Di tengah bentrokan sengit antara etika AI dan kebutuhan militer, CEO Anthropic Dario Amodei baru-baru ini kembali memulai negosiasi dengan Pentagon AS, berusaha menyelamatkan kontrak kerjasama AI bernilai miliaran dolar yang berada di ambang kegagalan, sambil tetap menjaga “garis merah” perusahaan dan menghindari pengeluaran dari rantai pasokan pertahanan secara resmi.
(Sejarah singkat: CEO Anthropic mengecam keras: kontrak OpenAI dengan Pentagon semuanya bohong, Altman menyamar sebagai utusan perdamaian)
(Latar belakang tambahan: Trump ingin sepenuhnya melarang Anthropic! Menolak ubah Claude “pembunuh terbatas”, bahkan mendukung OpenAI yang sebelumnya dianggap musuh)
Daftar Isi
Toggle
Perusahaan kecerdasan buatan AS, Anthropic, CEO Dario Amodei, baru-baru ini kembali memulai negosiasi dengan Departemen Pertahanan AS (Pentagon), untuk melakukan upaya terakhir terkait kontrak penggunaan model AI Claude untuk keperluan militer. Langkah ini dilakukan setelah pekan lalu kedua pihak gagal mencapai kesepakatan dan Pentagon menempatkan Anthropic dalam daftar “risiko rantai pasokan”, bertujuan menghindari pengeluaran Anthropic dari kerjasama militer AS sekaligus mempertahankan prinsip etika inti mereka.
Sejak tahun lalu, Anthropic telah menandatangani kontrak percobaan senilai hingga 200 juta dolar dengan Pentagon, menjadikan Claude model AI canggih pertama yang diizinkan dipasang di jaringan rahasia. Namun, pemerintahan Trump kemudian menuntut perubahan ketentuan, menegaskan AI harus digunakan untuk “semua penggunaan yang sah” tanpa batasan.
Anthropic berpegang pada dua “garis merah”: melarang Claude digunakan untuk pengawasan massal terhadap warga AS dan melarang penggunaan untuk senjata mematikan yang sepenuhnya otonom (fully autonomous weapons, yaitu sistem yang dapat memilih dan menyerang target tanpa campur tangan manusia). Mereka berpendapat, penggunaan tersebut berpotensi mengancam nilai demokrasi dan teknologi AI saat ini belum cukup andal. Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengeluarkan ultimatum terakhir, menuntut kompromi dalam tenggat waktu tertentu, jika tidak, kontrak akan dihentikan dan akan diberlakukan berdasarkan regulasi terkait, yang menyebabkan negosiasi sempat gagal pekan lalu.
Menurut sumber yang mengetahui, Amodei saat ini sedang bernegosiasi langsung dengan Wakil Menteri Riset dan Teknik Pentagon, Emil Michael, untuk mencapai kesepakatan kompromi agar militer AS tetap dapat menggunakan Claude, sekaligus secara signifikan mengurangi risiko Anthropic masuk daftar hitam secara resmi.
Jika berhasil, kontrak baru ini dapat meredakan ketegangan dan mempengaruhi kompetisi industri AI — misalnya, OpenAI telah mencapai kesepakatan dengan Pentagon, tetapi juga sedang menyesuaikan ketentuan dengan menambahkan batasan serupa. Anthropic menegaskan mereka tetap terbuka untuk kerjasama, tetapi tidak akan mengorbankan prinsip utama mereka; jika tidak tercapai kesepakatan, perusahaan akan membantu transisi yang lancar ke penyedia lain agar operasi militer tidak terganggu.
Perselisihan ini menyoroti perang tarik-ulur antara perusahaan AI dan militer terkait etika, keamanan, dan keamanan nasional. Anthropic yang mengusung merek “AI bertanggung jawab” menolak untuk berkompromi tanpa syarat, mencerminkan kekhawatiran mendalam dari sebagian perusahaan Silicon Valley terhadap aplikasi militer AI; sementara Pentagon menekankan fleksibilitas di medan perang dan keunggulan teknologi.
Jika negosiasi berjalan lancar, ini bisa menjadi contoh baru penerapan AI dalam militer; sebaliknya, bisa memperparah perpecahan industri. Para pengamat memperkirakan, mungkin dalam waktu dekat akan muncul pernyataan resmi atau perkembangan baru terkait hal ini.