Dasar
Spot
Perdagangkan kripto dengan bebas
Perdagangan Margin
Perbesar keuntungan Anda dengan leverage
Konversi & Investasi Otomatis
0 Fees
Perdagangkan dalam ukuran berapa pun tanpa biaya dan tanpa slippage
ETF
Dapatkan eksposur ke posisi leverage dengan mudah
Perdagangan Pre-Market
Perdagangkan token baru sebelum listing
Futures
Akses ribuan kontrak perpetual
TradFi
Emas
Satu platform aset tradisional global
Opsi
Hot
Perdagangkan Opsi Vanilla ala Eropa
Akun Terpadu
Memaksimalkan efisiensi modal Anda
Perdagangan Demo
Pengantar tentang Perdagangan Futures
Bersiap untuk perdagangan futures Anda
Acara Futures
Gabung acara & dapatkan hadiah
Perdagangan Demo
Gunakan dana virtual untuk merasakan perdagangan bebas risiko
Peluncuran
CandyDrop
Koleksi permen untuk mendapatkan airdrop
Launchpool
Staking cepat, dapatkan token baru yang potensial
HODLer Airdrop
Pegang GT dan dapatkan airdrop besar secara gratis
Launchpad
Jadi yang pertama untuk proyek token besar berikutnya
Poin Alpha
Perdagangkan aset on-chain, raih airdrop
Poin Futures
Dapatkan poin futures dan klaim hadiah airdrop
Investasi
Simple Earn
Dapatkan bunga dengan token yang menganggur
Investasi Otomatis
Investasi otomatis secara teratur
Investasi Ganda
Keuntungan dari volatilitas pasar
Soft Staking
Dapatkan hadiah dengan staking fleksibel
Pinjaman Kripto
0 Fees
Menjaminkan satu kripto untuk meminjam kripto lainnya
Pusat Peminjaman
Hub Peminjaman Terpadu
Slogan anti-involution sounding again, better to give young people a few more days of annual leave
Ketika kaum muda memiliki penghasilan yang stabil dan waktu luang yang dapat digunakan untuk beristirahat dengan tenang, mereka baru benar-benar bisa keluar dari kantor dan menjadi bagian dari kelompok konsumsi yang paling energik.
Tulisan oleh Ding Hui
Sistem “cuti tahunan berbayar hanya 5 hari bagi yang bekerja kurang dari 10 tahun” kembali menjadi topik hangat di opini publik.
Pada “Dua Rapat” tahun ini, perwakilan rakyat nasional Wang Yucheng mengusulkan agar mendorong revisi “Peraturan Cuti Tahunan Berbayar Karyawan”, dengan menambah hari cuti sesuai masa kerja secara bertahap, serta menegakkan sistem libur dua hari agar kaum muda “memiliki waktu cuti dan berani berbelanja”.
Usulan ini dengan cepat menjadi trending topik karena menyentuh masalah sosial yang lebih dalam, yaitu apakah para pekerja muda di China saat ini benar-benar memiliki waktu luang yang nyata.
01
Dari segi sistem, sistem cuti tahunan berbayar di China terbentuk pada tahun 2008. Menurut aturan, pekerja yang telah bekerja selama minimal 1 tahun dan kurang dari 10 tahun berhak mendapatkan 5 hari cuti tahunan setiap tahun. Desain ini mungkin memiliki latar belakang tertentu saat itu, tetapi jika dilihat dari kondisi ketenagakerjaan saat ini, terasa agak kaku.
Saat ini, para pelaku utama di dunia kerja adalah kaum muda yang masa kerjanya kurang dari 10 tahun. Mereka menanggung berbagai tekanan seperti biaya sewa, cicilan rumah, pendidikan, dan biaya hidup lainnya, namun hanya memiliki waktu cuti yang sangat terbatas. Lebih nyata lagi, 5 hari cuti tahunan ini bahkan belum tentu bisa sepenuhnya dipenuhi di banyak perusahaan.
Akibatnya, muncul situasi yang cukup aneh. Di satu sisi, orang terus membahas “melawan kompetisi internal” dan “memperluas konsumsi”, masyarakat juga berharap kaum muda lebih banyak berwisata, berbelanja, dan berkontribusi pada pertumbuhan PDB; di sisi lain, banyak kaum muda berada dalam kondisi “tidak punya cuti, tidak bisa cuti, dan tidak berani cuti”.
Dalam konteks ini, praktik dari perusahaan ritel regional seperti Pang Donglai justru menawarkan alternatif pandangan.
Dalam beberapa tahun terakhir, Pang Donglai sering dibahas di ruang opini sebagai “perusahaan teladan dalam mimpi pekerja”. Menariknya, ciri khas Pang Donglai terletak pada sifatnya yang “non-standar”—bukan karena skala besar, melainkan karena dikenal karena perlakuan baik terhadap karyawan.
Rata-rata gaji bulanan setelah dipotong asuransi dan dana pensiun sekitar 9.000 yuan, termasuk posisi tinggi di industri; karyawan bekerja 7 jam sehari, tidak lebih dari 36 jam seminggu; cuti tahunan mencapai 40 hari, setara dengan waktu cuti di negara-negara maju Eropa; dan rata-rata setiap karyawan juga mendapatkan dividen keuntungan sebesar 200.000 yuan.
