NASA telah menyelesaikan serangkaian pengujian krusial untuk misi Artemis II, termasuk simulasi pengisian bahan bakar pada roket Sistem Peluncuran Ruang Angkasa (SLS) dengan protokol yang direset untuk memastikan setiap tahap peluncuran berjalan optimal. Pengujian menyeluruh ini menandai langkah signifikan dalam persiapan misi bersejarah yang akan membawa astronot kembali ke Bulan.
Pengisian Propelan Kriogenik dalam Skala Monumental
Tim teknis di Pusat Luar Angkasa Kennedy di Florida menjalankan operasi pengisian bahan bakar dengan membompa sekitar 2,6 juta liter propelan yang disimpan pada suhu ekstrem kriogenik. Muatan ini mencakup hidrogen cair dan oksigen cair yang dimasukkan ke dalam roket setinggi 98 meter. Proses ini merupakan salah satu operasi paling kompleks dalam persiapan peluncuran, memerlukan presisi tinggi dan koordinasi sempurna antara berbagai sistem kendali otomatis maupun manual.
Protokol Hitungan Mundur Direset untuk Pengujian Berlapis
Selama simulasi, tim melakukan hitungan mundur peluncuran yang disertai dengan monitoring intensif terhadap semua parameter teknis. Sistem direset setelah hitungan mundur mencapai 30 detik sebelum pengapian tanpa terdeteksi adanya kebocoran berarti di seluruh struktur roket. Prosedur pengujian kemudian dijalankan kembali dengan jam sistem yang direset ulang, mengizinkan tim untuk melakukan simulasi lengkap selama 10 menit tambahan guna memverifikasi respons sistem terhadap berbagai skenario contingency.
Persiapan Menjelang Misi Bulan Legendaris
Kesuksesan fase pengujian ini membuka jalan bagi tahap persiapan berikutnya dalam program Artemis. NASA mengumumkan rencana pengarahan resmi pada tanggal berikutnya guna mendiskusikan evaluasi hasil pengujian dan strategi peluncuran final. Misi Artemis II diharapkan menjadi pencapaian bersejarah yang akan memposisikan manusia lebih dekat pada eksplorasi lunar yang lebih dalam dan berkelanjutan.
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
NASA Uji Coba Artemis II, Sistem Direset untuk Simulasi Peluncuran Sempurna
NASA telah menyelesaikan serangkaian pengujian krusial untuk misi Artemis II, termasuk simulasi pengisian bahan bakar pada roket Sistem Peluncuran Ruang Angkasa (SLS) dengan protokol yang direset untuk memastikan setiap tahap peluncuran berjalan optimal. Pengujian menyeluruh ini menandai langkah signifikan dalam persiapan misi bersejarah yang akan membawa astronot kembali ke Bulan.
Pengisian Propelan Kriogenik dalam Skala Monumental
Tim teknis di Pusat Luar Angkasa Kennedy di Florida menjalankan operasi pengisian bahan bakar dengan membompa sekitar 2,6 juta liter propelan yang disimpan pada suhu ekstrem kriogenik. Muatan ini mencakup hidrogen cair dan oksigen cair yang dimasukkan ke dalam roket setinggi 98 meter. Proses ini merupakan salah satu operasi paling kompleks dalam persiapan peluncuran, memerlukan presisi tinggi dan koordinasi sempurna antara berbagai sistem kendali otomatis maupun manual.
Protokol Hitungan Mundur Direset untuk Pengujian Berlapis
Selama simulasi, tim melakukan hitungan mundur peluncuran yang disertai dengan monitoring intensif terhadap semua parameter teknis. Sistem direset setelah hitungan mundur mencapai 30 detik sebelum pengapian tanpa terdeteksi adanya kebocoran berarti di seluruh struktur roket. Prosedur pengujian kemudian dijalankan kembali dengan jam sistem yang direset ulang, mengizinkan tim untuk melakukan simulasi lengkap selama 10 menit tambahan guna memverifikasi respons sistem terhadap berbagai skenario contingency.
Persiapan Menjelang Misi Bulan Legendaris
Kesuksesan fase pengujian ini membuka jalan bagi tahap persiapan berikutnya dalam program Artemis. NASA mengumumkan rencana pengarahan resmi pada tanggal berikutnya guna mendiskusikan evaluasi hasil pengujian dan strategi peluncuran final. Misi Artemis II diharapkan menjadi pencapaian bersejarah yang akan memposisikan manusia lebih dekat pada eksplorasi lunar yang lebih dalam dan berkelanjutan.