Seiring tatanan keuangan dunia yang sedang mengalami perombakan secara cepat, perhatian terhadap logam mulia, terutama harga perak, meningkat pesat. Laporan terkenal dari Incrementum, “In Gold We Trust”, versi terbaru menunjukkan bahwa dalam strategi investasi hingga 2030, “performance gold” yang mencakup perak akan menempati posisi penting dalam portofolio. Dari laporan ini, mari kita telusuri alasan dan strategi mengapa harga perak menarik perhatian investor menjelang 2030.
Latar belakang perombakan sistem keuangan yang mendorong kenaikan harga perak
Ketidakstabilan dominasi dolar, pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral, dan meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong kenaikan seluruh logam mulia, terutama harga perak. Proses perombakan ini merupakan titik balik paling penting dalam sistem keuangan sejak runtuhnya perjanjian Bretton Woods pada tahun 1970-an.
Seperti yang ditunjukkan oleh makalah Zoltan Pozsar “Bretton Woods III”, dunia sedang menuju tatanan mata uang baru yang didukung emas. Dalam proses ini, seluruh logam mulia termasuk perak diposisikan sebagai “pemulihan kepercayaan”. Sementara negara-negara maju utama seperti AS, Jerman, dan Prancis menyimpan lebih dari 70% cadangan devisa dalam bentuk emas, perhatian terhadap aset logam mulia semi-mulia seperti perak juga meningkat secara bersamaan.
Perilaku bank sentral sangat menarik perhatian. Dalam tiga tahun terakhir, bank sentral dari berbagai negara terus membeli lebih dari 1.000 ton emas per tahun, mencapai level tertinggi yang disebut “hat-trick”. Permintaan ini didorong oleh keinginan akan aset yang dapat dipercaya sebagai pengganti dolar AS, dan kenaikan harga perak merupakan bagian dari tren besar ini.
Pasar bullish hingga 2030: posisi saat ini dalam partisipasi investor umum
Berdasarkan teori Dow, pasar bullish melewati tiga tahap: tahap akumulasi, tahap partisipasi investor umum, dan tahap euforia. Saat ini, pasar emas dan perak berada di tahap kedua, yaitu “tahap partisipasi investor umum”, yang merupakan analisis penting dari laporan Incrementum.
Pada tahap ini, media melaporkan secara optimis, minat spekulatif meningkat pesat, produk keuangan baru diluncurkan secara masif, dan analis menaikkan target harga secara berurutan. Rentang waktu hingga 2030 diperkirakan akan menjadi periode di mana partisipasi ini semakin mendalam, dengan lebih banyak institusi dan investor umum masuk ke pasar ini.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%. Sementara itu, daya beli riil dolar AS menurun hampir 50%. Ketidaksesuaian ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung inflasi termasuk perak masih berada di tahap awal. Bahkan saat harga emas menembus level 3.000 dolar, secara historis pasar bullish secara keseluruhan masih menunjukkan kenaikan yang perlahan, dan ada potensi kenaikan lebih lanjut menuju 2030.
Tekanan kenaikan harga perak secara struktural akibat perluasan penawaran uang
Untuk memahami kenaikan harga perak, perubahan kebijakan moneter sangat penting. Di negara-negara G20, penawaran uang (M2) meningkat rata-rata 7,4% per tahun, tingkat yang secara historis tidak biasa.
Contohnya di AS, sejak 1900, populasi meningkat 4,5 kali lipat, sementara penawaran uang M2 membengkak hingga 2.333 kali lipat. Secara per kapita, peningkatannya lebih dari 500 kali lipat. Ketidakseimbangan ekspansi ini menunjukkan bahwa risiko inflasi sudah sangat melekat dalam pasar saat ini, dan menjadi faktor struktural yang mendorong permintaan terhadap aset komoditas termasuk perak.
Mengutip buku Larry Lepard “The Big Print”, laporan Incrementum menyatakan bahwa peningkatan penawaran uang telah memasuki tahap percepatan baru. Dalam kondisi ini, harga perak berpotensi tidak hanya sebagai instrumen spekulasi, tetapi juga sebagai alat lindung inflasi yang penting.
Perak sebagai performance gold: perkembangan strategi investasi baru
Laporan Incrementum mengusulkan strategi investasi baru yang membedakan emas dan perak. Alih-alih klasifikasi sederhana “emas sebagai aset aman, perak sebagai aset spekulatif”, perak diposisikan sebagai “performance gold”.
Kategori ini mencakup selain perak, saham pertambangan dan komoditas. Jika meninjau kinerja dari tahun 1970-an dan 2000-an, terlihat bahwa perak dan saham pertambangan memiliki potensi rebound besar dalam 10 tahun terakhir. Tren pasar menunjukkan bahwa biasanya emas memimpin tren, diikuti oleh perak, saham pertambangan, dan komoditas secara bergantian.
