Telegram telah mengambil langkah tegas terhadap aktivitas ilegal di platform pesanannya, menghapus sekitar 15 juta grup Telegram ilegal. Tindakan massal ini merupakan respons terhadap tekanan regulasi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, yang berujung pada penangkapan CEO Pavel Durov di Prancis, di mana ia menghadapi tuduhan terkait konten berbahaya yang dibagikan di aplikasi tersebut. Penggunaan kecerdasan buatan terbaru terbukti sangat penting dalam mencapai pembersihan skala besar ini.
Skala Pembersihan: Jutaan Grup Dihapus dalam Operasi
Platform ini mengungkapkan angka yang mengesankan dalam perjuangannya melawan konten ilegal. Menurut data dari Telegram, penghapusan grup ilegal telah melebihi 15,4 juta sejak kampanye intensif ini dimulai. Tim moderasi bekerja secara sistematis selama berbulan-bulan di balik layar, menghapus saluran dan grup yang melanggar ketentuan layanan.
Strategi yang digunakan menggabungkan alat manajemen kecerdasan buatan dengan laporan dari pengguna. Pendekatan hybrid ini memungkinkan pelaksanaan penghapusan yang lebih cepat, terutama setelah penangkapan Durov. Perusahaan telah menyimpan catatan sejak 2015, tetapi angka 15.474.022 grup ilegal yang dilarang ini secara khusus merujuk pada tahun 2024, mencerminkan upaya tanpa preseden.
Transparansi Radikal: Halaman Moderasi Baru Telegram
Menanggapi tuntutan transparansi, Telegram meluncurkan halaman pengawasan khusus di mana publik dapat memantau secara real-time upaya moderasi. Durov menekankan bahwa tujuan utamanya adalah agar komunitas dapat melihat secara jelas apa yang dilakukan tim moderasi untuk memerangi aktivitas ilegal. Inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap akuntabilitas.
Melalui platform ini, Telegram menyediakan pembaruan berkala yang menunjukkan volume konten yang dihapus dan kasus yang diproses. Langkah ini diumumkan sebagai bagian dari operasi yang lebih luas pada bulan September, menunjukkan bahwa platform berusaha menyesuaikan diri dengan permintaan otoritas pemerintah untuk memperkuat posisi hukumnya.
Data 2024: CSAM, Terorisme, dan Konten Ilegal dalam Kendali
Data rinci untuk tahun 2024 mengungkapkan skala masalah yang telah diatasi Telegram. Materi pelecehan seksual anak (CSAM) tetap menjadi prioritas utama, dengan 703.809 grup dan saluran yang dilarang terkait ancaman ini. Kasus-kasus ini diproses melalui kolaborasi dengan organisasi khusus, termasuk Internet Watch Foundation, National Center for Missing & Exploited Children, Canadian Centre for Child Protection, dan Stitching Offlimits.
Pada saat yang sama, Telegram memperkuat perjuangannya melawan propaganda terorisme. Platform melaporkan bahwa pada 2024, mereka memblokir 129.099 konten terkait terorisme. Upaya ini berlanjut sejak 2016, ketika perusahaan mulai aktif bekerja sama dengan Europol dan otoritas lain, berhasil memblokir total 100 juta konten terorisme dalam beberapa tahun terakhir.
Masa Depan Dekat: Kemitraan dengan IWF dan Alat Baru
Telegram baru-baru ini mengumumkan kemitraan strategis dengan Internet Watch Foundation untuk mempercepat penghapusan materi eksploitasi seksual anak. Kerja sama ini akan memanfaatkan alat kecerdasan buatan canggih untuk mengidentifikasi dan menghapus konten tersebut dengan lebih cepat. Derek Rae Hill, CEO IWF, menyatakan optimisme terhadap hasil bersama: “Kami berharap dapat melihat langkah-langkah tambahan yang dapat kami ambil bersama untuk menciptakan dunia di mana penyebaran materi pelecehan seksual online hampir tidak mungkin terjadi.”
