Bagi mereka yang bekerja dengan laporan keuangan, memahami bagaimana perusahaan memperlakukan berbagai jenis bunga bisa membingungkan pada awalnya. Namun, baik bunga yang dikapitalisasi maupun bunga yang diakui secara akrual mengikuti logika akuntansi yang sehat. Kedua metode ini mewakili skenario berbeda dalam pencatatan biaya bunga oleh bisnis, dan masing-masing sesuai dengan prinsip dasar akuntansi yang mengatur pelaporan keuangan.
Mengapa Perusahaan Mengkapitalisasi Bunga pada Proyek Konstruksi
Ketika sebuah perusahaan meminjam uang untuk membiayai pembangunan sebuah bangunan atau aset tetap jangka panjang lainnya, bunga yang dibayarkan atas pinjaman konstruksi tersebut mendapatkan perlakuan khusus. Alih-alih langsung dibebankan sebagai biaya, bunga yang dikapitalisasi ditambahkan langsung ke biaya aset di neraca. Pikirkan seperti ini: jika sebuah perusahaan mengambil pinjaman sebesar $100.000@E5@ untuk membangun gudang, pembayaran bunga atas pinjaman tersebut dianggap sebagai bagian dari total biaya konstruksi, sama seperti bahan, tenaga kerja, dan peralatan yang digunakan dalam proses pembangunan.
Pendekatan ini masuk akal secara logis. Setelah gudang selesai dan beroperasi, perusahaan akan menyusutkan total biayanya selama bertahun-tahun. Dengan memasukkan bunga konstruksi sebagai bagian dari total biaya tersebut, perusahaan memastikan biaya tersebut sesuai dengan periode ketika aset menghasilkan pendapatan. Ini mengikuti prinsip pencocokan, sebuah pilar utama dalam akuntansi yang mengharuskan biaya disesuaikan dengan pendapatan yang mereka bantu hasilkan.
Bagaimana Bunga Akrual Berfungsi dalam Praktek
Bunga akrual bekerja cukup berbeda. Bayangkan sebuah perusahaan mengambil pinjaman operasional sebesar $100.000@E5@ dengan tingkat bunga tahunan 10%, di mana pembayaran bunga bulanan jatuh tempo sepanjang tahun. Setiap hari pinjaman tersebut masih berjalan, bank mengenakan bunga berdasarkan pokoknya. Setelah satu hari, sekitar $27,40@E5@ bunga telah terkumpul. Setelah dua hari, jumlah tersebut bertambah menjadi sekitar $54,79@E5@, dan pada hari ketiga mencapai ,82,19@E5@.
Biaya bunga harian ini mewakili pengeluaran nyata yang telah dikeluarkan perusahaan, meskipun belum ada pembayaran yang dilakukan. Berdasarkan prinsip akrual, perusahaan harus mencatat ini sebagai biaya di laporan laba rugi saat bunga tersebut terkumpul. Untuk menjaga keakuratan neraca, perusahaan secara bersamaan mencatat bunga akrual yang belum dibayar sebagai kewajiban yang disebut “bunga akrual yang harus dibayar.” Item neraca sementara ini berfungsi sebagai penyeimbang terhadap biaya bunga yang ditampilkan di laporan laba rugi.
Ketika pembayaran bunga bulanan tiba, perusahaan menulis cek dan mengirimkan uang tunai ke bank. Pada saat itu, akuntan mengurangi kewajiban bunga akrual dan menurunkan saldo kas perusahaan sesuai. Siklus ini kemudian diulang untuk bulan berikutnya.
Perspektif Berbeda: Pemberi Pinjaman dan Peminjam
Konsep akrual yang sama berlaku ketika sebuah perusahaan berperan sebagai pemberi pinjaman daripada peminjam. Jika perusahaan memberikan pinjaman kepada pihak lain, bunga yang diperoleh akan terkumpul setiap hari bahkan sebelum kas diterima. Ini akan dicatat sebagai pendapatan bunga di laporan laba rugi dan diseimbangkan dengan akun aset yang disebut “bunga akrual yang akan diterima” di neraca. Prinsip dasar yang mendasari tetap sama: pengakuan pendapatan saat diperoleh, bukan saat kas diterima.
Prinsip Dasar yang Memandu Kedua Metode
Baik bunga yang dikapitalisasi maupun bunga akrual berasal dari dua prinsip akuntansi inti. Prinsip akrual menyatakan bahwa pendapatan harus diakui saat diperoleh dan biaya saat timbul, terlepas dari waktu kas. Prinsip pencocokan memastikan bahwa biaya dilaporkan dalam periode yang sama dengan pendapatan yang mereka hasilkan.
Bunga yang dikapitalisasi menerapkan prinsip pencocokan dengan menggabungkan biaya bunga dengan aset yang didanainya, menyebarkan pengakuan selama masa manfaat aset tersebut. Bunga akrual menerapkan prinsip akrual dengan mengakui biaya bunga saat terkumpul setiap hari. Meskipun kedua metode ini berbeda dalam perlakuannya, masing-masing tetap konsisten dengan konsep dasar akuntansi yang memastikan laporan keuangan mencerminkan realitas ekonomi secara akurat.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Bunga Dikapitalisasi vs Bunga Terakumulasi: Memahami Dua Perlakuan Akuntansi Utama
Bagi mereka yang bekerja dengan laporan keuangan, memahami bagaimana perusahaan memperlakukan berbagai jenis bunga bisa membingungkan pada awalnya. Namun, baik bunga yang dikapitalisasi maupun bunga yang diakui secara akrual mengikuti logika akuntansi yang sehat. Kedua metode ini mewakili skenario berbeda dalam pencatatan biaya bunga oleh bisnis, dan masing-masing sesuai dengan prinsip dasar akuntansi yang mengatur pelaporan keuangan.
