#避险需求与地缘政治事件 Melihat situasi Venezuela memanas, reaksi pertama saya adalah mengingat kembali sejarah tahun 2016. Saat itu krisis geopolitik sering terjadi, dari Brexit hingga terpilihnya Trump, setiap kali ada yang meramalkan pasar kripto akan runtuh, tetapi Bitcoin justru menemukan posisi sebagai aset safe haven di tengah badai.
Kali ini berbeda, reaksi pasar memang terbatas—BTC di sekitar 90.000 USD tidak mengalami penurunan panik, malah cepat memulihkan posisi. Ini mengingatkan saya pada situasi saat peristiwa black swan tahun 2020, ketika pasar sempat panic sell, tetapi investor institusi sejati tidak pernah meninggalkan pasar. Perbedaannya adalah, saat itu kita masih memperdebatkan apakah Bitcoin adalah aset safe haven, sekarang data berbicara sendiri.
Yang menarik, analis menyebutkan pentingnya menjaga support di garis rata-rata 21 hari, yang mengingatkan saya pada setiap support teknikal serupa selama sepuluh tahun terakhir. Tapi yang lebih saya perhatikan adalah logikanya—di tengah guncangan geopolitik, biasanya aset risiko akan jatuh tajam, tetapi BTC tidak. Ini menunjukkan bahwa pasar telah matang dalam mengenali cryptocurrency sebagai aset alternatif, tidak lagi sekadar instrumen spekulasi.
Pertemuan OPEC hari Minggu mungkin menjadi faktor yang benar-benar menentukan. Dari fluktuasi harga minyak, pengaruh geopolitik tampak lebih langsung, dan pasar kripto mungkin sedang menunggu. Tapi yang saya rasakan adalah, ketahanan kali ini bukan kebetulan, melainkan hasil evolusi dari kebutuhan safe haven selama sepuluh tahun terakhir.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
#避险需求与地缘政治事件 Melihat situasi Venezuela memanas, reaksi pertama saya adalah mengingat kembali sejarah tahun 2016. Saat itu krisis geopolitik sering terjadi, dari Brexit hingga terpilihnya Trump, setiap kali ada yang meramalkan pasar kripto akan runtuh, tetapi Bitcoin justru menemukan posisi sebagai aset safe haven di tengah badai.
Kali ini berbeda, reaksi pasar memang terbatas—BTC di sekitar 90.000 USD tidak mengalami penurunan panik, malah cepat memulihkan posisi. Ini mengingatkan saya pada situasi saat peristiwa black swan tahun 2020, ketika pasar sempat panic sell, tetapi investor institusi sejati tidak pernah meninggalkan pasar. Perbedaannya adalah, saat itu kita masih memperdebatkan apakah Bitcoin adalah aset safe haven, sekarang data berbicara sendiri.
Yang menarik, analis menyebutkan pentingnya menjaga support di garis rata-rata 21 hari, yang mengingatkan saya pada setiap support teknikal serupa selama sepuluh tahun terakhir. Tapi yang lebih saya perhatikan adalah logikanya—di tengah guncangan geopolitik, biasanya aset risiko akan jatuh tajam, tetapi BTC tidak. Ini menunjukkan bahwa pasar telah matang dalam mengenali cryptocurrency sebagai aset alternatif, tidak lagi sekadar instrumen spekulasi.
Pertemuan OPEC hari Minggu mungkin menjadi faktor yang benar-benar menentukan. Dari fluktuasi harga minyak, pengaruh geopolitik tampak lebih langsung, dan pasar kripto mungkin sedang menunggu. Tapi yang saya rasakan adalah, ketahanan kali ini bukan kebetulan, melainkan hasil evolusi dari kebutuhan safe haven selama sepuluh tahun terakhir.