Presiden Luiz Lula da Silva memprakarsai reformasi besar-besaran kebijakan mata uang di dalam aliansi ekonomi berkembang. Menurut informasi dari NS3.AI, pemerintah Brasil menegaskan perlunya anggota BRICS beralih ke perdagangan menggunakan mata uang nasional, meninggalkan dominasi dolar AS yang selama ini berlaku. Inisiatif ini menunjukkan keinginan yang semakin besar dari negara-negara Global Selatan untuk mengurangi kerentanan keuangan terhadap tekanan sanksi dari negara-negara Barat.
Mekanisme praktis reformasi moneter
Pada KTT BRICS mendatang di India, akan dibahas instrumen-instrumen konkret untuk menerapkan kebijakan ini. Menteri keuangan dan kepala bank sentral negara anggota akan diberikan tugas untuk mengembangkan solusi teknis yang dapat mengurangi penggunaan dolar dalam transaksi antar pemerintah. Ide utamanya adalah menciptakan sistem pembayaran paralel yang memungkinkan negara-negara melakukan perdagangan dalam rubel, yuan, rupee, dan mata uang nasional lainnya. Pendekatan ini akan melindungi anggota blok dari sanksi keuangan sepihak dan pembatasan lainnya.
Perlawanan dari Barat dan konsekuensi geopolitik
Diharapkan inisiatif ini akan menghadapi perlawanan serius dari Amerika Serikat, yang ingin mempertahankan dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Bagi kalangan keuangan Barat, pengembangan sistem pembayaran alternatif merupakan ancaman terhadap monopoli dalam transaksi global. Meski begitu, usulan dari ibukota Brasil ini melambangkan tahap baru dalam perkembangan tatanan dunia multipolar, di mana negara-negara berkembang semakin aktif memperjuangkan kemerdekaan finansial.
Lihat Asli
Halaman ini mungkin berisi konten pihak ketiga, yang disediakan untuk tujuan informasi saja (bukan pernyataan/jaminan) dan tidak boleh dianggap sebagai dukungan terhadap pandangannya oleh Gate, atau sebagai nasihat keuangan atau profesional. Lihat Penafian untuk detailnya.
Pemimpin dari ibu kota Brasil menuntut perubahan mendasar dalam sistem pembayaran BRICS
Presiden Luiz Lula da Silva memprakarsai reformasi besar-besaran kebijakan mata uang di dalam aliansi ekonomi berkembang. Menurut informasi dari NS3.AI, pemerintah Brasil menegaskan perlunya anggota BRICS beralih ke perdagangan menggunakan mata uang nasional, meninggalkan dominasi dolar AS yang selama ini berlaku. Inisiatif ini menunjukkan keinginan yang semakin besar dari negara-negara Global Selatan untuk mengurangi kerentanan keuangan terhadap tekanan sanksi dari negara-negara Barat.
Mekanisme praktis reformasi moneter
Pada KTT BRICS mendatang di India, akan dibahas instrumen-instrumen konkret untuk menerapkan kebijakan ini. Menteri keuangan dan kepala bank sentral negara anggota akan diberikan tugas untuk mengembangkan solusi teknis yang dapat mengurangi penggunaan dolar dalam transaksi antar pemerintah. Ide utamanya adalah menciptakan sistem pembayaran paralel yang memungkinkan negara-negara melakukan perdagangan dalam rubel, yuan, rupee, dan mata uang nasional lainnya. Pendekatan ini akan melindungi anggota blok dari sanksi keuangan sepihak dan pembatasan lainnya.
Perlawanan dari Barat dan konsekuensi geopolitik
Diharapkan inisiatif ini akan menghadapi perlawanan serius dari Amerika Serikat, yang ingin mempertahankan dolar sebagai mata uang cadangan dunia. Bagi kalangan keuangan Barat, pengembangan sistem pembayaran alternatif merupakan ancaman terhadap monopoli dalam transaksi global. Meski begitu, usulan dari ibukota Brasil ini melambangkan tahap baru dalam perkembangan tatanan dunia multipolar, di mana negara-negara berkembang semakin aktif memperjuangkan kemerdekaan finansial.