Menuju 2030, ada potensi harga perak menjadi pemain utama dalam reli ini. Analisis data dari lingkungan stagflasi menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tahunan riil perak mencapai 28,6%, jauh melampaui 7,7% dari emas. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi perlambatan ekonomi dan inflasi, harga perak cenderung menunjukkan performa yang sangat baik.
Optimalisasi portofolio: pertimbangan pengaturan 60/40 yang baru
Pengaturan portofolio konvensional 60% saham dan 40% obligasi tidak lagi dianggap optimal dalam kondisi keuangan saat ini, menurut laporan Incrementum. Sebagai alternatif, disarankan alokasi aset sebagai berikut:
Dalam struktur baru ini, performance gold yang mencakup perak menjadi bagian penting dengan porsi 10%. Ketidakpercayaan terhadap obligasi dan aset aman tradisional mendorong perak untuk tidak lagi sekadar aset pelengkap, tetapi sebagai elemen penting yang mendukung portofolio baik dari sisi pertahanan maupun pertumbuhan.
Pengaturan ini mencerminkan perubahan strategi investasi jangka menengah menjelang 2030. Terutama, pembelian besar-besaran perak oleh bank sentral Asia diperkirakan akan mendukung harga perak dari sisi permintaan fundamental.
Risiko jangka pendek dan potensi kenaikan jangka panjang
Namun, laporan Incrementum tidak hanya menyajikan pandangan optimis. Mereka secara tegas menunjukkan adanya beberapa risiko jangka pendek.
Permintaan dari bank sentral bisa menurun secara tak terduga dari rata-rata kuartalan saat ini sebesar 250 ton. Jika premi geopolitik menurun secara cepat, harga perak bisa turun ke sekitar 2.800 dolar dalam waktu singkat. Posisi spekulan juga bisa berkurang secara cepat, menyebabkan koreksi sekitar 10-20% dalam jangka pendek.
Namun, koreksi ini dianggap sebagai bagian dari proses stabilisasi pasar bullish dan tidak mengancam tren kenaikan jangka panjang. Data historis menunjukkan bahwa dalam pasar bullish, koreksi 20-40% adalah hal yang umum. Karena perak cenderung mengalami koreksi lebih besar dari emas, investor perlu menjaga strategi manajemen risiko secara konsisten.
Strategi investasi menuju 2030: pendekatan terpadu perak dan Bitcoin
Dalam kerangka waktu hingga 2030, kenaikan harga perak harus dipahami dalam konteks sinergi dengan aset baru seperti Bitcoin, bukan sebagai gerakan tunggal.
Laporan Incrementum menyiratkan bahwa Bitcoin bisa mencapai 50% dari kapitalisasi pasar emas pada akhir 2030, yang berarti harga Bitcoin sekitar 900.000 dolar. Jika target harga emas konservatif sekitar 4.800 dolar, maka skenario kenaikan saling melengkapi antara emas, Bitcoin, dan logam mulia lainnya termasuk perak.
Adanya beberapa pesaing di bidang aset non-inflasi sebenarnya menguntungkan investor. Seperti moto “kompetisi merangsang bisnis”, kombinasi emas, perak, dan Bitcoin secara risiko-imbalan berpotensi menawarkan karakteristik risiko dan imbal hasil yang lebih baik daripada memegang masing-masing secara terpisah.
Kesimpulan: perkembangan strategi alokasi aset dan harga perak menjelang 2030
Laporan “In Gold We Trust” dari Incrementum menunjukkan bahwa dalam kerangka waktu hingga 2030, logam mulia termasuk perak akan bertransformasi dari “pendukung portofolio” menjadi “aset utama yang melindungi dan mengakselerasi pertumbuhan”.
Perombakan keuangan global, melemahnya dominasi dolar, permintaan struktural dari bank sentral, dan meningkatnya risiko inflasi membangun fondasi kenaikan harga perak menuju 2030.
Emas akan memberikan stabilitas pertahanan, sementara performance gold termasuk perak menawarkan potensi pertumbuhan agresif. Pendekatan berlapis ini dianggap sebagai strategi alokasi aset optimal dalam lima tahun ke depan. Dengan kepercayaan terhadap sistem moneter yang menurun dan terbentuknya tatanan keuangan baru, harga perak tidak lagi sekadar investasi komoditas, tetapi mulai menempati posisi strategis sebagai aset inti dalam portofolio.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Harga perak dan alokasi aset tahun 2030: Peluang investasi dari laporan Incrementum
Seiring tatanan keuangan dunia yang sedang mengalami perombakan secara cepat, perhatian terhadap logam mulia, terutama harga perak, meningkat pesat. Laporan terkenal dari Incrementum, “In Gold We Trust”, versi terbaru menunjukkan bahwa dalam strategi investasi hingga 2030, “performance gold” yang mencakup perak akan menempati posisi penting dalam portofolio. Dari laporan ini, mari kita telusuri alasan dan strategi mengapa harga perak menarik perhatian investor menjelang 2030.
