Harga Kopi Arabika Melemah di Tengah Ramalan Hujan Menguntungkan di Brasil

Kontrak berjangka kopi Arabica mengalami penurunan tajam dalam perdagangan terakhir, dengan kontrak Maret mencatat penurunan sebesar 5,50 poin (-1,57%), sementara kopi robusta bergerak berlawanan arah, menguat 34 poin (+0,82%). Pergerakan harga yang berbeda ini mencerminkan pola cuaca yang sangat berbeda yang muncul di dua wilayah penghasil kopi terbesar di dunia, menandakan bagaimana kondisi lokal dapat secara dramatis mengubah penilaian komoditas dalam hitungan hari.

Divergensi Cuaca Membentuk Pergerakan Harga Jangka Pendek

Hambatan utama bagi kopi Arabica berasal dari ramalan curah hujan yang konsisten di Minas Gerais, pusat penghasil kopi penting di Brasil, selama minggu mendatang. Presipitasi yang stabil di wilayah ini biasanya mendukung perkembangan tanaman dan mengurangi kekhawatiran kekeringan, sehingga mengurangi kendala pasokan. Sebaliknya, kopi robusta mendapatkan dukungan dari proyeksi kondisi kering di Pegunungan Tengah Vietnam, zona pertumbuhan utama negara tersebut, yang dapat menekan hasil panen dan memperketat output selama 10 hari ke depan.

Divergensi cuaca ini menegaskan dinamika fundamental di pasar kopi global: apa yang membantu prospek produksi satu wilayah sering kali memberi tekanan pada harga wilayah lain. Brasil, produsen Arabica terbesar di dunia, tetap menjadi fokus utama pergerakan harga, saat investor menyesuaikan ekspektasi terhadap panen besar negara tersebut.

Pemulihan Inventaris dan Ramalan Pasokan Membuat Sinyal Campuran

Meskipun pola cuaca mendominasi sentimen jangka pendek, indikator pasokan jangka panjang menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Inventaris Arabica ICE mencapai titik terendah selama 1,75 tahun sebesar 398.645 kantong pada 20 November, tetapi kemudian rebound menjadi 461.829 kantong pada pertengahan Januari, menandai puncak selama 2,5 bulan. Demikian pula, stok robusta turun ke level terendah selama 1 tahun sebesar 4.012 lot pada awal Desember sebelum naik kembali menjadi 4.609 lot minggu berikutnya.

Pemulihan inventaris ini, meskipun modest, menandakan kekhawatiran tentang ketatnya pasokan mulai mereda. Pemulihan ini bertentangan dengan narasi bullish jangka pendek tentang kopi Arabica dan menunjukkan bahwa keketatan jangka pendek mungkin secara bertahap menghilang. Sementara itu, ekspor Arabica Brasil mengalami kelemahan yang signifikan, menyusut 10% tahun-ke-tahun menjadi 2,6 juta kantong pada Desember, menurut data Cecafe terbaru, sementara pengiriman robusta anjlok 61% secara tahunan menjadi 222.147 kantong.

Prospek Produksi dan Dinamika Ekspor Menggerakkan Sentimen Pasar

Di sisi pasokan, otoritas perkiraan panen Brasil menaikkan estimasi produksinya untuk 2025 sebesar 2,4% menjadi 56,54 juta kantong dari proyeksi September sebelumnya. Revisi kenaikan ini, meskipun kecil, menunjukkan kepercayaan terhadap panen yang kuat meskipun ada variabilitas cuaca. USDA Foreign Agriculture Service lebih jauh memproyeksikan bahwa output Brasil 2025/26 akhirnya akan menurun 3,1% menjadi 63 juta kantong, menandakan pola siklus produksi yang mungkin mendukung harga di masa depan.

Sektor kopi Vietnam menunjukkan momentum yang sama sekali berbeda. Ekspor negara ini untuk 2025 melonjak 17,5% tahun-ke-tahun menjadi 1,58 juta metrik ton, dan produksi diperkirakan akan naik 6% secara tahunan menjadi 1,76 juta metrik ton, atau sekitar 29,4 juta kantong—tinggi selama 4 tahun. Asosiasi Kopi dan Kakao Vietnam menyarankan bahwa output bisa meningkat hingga 10% jika kondisi cuaca mendukung, yang berpotensi membanjiri pasar global dengan pasokan.

Keseimbangan Pasokan Global: Pandangan Jangka Panjang

Organisasi Kopi Internasional melaporkan bahwa ekspor kopi global untuk tahun pemasaran saat ini turun tipis 0,3% tahun-ke-tahun menjadi 138,658 juta kantong, menunjukkan adanya sedikit ketatnya pasokan. Namun, outlook USDA yang lebih luas menggambarkan narasi yang berbeda: produksi kopi dunia pada 2025/26 diproyeksikan akan meningkat 2,0% menjadi rekor 178,848 juta kantong. Dalam total ini, produksi Arabica diperkirakan akan menyusut 4,7% menjadi 95,515 juta kantong, sementara output robusta melonjak 10,9% menjadi 83,333 juta kantong.

Lintasan pasokan ini menunjukkan bahwa kopi Arabica menghadapi hambatan struktural dari meningkatnya persaingan robusta dan ekspansi produksi Vietnam, meskipun beberapa keketatan regional tetap ada. Stok global akhir diperkirakan akan menurun 5,4% menjadi 20,148 juta kantong, tetap menunjukkan cadangan pasokan yang cukup yang dapat memberi tekanan pada penilaian kopi Arabica dalam beberapa bulan mendatang.

Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
  • Hadiah
  • Komentar
  • Posting ulang
  • Bagikan
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
  • Sematkan

Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)