Pengadilan Agung Korea baru-baru ini mengonfirmasi hukuman bersalah bagi karyawan bursa cryptocurrency. Tuduhan utama adalah merekrut mantan perwira militer yang menyimpan rahasia militer dan melakukan perdagangan informasi pertahanan negara menggunakan Bitcoin. Berdasarkan laporan dari media Korea Daily, platform berita cryptocurrency internasional PANews, dan DL News, putusan ini mengungkapkan sebuah kasus kejahatan yang jarang terjadi di persimpangan antara keamanan nasional dan cryptocurrency.
Pelanggaran Undang-Undang Keamanan Nasional oleh Karyawan Bursa
Pengadilan tertinggi Korea memutuskan hukuman penjara selama 4 tahun kepada karyawan bursa tersebut. Ia menerima sekitar 487.000 dolar AS dalam bentuk Bitcoin dari kelompok peretas Korea Utara, dan sebagai imbalannya, menjadi perantara dalam transaksi dengan seorang perwira militer. Dalam transaksi nyata, sekitar 33.500 dolar AS dalam bentuk Bitcoin terbukti telah dibayarkan.
Pengadilan menilai bahwa karyawan bursa tersebut secara jelas melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional, dan tindakannya secara langsung mengancam keamanan negara. Ia tidak hanya melakukan transaksi cryptocurrency biasa, tetapi juga diduga turut serta dalam pengungkapan rahasia pertahanan.
Operasi Canggih Peretas Korea Utara
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kelompok peretas Korea Utara merancang rencana yang sangat terstruktur. Mereka mengarahkan karyawan bursa untuk menyediakan perangkat kamera tersembunyi berbentuk jam tangan dan alat peretasan USB untuk menyusup ke sistem informasi militer. Tujuannya adalah mendapatkan akses jarak jauh ke sistem komando dan kontrol gabungan Korea dan Amerika Serikat.
Untungnya, upaya penyusupan ini akhirnya digagalkan. Percobaan peretasan melalui laptop yang disediakan oleh perwira militer gagal, dan sistem keamanan berhasil mendeteksi ancaman tersebut.
Tanggung Jawab Hukum Para Terkait
Perwira militer tersebut juga dikenai hukuman 10 tahun penjara dan denda karena melanggar Undang-Undang Perlindungan Rahasia Militer. Tindakannya dinilai sebagai kejahatan serius yang tidak hanya mencari keuntungan pribadi, tetapi juga secara langsung merusak pertahanan negara.
Kasus ini menunjukkan bahwa cryptocurrency dapat disalahgunakan sebagai media ancaman terhadap keamanan nasional. Putusan ini menegaskan kembali risiko penggunaan aset digital seperti Bitcoin yang menjamin anonimitas sebagai alat pembayaran dalam transaksi ilegal.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Perantara pertukaran cryptocurrency, terbukti bersalah atas tuduhan melakukan transaksi rahasia militer dengan peretas Korea Utara menggunakan Bitcoin
Pengadilan Agung Korea baru-baru ini mengonfirmasi hukuman bersalah bagi karyawan bursa cryptocurrency. Tuduhan utama adalah merekrut mantan perwira militer yang menyimpan rahasia militer dan melakukan perdagangan informasi pertahanan negara menggunakan Bitcoin. Berdasarkan laporan dari media Korea Daily, platform berita cryptocurrency internasional PANews, dan DL News, putusan ini mengungkapkan sebuah kasus kejahatan yang jarang terjadi di persimpangan antara keamanan nasional dan cryptocurrency.
Pelanggaran Undang-Undang Keamanan Nasional oleh Karyawan Bursa
Pengadilan tertinggi Korea memutuskan hukuman penjara selama 4 tahun kepada karyawan bursa tersebut. Ia menerima sekitar 487.000 dolar AS dalam bentuk Bitcoin dari kelompok peretas Korea Utara, dan sebagai imbalannya, menjadi perantara dalam transaksi dengan seorang perwira militer. Dalam transaksi nyata, sekitar 33.500 dolar AS dalam bentuk Bitcoin terbukti telah dibayarkan.
Pengadilan menilai bahwa karyawan bursa tersebut secara jelas melanggar Undang-Undang Keamanan Nasional, dan tindakannya secara langsung mengancam keamanan negara. Ia tidak hanya melakukan transaksi cryptocurrency biasa, tetapi juga diduga turut serta dalam pengungkapan rahasia pertahanan.
Operasi Canggih Peretas Korea Utara
Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa kelompok peretas Korea Utara merancang rencana yang sangat terstruktur. Mereka mengarahkan karyawan bursa untuk menyediakan perangkat kamera tersembunyi berbentuk jam tangan dan alat peretasan USB untuk menyusup ke sistem informasi militer. Tujuannya adalah mendapatkan akses jarak jauh ke sistem komando dan kontrol gabungan Korea dan Amerika Serikat.
Untungnya, upaya penyusupan ini akhirnya digagalkan. Percobaan peretasan melalui laptop yang disediakan oleh perwira militer gagal, dan sistem keamanan berhasil mendeteksi ancaman tersebut.
Tanggung Jawab Hukum Para Terkait
Perwira militer tersebut juga dikenai hukuman 10 tahun penjara dan denda karena melanggar Undang-Undang Perlindungan Rahasia Militer. Tindakannya dinilai sebagai kejahatan serius yang tidak hanya mencari keuntungan pribadi, tetapi juga secara langsung merusak pertahanan negara.
Kasus ini menunjukkan bahwa cryptocurrency dapat disalahgunakan sebagai media ancaman terhadap keamanan nasional. Putusan ini menegaskan kembali risiko penggunaan aset digital seperti Bitcoin yang menjamin anonimitas sebagai alat pembayaran dalam transaksi ilegal.