Latar belakang perombakan sistem keuangan yang mendorong kenaikan harga perak
Ketidakstabilan dominasi dolar, pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral, dan meningkatnya ketegangan geopolitik mendorong kenaikan seluruh logam mulia, terutama harga perak. Proses perombakan ini merupakan titik balik paling penting dalam sistem keuangan sejak runtuhnya perjanjian Bretton Woods pada tahun 1970-an.
Seperti yang ditunjukkan oleh makalah Zoltan Pozsar “Bretton Woods III”, dunia sedang menuju tatanan mata uang baru yang didukung emas. Dalam proses ini, seluruh logam mulia termasuk perak diposisikan sebagai “pemulihan kepercayaan”. Sementara negara-negara maju utama seperti AS, Jerman, dan Prancis menyimpan lebih dari 70% cadangan devisa dalam bentuk emas, perhatian terhadap aset logam mulia semi-mulia seperti perak juga meningkat secara bersamaan.
Perilaku bank sentral sangat menarik perhatian. Dalam tiga tahun terakhir, bank sentral dari berbagai negara terus membeli lebih dari 1.000 ton emas per tahun, mencapai level tertinggi yang disebut “hat-trick”. Permintaan ini didorong oleh keinginan akan aset yang dapat dipercaya sebagai pengganti dolar AS, dan kenaikan harga perak merupakan bagian dari tren besar ini.
Pasar bullish hingga 2030: posisi saat ini dalam partisipasi investor umum
Berdasarkan teori Dow, pasar bullish melewati tiga tahap: tahap akumulasi, tahap partisipasi investor umum, dan tahap euforia. Saat ini, pasar emas dan perak berada di tahap kedua, yaitu “tahap partisipasi investor umum”, yang merupakan analisis penting dari laporan Incrementum.
Pada tahap ini, media melaporkan secara optimis, minat spekulatif meningkat pesat, produk keuangan baru diluncurkan secara masif, dan analis menaikkan target harga secara berurutan. Rentang waktu hingga 2030 diperkirakan akan menjadi periode di mana partisipasi ini semakin mendalam, dengan lebih banyak institusi dan investor umum masuk ke pasar ini.
Dalam lima tahun terakhir, harga emas naik 92%. Sementara itu, daya beli riil dolar AS menurun hampir 50%. Ketidaksesuaian ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset lindung inflasi termasuk perak masih berada di tahap awal. Bahkan saat harga emas menembus level 3.000 dolar, secara historis pasar bullish secara keseluruhan masih menunjukkan kenaikan yang perlahan, dan ada potensi kenaikan lebih lanjut menuju 2030.
Tekanan kenaikan harga perak secara struktural akibat perluasan penawaran uang
Untuk memahami kenaikan harga perak, perubahan kebijakan moneter sangat penting. Di negara-negara G20, penawaran uang (M2) meningkat rata-rata 7,4% per tahun, tingkat yang secara historis tidak biasa.
Contohnya di AS, sejak 1900, populasi meningkat 4,5 kali lipat, sementara penawaran uang M2 membengkak hingga 2.333 kali lipat. Secara per kapita, peningkatannya lebih dari 500 kali lipat. Ketidakseimbangan ekspansi ini menunjukkan bahwa risiko inflasi sudah sangat melekat dalam pasar saat ini, dan menjadi faktor struktural yang mendorong permintaan terhadap aset komoditas termasuk perak.
Mengutip buku Larry Lepard “The Big Print”, laporan Incrementum menyatakan bahwa peningkatan penawaran uang telah memasuki tahap percepatan baru. Dalam kondisi ini, harga perak berpotensi tidak hanya sebagai instrumen spekulasi, tetapi juga sebagai alat lindung inflasi yang penting.
Perak sebagai performance gold: perkembangan strategi investasi baru
Laporan Incrementum mengusulkan strategi investasi baru yang membedakan emas dan perak. Alih-alih klasifikasi sederhana “emas sebagai aset aman, perak sebagai aset spekulatif”, perak diposisikan sebagai “performance gold”.
