Sejak tahun 2024, bayang-bayang resesi ekonomi Amerika Serikat semakin jelas terlihat. Berdasarkan berbagai survei dan data pasar, kepercayaan konsumen sedang menurun secara drastis, ekspektasi pengangguran mencapai titik tertinggi sejak 2008, dan ekspektasi inflasi bahkan mencapai rekor tertinggi dalam 30 tahun. Di tengah gelombang ini, resesi ekonomi AS menjadi fokus kekhawatiran bersama pasar dan investor.
Sentimen Pesimis Konsumen Mendekati Level Tertinggi Modern
Pandangan konsumen AS terhadap prospek ekonomi telah berbalik menjadi sangat pesimis. Menurut survei Harris Poll pada tahun 2024, 56% warga AS percaya bahwa negara sedang mengalami resesi, dan 49% memperkirakan indeks S&P 500 akan turun. Namun, saat itu pertumbuhan GDP AS menunjukkan “kuat”, dan indeks S&P 500 justru naik 12% dalam tahun tersebut—perbedaan besar antara persepsi dan kenyataan ini mencerminkan ketidaksesuaian serius dalam suasana hati konsumen.
Memasuki tahun 2025, suasana pesimis ini menjadi semakin berat. Ekspektasi pendapatan rumah tangga dalam 12 bulan ke depan telah menurun secara signifikan, mencapai level terendah sejak penguncian ekonomi global tahun 2020. Menurut survei terbaru, 37% warga AS percaya negara sedang mengalami kemerosotan, 31% tidak yakin, dan hanya 32% yang optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi psikologis terhadap resesi AS telah menyebar secara luas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 60% konsumen AS memperkirakan kondisi bisnis akan memburuk dalam 12 bulan ke depan. Bahkan saat krisis pasar perumahan tahun 2008 paling parah, indikator ini hanya mencapai 42%. Ini menunjukkan bahwa psikologi pesimis saat ini telah mencapai level tertinggi dalam sejarah modern.
Ekspektasi Inflasi Melonjak Meningkatkan Kekhawatiran Resesi
Tekanan inflasi yang terus berlanjut semakin memperburuk suasana hati pesimis konsumen. Ekspektasi inflasi dalam 12 bulan ke depan di AS diperkirakan akan naik menjadi 6,0%, tertinggi sejak 2023. Lebih menarik lagi, ekspektasi inflasi jangka panjang juga meningkat—konsumen memperkirakan tingkat inflasi tahunan selama 5 hingga 10 tahun ke depan mencapai 3,9%, mencatat rekor tertinggi dalam 30 tahun.
Seiring dengan peluncuran kebijakan tarif besar-besaran oleh pemerintahan Trump, ketidakpastian ekonomi meningkat, dan ekspektasi inflasi pun melonjak. Ekspektasi inflasi jangka panjang di AS secara resmi mencapai level tertinggi sejak 1993. Ini berarti konsumen memperkirakan ekonomi akan mengalami dampak inflasi yang terkumpul selama bertahun-tahun, dan daya beli mereka akan terus terkikis. Dalam konteks ini, persepsi risiko resesi AS terus meningkat.
Pasar dan Lembaga Bersamaan Melihat Ekonomi dengan Pandangan Pesimis
Sentimen pesimis konsumen telah menyebar ke pasar keuangan. Sejak Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga pada September 2024, indeks S&P 500 telah turun 2%. Data historis menunjukkan bahwa selama resesi ekonomi, penurunan suku bunga biasanya menyebabkan indeks S&P 500 turun 6% dalam 6 bulan dan 10% dalam 12 bulan.
Bukan hanya konsumen umum yang pesimis terhadap ekonomi. Menurut survei terbaru CNBC (meliputi manajer dana, strategis, dan analis), suasana hati institusi investasi juga secara jelas berbalik menjadi pesimis. Probabilitas resesi meningkat dari 23% awal tahun menjadi 36%, kenaikan sebesar 56%. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran institusi profesional terhadap resesi ekonomi AS telah meningkat secara signifikan.
