Kelemahan dolar AS, rebound emas—logika keuangan di baliknya
Beberapa minggu terakhir suasana pasar agak tegang. Indeks dolar melemah terus-menerus, sementara emas dan perak terus menembus level tinggi, di balik hubungan terbalik yang tampaknya sederhana ini, tersembunyi realitas ekonomi yang lebih kompleks.
Masalah utang pemerintah AS sudah di depan mata. Skala utang sebesar 38 triliun dolar sudah bukan rahasia lagi, yang penting adalah biaya bunga tahunan yang sudah melebihi anggaran pertahanan, apa artinya ini? Artinya ruang kebijakan Federal Reserve sedang secara kejam dikompresi. Peter Schiff dan pengamat pasar lainnya baru-baru ini sering mengeluarkan pernyataan, logika mereka sangat langsung: ketika utang pemerintah semakin banyak menyedot dana, sistem keuangan tradisional akan menghadapi tantangan.
Apa solusi yang diambil Federal Reserve? Mereka sudah menyuntikkan likuiditas sebesar 5 triliun dolar ke dalam sistem perbankan, dan ada rencana bantuan sebesar 420 miliar dolar yang menunggu di belakang. Dari tampilan luar, pasar saham AS tampaknya masih naik, tetapi jika diperhatikan secara detail kondisi cadangan kas bank-bank besar AS, masalah memang ada. Ini bukan isapan jempol, melainkan data neraca aset dan kewajiban yang nyata.
Yang paling menarik adalah pertarungan antara dolar dan emas. Federal Reserve pernah mencoba menekan harga emas melalui posisi short, lalu apa hasilnya? Permintaan investor global terhadap emas justru meningkat. Ekspektasi penurunan suku bunga akan menyebabkan depresiasi dolar, ini adalah pelajaran dasar ekonomi 101. Ketika likuiditas dolar dilepaskan, dana mengalir keluar—pasar saham AS dan Eropa sama-sama tertekan, futures Nasdaq sempat turun lebih dari 1%.
Pasar cryptocurrency juga tidak luput, berita tentang 260.000 orang yang mengalami margin call dalam satu hari memenuhi layar. Ini mencerminkan kerentanan trading leverage dalam volatilitas pasar, ketika volatilitas meningkat, risiko pun terkonsentrasi dan dilepaskan.
Kembali ke gambaran yang lebih besar: jika pencetakan uang terus dilakukan untuk mengatasi masalah utang, daya beli dolar akan semakin menurun, emas dan aset keras lainnya akan semakin menarik, tetapi pada saat yang sama, pendapatan riil bank-bank besar AS akan tertekan, membentuk siklus yang sulit dipatahkan. Ini bukan omong kosong, melainkan rangkaian logika yang pasti akan terjadi.
Pertanyaan menarik muncul—dalam lingkungan seperti ini, akankah emas menjadi aset paling stabil dalam putaran ini? Apakah posisi cadangan devisa internasional dolar akan terganggu? Bagaimana posisi cryptocurrency?
Bagi investor yang aktif di bursa seperti Gate, tren makro ini patut dipikirkan. Setiap gelombang pasar didukung oleh re-alokasi dana, kuncinya adalah memahami logika, bukan ikut-ikutan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
14 Suka
Hadiah
14
5
Posting ulang
Bagikan
Komentar
0/400
ContractExplorer
· 7jam yang lalu
26万人爆仓哈,杠杆 ini memang begitu
又开始印钞了,美元真的危在旦夕
黄金 ini memang stabil, tapi apakah kripto bisa bertahan
希夫说的没错,循环套住了
美联储在死撑,迟早要认输
Lihat AsliBalas0
MeaninglessGwei
· 01-21 04:40
Sekali lagi utang sebesar 38 triliun, sekali lagi pencetakan uang, sekali lagi emas... sungguh cukup, lebih baik langsung lihat grafik dan praktiknya.
#美国核心物价涨幅不及市场预估 $AXS $D $ETH
Kelemahan dolar AS, rebound emas—logika keuangan di baliknya
Beberapa minggu terakhir suasana pasar agak tegang. Indeks dolar melemah terus-menerus, sementara emas dan perak terus menembus level tinggi, di balik hubungan terbalik yang tampaknya sederhana ini, tersembunyi realitas ekonomi yang lebih kompleks.
Masalah utang pemerintah AS sudah di depan mata. Skala utang sebesar 38 triliun dolar sudah bukan rahasia lagi, yang penting adalah biaya bunga tahunan yang sudah melebihi anggaran pertahanan, apa artinya ini? Artinya ruang kebijakan Federal Reserve sedang secara kejam dikompresi. Peter Schiff dan pengamat pasar lainnya baru-baru ini sering mengeluarkan pernyataan, logika mereka sangat langsung: ketika utang pemerintah semakin banyak menyedot dana, sistem keuangan tradisional akan menghadapi tantangan.
Apa solusi yang diambil Federal Reserve? Mereka sudah menyuntikkan likuiditas sebesar 5 triliun dolar ke dalam sistem perbankan, dan ada rencana bantuan sebesar 420 miliar dolar yang menunggu di belakang. Dari tampilan luar, pasar saham AS tampaknya masih naik, tetapi jika diperhatikan secara detail kondisi cadangan kas bank-bank besar AS, masalah memang ada. Ini bukan isapan jempol, melainkan data neraca aset dan kewajiban yang nyata.
Yang paling menarik adalah pertarungan antara dolar dan emas. Federal Reserve pernah mencoba menekan harga emas melalui posisi short, lalu apa hasilnya? Permintaan investor global terhadap emas justru meningkat. Ekspektasi penurunan suku bunga akan menyebabkan depresiasi dolar, ini adalah pelajaran dasar ekonomi 101. Ketika likuiditas dolar dilepaskan, dana mengalir keluar—pasar saham AS dan Eropa sama-sama tertekan, futures Nasdaq sempat turun lebih dari 1%.
Pasar cryptocurrency juga tidak luput, berita tentang 260.000 orang yang mengalami margin call dalam satu hari memenuhi layar. Ini mencerminkan kerentanan trading leverage dalam volatilitas pasar, ketika volatilitas meningkat, risiko pun terkonsentrasi dan dilepaskan.
Kembali ke gambaran yang lebih besar: jika pencetakan uang terus dilakukan untuk mengatasi masalah utang, daya beli dolar akan semakin menurun, emas dan aset keras lainnya akan semakin menarik, tetapi pada saat yang sama, pendapatan riil bank-bank besar AS akan tertekan, membentuk siklus yang sulit dipatahkan. Ini bukan omong kosong, melainkan rangkaian logika yang pasti akan terjadi.
Pertanyaan menarik muncul—dalam lingkungan seperti ini, akankah emas menjadi aset paling stabil dalam putaran ini? Apakah posisi cadangan devisa internasional dolar akan terganggu? Bagaimana posisi cryptocurrency?
Bagi investor yang aktif di bursa seperti Gate, tren makro ini patut dipikirkan. Setiap gelombang pasar didukung oleh re-alokasi dana, kuncinya adalah memahami logika, bukan ikut-ikutan.