informasi yang tinggi juga memperkuat fenomena ini.
Web3 adalah fase baru ekosistem internet dan aset kripto yang berbasis pada teknologi decentralized. Token dapat segera diterbitkan dan dicatatkan di liquidity pools, sementara media sosial dapat menyebarkan "narasi panas" dalam hitungan jam—menjadikan harga sangat sensitif terhadap sentimen dalam jangka pendek.
Dalam sejarah, banyak siklus pasar menunjukkan konsep baru menjadi viral dan memicu volatilitas besar dalam waktu singkat. Ketika hype mereda dan minat beli menurun, partisipan awal sering kesulitan keluar dari posisi secara menguntungkan.
Pada dasarnya, Greater Fool Theory digerakkan oleh "ekspektasi penjualan ulang" dan "momentum sentimen". Kenaikan harga bergantung pada arus masuk pembeli baru secara terus-menerus, bukan pada kemampuan aset menghasilkan imbal hasil berkelanjutan.
Faktor kunci di sini adalah "likuiditas"—kemudahan dan biaya jual-beli. Jika permintaan beli kuat dan penjual bersedia bertransaksi, likuiditas baik dan penjualan ulang mudah. Jika pembeli menghilang dan likuiditas menurun, harga bisa jatuh dengan cepat.
Urutan umumnya sebagai berikut:
Kedua strategi ini sangat berbeda fokusnya. Value investing menitikberatkan pada nilai intrinsik dan potensi pendapatan yang terukur, dengan logika berorientasi hasil jangka panjang. Greater Fool Theory lebih mengandalkan sentimen jangka pendek dan kemungkinan penjualan ulang cepat.
Value investor mencari faktor terukur seperti arus kas, sumber pendapatan yang jelas, dan struktur biaya transparan. Peserta Greater Fool lebih fokus pada hype narasi dan kecepatan jual ulang, tanpa memperhatikan fundamental jangka panjang atau jalur profitabilitas.
Contohnya, protokol dengan permintaan pengguna berkelanjutan dan model biaya transparan paling tepat dievaluasi dengan analisis fundamental. Sebaliknya, token baru tanpa sumber pendapatan yang jelas lebih rentan terhadap volatilitas berbasis Greater Fool.
Greater Fool Theory sangat sering terjadi pada NFT dan meme coin karena nilainya sulit dinilai dengan metode tradisional—sehingga harga sangat bergantung pada sentimen dan hype di media sosial.
NFT adalah sertifikat kepemilikan digital yang biasanya terkait dengan karya seni atau koleksi. Meme coin adalah token berbasis meme internet dan umumnya tidak memiliki model bisnis yang jelas. Kedua jenis aset ini sangat rentan terhadap fluktuasi tajam dalam waktu singkat saat topik menjadi viral.
Siklus umumnya: setelah minting atau pencatatan, hype mendorong lonjakan beli; jika pembeli baru berkurang, likuiditas menurun dan harga jatuh. Saat pasar turun, "slippage"—selisih antara harga yang diharapkan dan harga eksekusi—bisa meningkat, sehingga biaya jual menjadi lebih tinggi.
Anda dapat mengenali skenario Greater Fool dengan menganalisis pola harga-volume dan perilaku peserta—terutama dengan mencari "lonjakan volume tanpa dukungan fundamental" serta tanda seperti "perputaran cepat" atau "pertumbuhan kata kunci eksplosif".
Caranya:
Prinsip utama: jaga ukuran posisi kecil, lakukan entry/exit bertahap, gunakan stop-loss, dan minimalkan leverage. Trading sistematis membantu mengurangi risiko Anda menjadi pihak yang menanggung kerugian.
Langkah-langkah:
Greater Fool Theory menggambarkan pola perilaku pelaku pasar; bubble adalah harga yang melebihi nilai intrinsik; skema Ponzi adalah struktur ilegal yang membayar hasil menggunakan dana investor baru.
Bubble tidak selalu ilegal—bisa saja pasar yang overvalued. Skema Ponzi adalah penipuan struktural. Greater Fool Theory memang sering muncul saat bubble, tetapi tidak sama dengan skema Ponzi. Memahami perbedaannya membantu menilai karakteristik risiko dan strategi respons yang tepat.
Saat melihat harga naik pesat, tanyakan: Apakah ini didorong sentimen atau oleh peningkatan pendapatan/ penggunaan yang terverifikasi? Jika Anda tidak yakin, anggap ini skenario risiko tinggi.
Pendekatan utama: gunakan alat analitik berbasis data, tetapkan aturan pengendalian risiko, dan verifikasi detail proyek untuk mengurangi ketidakpastian. Jangan hanya melihat kenaikan harga—selalu perhatikan volume dan kedalaman pasar sebagai penopang riil.
Peringatan Risiko: Aset kripto sangat volatil dan memiliki risiko terkait fluktuasi harga, likuiditas, dan teknologi. Informasi di atas hanya untuk edukasi—bukan saran investasi.
Inti Greater Fool Theory adalah profit hanya bergantung pada menemukan pembeli berikutnya—bukan pada kemampuan aset menghasilkan nilai berkelanjutan. Dengan memahami bagaimana sentimen, likuiditas, dan penyebaran sosial memengaruhi harga—serta menetapkan aturan ukuran posisi dan stop-loss yang jelas sambil memanfaatkan alat platform—Anda dapat mengurangi risiko menjadi pihak yang menanggung kerugian. Dalam situasi tidak pasti, selalu tanyakan pada diri sendiri: Mengapa saya membeli? Kapan saya akan menjual? Bagaimana saya membatasi kerugian? Putuskan setelah menjawab pertanyaan ini.
Keduanya melibatkan aksi beli rendah, jual tinggi, namun fokusnya berbeda. Greater Fool Theory menyoroti pelaku yang sadar mengambil risiko demi peluang profit besar—pola pikir spekulatif proaktif; bagholder theory mengacu pada mereka yang secara pasif akhirnya memegang posisi rugi tanpa sadar risiko. Singkatnya: Greater Fool adalah “Saya tahu risikonya tapi yakin bisa menang,” bagholder adalah “Saya tidak tahu—akhirnya terjebak.”
Tanyakan tiga hal ini pada diri Anda:
Pasar kripto sangat volatil, diperdagangkan 24/7, dan memiliki asimetri informasi yang besar—semua ini memicu dinamika greater fool. Pemula sering tergoda lonjakan harga sambil mengabaikan risiko; tim proyek dan whale dapat memanfaatkan psikologi ini untuk siklus hype. Dibandingkan pasar saham tradisional, pelaku kripto umumnya kurang pengalaman—mereka lebih mudah terjebak trading berbasis emosi.
Tidak selalu—tergantung alasan Anda. Jika Anda menahan jangka panjang berdasarkan riset dan penilaian nilai fundamental, itu value investing. Jika Anda hanya menahan karena “katanya akan naik” atau “tidak mau jual rugi”, Anda mulai masuk wilayah greater fool. Tinjau alasan investasi Anda secara berkala; jika alasan sudah tak relevan tapi Anda tetap menahan, waspadalah.
Secara statistik, selalu ada pihak yang menanggung kerugian di setiap siklus spekulatif—namun siapa orangnya berubah-ubah. Pemenang di satu siklus bisa menjadi bagholder di siklus berikutnya. Inilah sebabnya trading tanpa strategi—bahkan di platform seperti Gate—sering berujung kerugian dalam jangka panjang. Menyadari Anda bisa jadi pihak tersebut adalah langkah penting dalam manajemen risiko.