Dalam survei terbaru dari The Economist dan YouGov, pandangan investor terhadap prospek ekonomi menjadi lebih berhati-hati. Pasar memperkirakan penurunan suku bunga secara besar-besaran karena para investor dan konsumen telah mencapai konsensus: risiko resesi AS sedang meningkat.
PHK di Kalangan Profesional, Pasar Tenaga Kerja Mengalami Tekanan
Yang mengejutkan, dampak perlambatan ekonomi kali ini tidak lagi terbatas pada industri berwarna biru. Sejak Mei 2023, sektor jasa profesional dan bisnis di AS telah mengurangi 248.000 posisi pekerjaan. Lebih mengkhawatirkan lagi, jumlah tenaga kerja di industri ini telah menurun selama 17 bulan berturut-turut, mencatat periode penurunan terpanjang sejak 2008.
Ini berarti posisi kerja di kalangan profesional juga mulai berkurang, dan pasar tenaga kerja sedang melemah secara menyeluruh. Ekspektasi pengangguran yang meningkat dan pengurangan posisi kerja secara nyata membentuk umpan balik negatif, semakin memperburuk psikologi pesimis ekonomi konsumen, menciptakan siklus yang berkelanjutan.
Perlindungan Aset Meningkat, Harga Emas Melonjak
Di tengah meningkatnya risiko resesi AS, kekhawatiran krisis utang, inflasi tinggi, dan ketidakpastian perdagangan, harga emas menunjukkan kenaikan yang signifikan. Kenaikan aset safe haven ini mencerminkan kekhawatiran mendalam pasar terhadap prospek ekonomi.
Secara keseluruhan, keruntuhan kepercayaan konsumen, meningkatnya ekspektasi pengangguran, melonjaknya ekspektasi inflasi, serta sentimen pesimis pasar dan lembaga investasi semuanya mengarah ke satu arah: risiko resesi ekonomi AS sedang meningkat. Perkembangan ekonomi ke depan akan menjadi fokus perhatian pasar.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Tanda bahaya resesi ekonomi AS muncul: kepercayaan konsumen terpuruk
Sejak tahun 2024, bayang-bayang resesi ekonomi Amerika Serikat semakin jelas terlihat. Berdasarkan berbagai survei dan data pasar, kepercayaan konsumen sedang menurun secara drastis, ekspektasi pengangguran mencapai titik tertinggi sejak 2008, dan ekspektasi inflasi bahkan mencapai rekor tertinggi dalam 30 tahun. Di tengah gelombang ini, resesi ekonomi AS menjadi fokus kekhawatiran bersama pasar dan investor.
Sentimen Pesimis Konsumen Mendekati Level Tertinggi Modern
Pandangan konsumen AS terhadap prospek ekonomi telah berbalik menjadi sangat pesimis. Menurut survei Harris Poll pada tahun 2024, 56% warga AS percaya bahwa negara sedang mengalami resesi, dan 49% memperkirakan indeks S&P 500 akan turun. Namun, saat itu pertumbuhan GDP AS menunjukkan “kuat”, dan indeks S&P 500 justru naik 12% dalam tahun tersebut—perbedaan besar antara persepsi dan kenyataan ini mencerminkan ketidaksesuaian serius dalam suasana hati konsumen.
Memasuki tahun 2025, suasana pesimis ini menjadi semakin berat. Ekspektasi pendapatan rumah tangga dalam 12 bulan ke depan telah menurun secara signifikan, mencapai level terendah sejak penguncian ekonomi global tahun 2020. Menurut survei terbaru, 37% warga AS percaya negara sedang mengalami kemerosotan, 31% tidak yakin, dan hanya 32% yang optimis terhadap kondisi ekonomi saat ini. Ini menunjukkan bahwa ekspektasi psikologis terhadap resesi AS telah menyebar secara luas.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 60% konsumen AS memperkirakan kondisi bisnis akan memburuk dalam 12 bulan ke depan. Bahkan saat krisis pasar perumahan tahun 2008 paling parah, indikator ini hanya mencapai 42%. Ini menunjukkan bahwa psikologi pesimis saat ini telah mencapai level tertinggi dalam sejarah modern.