Mengapa Perusahaan Mengkapitalisasi Bunga pada Proyek Konstruksi
Ketika sebuah perusahaan meminjam uang untuk membiayai pembangunan sebuah bangunan atau aset tetap jangka panjang lainnya, bunga yang dibayarkan atas pinjaman konstruksi tersebut mendapatkan perlakuan khusus. Alih-alih langsung dibebankan sebagai biaya, bunga yang dikapitalisasi ditambahkan langsung ke biaya aset di neraca. Pikirkan seperti ini: jika sebuah perusahaan mengambil pinjaman sebesar $100.000@E5@ untuk membangun gudang, pembayaran bunga atas pinjaman tersebut dianggap sebagai bagian dari total biaya konstruksi, sama seperti bahan, tenaga kerja, dan peralatan yang digunakan dalam proses pembangunan.
Pendekatan ini masuk akal secara logis. Setelah gudang selesai dan beroperasi, perusahaan akan menyusutkan total biayanya selama bertahun-tahun. Dengan memasukkan bunga konstruksi sebagai bagian dari total biaya tersebut, perusahaan memastikan biaya tersebut sesuai dengan periode ketika aset menghasilkan pendapatan. Ini mengikuti prinsip pencocokan, sebuah pilar utama dalam akuntansi yang mengharuskan biaya disesuaikan dengan pendapatan yang mereka bantu hasilkan.
Bagaimana Bunga Akrual Berfungsi dalam Praktek
Bunga akrual bekerja cukup berbeda. Bayangkan sebuah perusahaan mengambil pinjaman operasional sebesar $100.000@E5@ dengan tingkat bunga tahunan 10%, di mana pembayaran bunga bulanan jatuh tempo sepanjang tahun. Setiap hari pinjaman tersebut masih berjalan, bank mengenakan bunga berdasarkan pokoknya. Setelah satu hari, sekitar $27,40@E5@ bunga telah terkumpul. Setelah dua hari, jumlah tersebut bertambah menjadi sekitar $54,79@E5@, dan pada hari ketiga mencapai ,82,19@E5@.
Biaya bunga harian ini mewakili pengeluaran nyata yang telah dikeluarkan perusahaan, meskipun belum ada pembayaran yang dilakukan. Berdasarkan prinsip akrual, perusahaan harus mencatat ini sebagai biaya di laporan laba rugi saat bunga tersebut terkumpul. Untuk menjaga keakuratan neraca, perusahaan secara bersamaan mencatat bunga akrual yang belum dibayar sebagai kewajiban yang disebut “bunga akrual yang harus dibayar.” Item neraca sementara ini berfungsi sebagai penyeimbang terhadap biaya bunga yang ditampilkan di laporan laba rugi.
Ketika pembayaran bunga bulanan tiba, perusahaan menulis cek dan mengirimkan uang tunai ke bank. Pada saat itu, akuntan mengurangi kewajiban bunga akrual dan menurunkan saldo kas perusahaan sesuai. Siklus ini kemudian diulang untuk bulan berikutnya.
Perspektif Berbeda: Pemberi Pinjaman dan Peminjam
Konsep akrual yang sama berlaku ketika sebuah perusahaan berperan sebagai pemberi pinjaman daripada peminjam. Jika perusahaan memberikan pinjaman kepada pihak lain, bunga yang diperoleh akan terkumpul setiap hari bahkan sebelum kas diterima. Ini akan dicatat sebagai pendapatan bunga di laporan laba rugi dan diseimbangkan dengan akun aset yang disebut “bunga akrual yang akan diterima” di neraca. Prinsip dasar yang mendasari tetap sama: pengakuan pendapatan saat diperoleh, bukan saat kas diterima.
Prinsip Dasar yang Memandu Kedua Metode
Baik bunga yang dikapitalisasi maupun bunga akrual berasal dari dua prinsip akuntansi inti. Prinsip akrual menyatakan bahwa pendapatan harus diakui saat diperoleh dan biaya saat timbul, terlepas dari waktu kas. Prinsip pencocokan memastikan bahwa biaya dilaporkan dalam periode yang sama dengan pendapatan yang mereka hasilkan.
Bunga yang dikapitalisasi menerapkan prinsip pencocokan dengan menggabungkan biaya bunga dengan aset yang didanainya, menyebarkan pengakuan selama masa manfaat aset tersebut. Bunga akrual menerapkan prinsip akrual dengan mengakui biaya bunga saat terkumpul setiap hari. Meskipun kedua metode ini berbeda dalam perlakuannya, masing-masing tetap konsisten dengan konsep dasar akuntansi yang memastikan laporan keuangan mencerminkan realitas ekonomi secara akurat.