Sementara itu, Pavel Durov tetap berada di bawah pembatasan di Prancis sambil menghadapi proses hukum. Jika dinyatakan bersalah, ia bisa menghadapi hukuman penjara hingga sepuluh tahun dan denda sebesar 550.000 dolar. Namun, melalui tindakan konkret ini, Telegram menunjukkan tekadnya untuk mengubah platform dan secara sistematis serta transparan menghapus grup Telegram ilegal.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Telegram menghapus jutaan grup Telegram ilegal menggunakan kecerdasan buatan canggih
Telegram telah mengambil langkah tegas terhadap aktivitas ilegal di platform pesanannya, menghapus sekitar 15 juta grup Telegram ilegal. Tindakan massal ini merupakan respons terhadap tekanan regulasi yang meningkat dalam beberapa bulan terakhir, yang berujung pada penangkapan CEO Pavel Durov di Prancis, di mana ia menghadapi tuduhan terkait konten berbahaya yang dibagikan di aplikasi tersebut. Penggunaan kecerdasan buatan terbaru terbukti sangat penting dalam mencapai pembersihan skala besar ini.
Skala Pembersihan: Jutaan Grup Dihapus dalam Operasi
Platform ini mengungkapkan angka yang mengesankan dalam perjuangannya melawan konten ilegal. Menurut data dari Telegram, penghapusan grup ilegal telah melebihi 15,4 juta sejak kampanye intensif ini dimulai. Tim moderasi bekerja secara sistematis selama berbulan-bulan di balik layar, menghapus saluran dan grup yang melanggar ketentuan layanan.
Strategi yang digunakan menggabungkan alat manajemen kecerdasan buatan dengan laporan dari pengguna. Pendekatan hybrid ini memungkinkan pelaksanaan penghapusan yang lebih cepat, terutama setelah penangkapan Durov. Perusahaan telah menyimpan catatan sejak 2015, tetapi angka 15.474.022 grup ilegal yang dilarang ini secara khusus merujuk pada tahun 2024, mencerminkan upaya tanpa preseden.
Transparansi Radikal: Halaman Moderasi Baru Telegram
Menanggapi tuntutan transparansi, Telegram meluncurkan halaman pengawasan khusus di mana publik dapat memantau secara real-time upaya moderasi. Durov menekankan bahwa tujuan utamanya adalah agar komunitas dapat melihat secara jelas apa yang dilakukan tim moderasi untuk memerangi aktivitas ilegal. Inisiatif ini mencerminkan komitmen perusahaan terhadap akuntabilitas.
Melalui platform ini, Telegram menyediakan pembaruan berkala yang menunjukkan volume konten yang dihapus dan kasus yang diproses. Langkah ini diumumkan sebagai bagian dari operasi yang lebih luas pada bulan September, menunjukkan bahwa platform berusaha menyesuaikan diri dengan permintaan otoritas pemerintah untuk memperkuat posisi hukumnya.
Data 2024: CSAM, Terorisme, dan Konten Ilegal dalam Kendali
Data rinci untuk tahun 2024 mengungkapkan skala masalah yang telah diatasi Telegram. Materi pelecehan seksual anak (CSAM) tetap menjadi prioritas utama, dengan 703.809 grup dan saluran yang dilarang terkait ancaman ini. Kasus-kasus ini diproses melalui kolaborasi dengan organisasi khusus, termasuk Internet Watch Foundation, National Center for Missing & Exploited Children, Canadian Centre for Child Protection, dan Stitching Offlimits.
Pada saat yang sama, Telegram memperkuat perjuangannya melawan propaganda terorisme. Platform melaporkan bahwa pada 2024, mereka memblokir 129.099 konten terkait terorisme. Upaya ini berlanjut sejak 2016, ketika perusahaan mulai aktif bekerja sama dengan Europol dan otoritas lain, berhasil memblokir total 100 juta konten terorisme dalam beberapa tahun terakhir.
Masa Depan Dekat: Kemitraan dengan IWF dan Alat Baru
Telegram baru-baru ini mengumumkan kemitraan strategis dengan Internet Watch Foundation untuk mempercepat penghapusan materi eksploitasi seksual anak. Kerja sama ini akan memanfaatkan alat kecerdasan buatan canggih untuk mengidentifikasi dan menghapus konten tersebut dengan lebih cepat. Derek Rae Hill, CEO IWF, menyatakan optimisme terhadap hasil bersama: “Kami berharap dapat melihat langkah-langkah tambahan yang dapat kami ambil bersama untuk menciptakan dunia di mana penyebaran materi pelecehan seksual online hampir tidak mungkin terjadi.”
Sementara itu, Pavel Durov tetap berada di bawah pembatasan di Prancis sambil menghadapi proses hukum. Jika dinyatakan bersalah, ia bisa menghadapi hukuman penjara hingga sepuluh tahun dan denda sebesar 550.000 dolar. Namun, melalui tindakan konkret ini, Telegram menunjukkan tekadnya untuk mengubah platform dan secara sistematis serta transparan menghapus grup Telegram ilegal.