Ekspektasi Inflasi Melonjak Meningkatkan Kekhawatiran Resesi
Tekanan inflasi yang terus berlanjut semakin memperburuk suasana hati pesimis konsumen. Ekspektasi inflasi dalam 12 bulan ke depan di AS diperkirakan akan naik menjadi 6,0%, tertinggi sejak 2023. Lebih menarik lagi, ekspektasi inflasi jangka panjang juga meningkat—konsumen memperkirakan tingkat inflasi tahunan selama 5 hingga 10 tahun ke depan mencapai 3,9%, mencatat rekor tertinggi dalam 30 tahun.
Seiring dengan peluncuran kebijakan tarif besar-besaran oleh pemerintahan Trump, ketidakpastian ekonomi meningkat, dan ekspektasi inflasi pun melonjak. Ekspektasi inflasi jangka panjang di AS secara resmi mencapai level tertinggi sejak 1993. Ini berarti konsumen memperkirakan ekonomi akan mengalami dampak inflasi yang terkumpul selama bertahun-tahun, dan daya beli mereka akan terus terkikis. Dalam konteks ini, persepsi risiko resesi AS terus meningkat.
Pasar dan Lembaga Bersamaan Melihat Ekonomi dengan Pandangan Pesimis
Sentimen pesimis konsumen telah menyebar ke pasar keuangan. Sejak Federal Reserve mulai menurunkan suku bunga pada September 2024, indeks S&P 500 telah turun 2%. Data historis menunjukkan bahwa selama resesi ekonomi, penurunan suku bunga biasanya menyebabkan indeks S&P 500 turun 6% dalam 6 bulan dan 10% dalam 12 bulan.
Bukan hanya konsumen umum yang pesimis terhadap ekonomi. Menurut survei terbaru CNBC (meliputi manajer dana, strategis, dan analis), suasana hati institusi investasi juga secara jelas berbalik menjadi pesimis. Probabilitas resesi meningkat dari 23% awal tahun menjadi 36%, kenaikan sebesar 56%. Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran institusi profesional terhadap resesi ekonomi AS telah meningkat secara signifikan.
Dalam survei terbaru dari The Economist dan YouGov, pandangan investor terhadap prospek ekonomi menjadi lebih berhati-hati. Pasar memperkirakan penurunan suku bunga secara besar-besaran karena para investor dan konsumen telah mencapai konsensus: risiko resesi AS sedang meningkat.
PHK di Kalangan Profesional, Pasar Tenaga Kerja Mengalami Tekanan
Yang mengejutkan, dampak perlambatan ekonomi kali ini tidak lagi terbatas pada industri berwarna biru. Sejak Mei 2023, sektor jasa profesional dan bisnis di AS telah mengurangi 248.000 posisi pekerjaan. Lebih mengkhawatirkan lagi, jumlah tenaga kerja di industri ini telah menurun selama 17 bulan berturut-turut, mencatat periode penurunan terpanjang sejak 2008.
Ini berarti posisi kerja di kalangan profesional juga mulai berkurang, dan pasar tenaga kerja sedang melemah secara menyeluruh. Ekspektasi pengangguran yang meningkat dan pengurangan posisi kerja secara nyata membentuk umpan balik negatif, semakin memperburuk psikologi pesimis ekonomi konsumen, menciptakan siklus yang berkelanjutan.
Perlindungan Aset Meningkat, Harga Emas Melonjak
Di tengah meningkatnya risiko resesi AS, kekhawatiran krisis utang, inflasi tinggi, dan ketidakpastian perdagangan, harga emas menunjukkan kenaikan yang signifikan. Kenaikan aset safe haven ini mencerminkan kekhawatiran mendalam pasar terhadap prospek ekonomi.
Secara keseluruhan, keruntuhan kepercayaan konsumen, meningkatnya ekspektasi pengangguran, melonjaknya ekspektasi inflasi, serta sentimen pesimis pasar dan lembaga investasi semuanya mengarah ke satu arah: risiko resesi ekonomi AS sedang meningkat. Perkembangan ekonomi ke depan akan menjadi fokus perhatian pasar.