Kategori ini mencakup selain perak, saham pertambangan dan komoditas. Jika meninjau kinerja dari tahun 1970-an dan 2000-an, terlihat bahwa perak dan saham pertambangan memiliki potensi rebound besar dalam 10 tahun terakhir. Tren pasar menunjukkan bahwa biasanya emas memimpin tren, diikuti oleh perak, saham pertambangan, dan komoditas secara bergantian.
Menuju 2030, ada potensi harga perak menjadi pemain utama dalam reli ini. Analisis data dari lingkungan stagflasi menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan tahunan riil perak mencapai 28,6%, jauh melampaui 7,7% dari emas. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi perlambatan ekonomi dan inflasi, harga perak cenderung menunjukkan performa yang sangat baik.
Optimalisasi portofolio: pertimbangan pengaturan 60/40 yang baru
Pengaturan portofolio konvensional 60% saham dan 40% obligasi tidak lagi dianggap optimal dalam kondisi keuangan saat ini, menurut laporan Incrementum. Sebagai alternatif, disarankan alokasi aset sebagai berikut:
Dalam struktur baru ini, performance gold yang mencakup perak menjadi bagian penting dengan porsi 10%. Ketidakpercayaan terhadap obligasi dan aset aman tradisional mendorong perak untuk tidak lagi sekadar aset pelengkap, tetapi sebagai elemen penting yang mendukung portofolio baik dari sisi pertahanan maupun pertumbuhan.
Pengaturan ini mencerminkan perubahan strategi investasi jangka menengah menjelang 2030. Terutama, pembelian besar-besaran perak oleh bank sentral Asia diperkirakan akan mendukung harga perak dari sisi permintaan fundamental.
Risiko jangka pendek dan potensi kenaikan jangka panjang
Namun, laporan Incrementum tidak hanya menyajikan pandangan optimis. Mereka secara tegas menunjukkan adanya beberapa risiko jangka pendek.
Permintaan dari bank sentral bisa menurun secara tak terduga dari rata-rata kuartalan saat ini sebesar 250 ton. Jika premi geopolitik menurun secara cepat, harga perak bisa turun ke sekitar 2.800 dolar dalam waktu singkat. Posisi spekulan juga bisa berkurang secara cepat, menyebabkan koreksi sekitar 10-20% dalam jangka pendek.
Namun, koreksi ini dianggap sebagai bagian dari proses stabilisasi pasar bullish dan tidak mengancam tren kenaikan jangka panjang. Data historis menunjukkan bahwa dalam pasar bullish, koreksi 20-40% adalah hal yang umum. Karena perak cenderung mengalami koreksi lebih besar dari emas, investor perlu menjaga strategi manajemen risiko secara konsisten.
Strategi investasi menuju 2030: pendekatan terpadu perak dan Bitcoin
Dalam kerangka waktu hingga 2030, kenaikan harga perak harus dipahami dalam konteks sinergi dengan aset baru seperti Bitcoin, bukan sebagai gerakan tunggal.
Laporan Incrementum menyiratkan bahwa Bitcoin bisa mencapai 50% dari kapitalisasi pasar emas pada akhir 2030, yang berarti harga Bitcoin sekitar 900.000 dolar. Jika target harga emas konservatif sekitar 4.800 dolar, maka skenario kenaikan saling melengkapi antara emas, Bitcoin, dan logam mulia lainnya termasuk perak.
Adanya beberapa pesaing di bidang aset non-inflasi sebenarnya menguntungkan investor. Seperti moto “kompetisi merangsang bisnis”, kombinasi emas, perak, dan Bitcoin secara risiko-imbalan berpotensi menawarkan karakteristik risiko dan imbal hasil yang lebih baik daripada memegang masing-masing secara terpisah.
Kesimpulan: perkembangan strategi alokasi aset dan harga perak menjelang 2030
Laporan “In Gold We Trust” dari Incrementum menunjukkan bahwa dalam kerangka waktu hingga 2030, logam mulia termasuk perak akan bertransformasi dari “pendukung portofolio” menjadi “aset utama yang melindungi dan mengakselerasi pertumbuhan”.
Perombakan keuangan global, melemahnya dominasi dolar, permintaan struktural dari bank sentral, dan meningkatnya risiko inflasi membangun fondasi kenaikan harga perak menuju 2030.
Emas akan memberikan stabilitas pertahanan, sementara performance gold termasuk perak menawarkan potensi pertumbuhan agresif. Pendekatan berlapis ini dianggap sebagai strategi alokasi aset optimal dalam lima tahun ke depan. Dengan kepercayaan terhadap sistem moneter yang menurun dan terbentuknya tatanan keuangan baru, harga perak tidak lagi sekadar investasi komoditas, tetapi mulai menempati posisi strategis sebagai aset inti dalam portofolio.