Di tengah banyak perusahaan dengan gaji sekitar 5.000 yuan dan bahkan sulit memenuhi hak cuti legal dasar, Pang Donglai benar-benar menjadi angin segar. Tentu saja, perusahaan mampu mengalokasikan dana sebesar itu untuk kesejahteraan karyawan berkat penerapan filosofi pribadi dari bosnya, Yu Donglai.
Tindakan Yu Donglai menarik perhatian karena dia membalikkan pola pikir sosial yang ada, yaitu bahwa keuntungan perusahaan dan kesejahteraan karyawan bukanlah permainan zero-sum. Ia membuktikan bahwa ketika kesejahteraan karyawan dijamin secara sistematis, justru dapat memicu semangat kerja yang lebih tinggi, dan perusahaan tetap bisa berjalan dengan baik.
02
Menariknya, saat “Dua Rapat” tahun ini membahas jam kerja dan cuti, Pang Donglai mengumumkan hasil survei yang memicu diskusi opini publik, yang secara menarik berinteraksi dengan narasi “kerja kurang dari 10 tahun hanya 5 hari cuti tahunan”.
Pada 23-24 Februari, Pang Donglai mengirimkan kuesioner kepada karyawannya, menanyakan apakah mereka bersedia “menambah cuti dan mengurangi gaji”, dan hasilnya diumumkan pada 8 Maret. Survei ini melibatkan 10.214 karyawan dengan tingkat pengembalian 94,83%, menunjukkan bahwa ini adalah survei yang efektif dan bukan sekadar formalitas.
Hasil survei menunjukkan lebih dari 80% karyawan menolak pengurangan gaji dan penambahan cuti, memilih mempertahankan sistem kerja 7 jam sehari dan cuti tahunan 40 hari seperti sebelumnya. Ketika sebagian orang masih berjuang untuk mendapatkan hak cuti legal 5 hari, karyawan Pang Donglai sudah memiliki keberanian untuk melakukan penilaian rasional antara “kaya” dan “memiliki waktu luang”. Ini menunjukkan bahwa ketika pendapatan dan waktu istirahat dijamin secara dasar, orang memiliki lebih banyak pilihan.
Tentu saja, di masyarakat nyata, sebagian besar perusahaan belum mampu memberikan pilihan semacam ini kepada pekerja mereka.
Dari sudut pandang ekonomi makro, ini juga berkaitan dengan perubahan struktur konsumsi masyarakat. Selama waktu yang cukup lama, orang cenderung menganggap “kemampuan produksi” sebagai indikator utama perkembangan, namun dalam kondisi ekonomi saat ini, yang benar-benar langka bukanlah kapasitas produksi, melainkan konsumen yang mampu berbelanja.
Pabrik bisa memperluas kapasitas, jalur produksi bisa ditingkatkan, teknologi bisa diupgrade, tetapi jika tidak ada orang yang mau berbelanja, bahkan kemampuan produksi yang “dijatuhkan” pun sulit untuk diubah menjadi kebutuhan nyata. Banyak perusahaan harus “berusaha keras dari luar”, dan selama ini hanya mengandalkan ekspor untuk mendapatkan keuntungan.
Ini adalah tantangan nyata yang dihadapi banyak industri saat ini. Kapasitas terus meningkat, harga terus turun, dan perusahaan terjebak dalam kompetisi “internalisasi” (inner competition), sementara barang tidak terjual.
Dalam situasi seperti ini, jika pekerja tidak memiliki pendapatan yang cukup dan waktu yang bisa mereka atur sendiri, mereka sulit menjadi kekuatan konsumsi yang stabil. Istilah “mengembangkan permintaan dalam negeri” pun seringkali hanya menjadi slogan.
03
Logika ini juga tidak asing dalam sejarah ekonomi global.
Setelah Perang Dunia II, ekonomi Amerika pernah mengalami “zaman keemasan konsumsi” selama dua sampai tiga puluh tahun. Banyak orang mengaitkan masa kejayaan ini dengan kemajuan teknologi atau peningkatan industri, tetapi alasan yang lebih mendalam sebenarnya adalah ekspansi besar-besaran kemampuan konsumsi.
Amerika Serikat saat itu melalui sistem serikat pekerja, mekanisme kenaikan upah, dan sistem kesejahteraan sosial, memungkinkan banyak pekerja biasa masuk ke kelas menengah yang stabil. Mereka tidak hanya memiliki pendapatan, tetapi juga waktu.
Sistem akhir pekan mulai umum, cuti berbayar menjadi norma, dan konsumsi untuk perumahan, mobil, elektronik rumah tangga, dan wisata pun melonjak, membentuk pasar domestik yang besar. Barang yang diproduksi perusahaan dibeli oleh pekerja sendiri; konsumsi mereka kemudian mendukung perusahaan untuk terus memperluas produksi. Produksi dan konsumsi membentuk siklus positif.
Di baliknya, ada logika ekonomi yang sangat sederhana: Pada awal era industri, kekurangan utama adalah kapasitas produksi; setelah kapasitas industri berkembang pesat, kekurangan utama bukan lagi kapasitas, melainkan jumlah konsumen.
Saat ini, banyak industri di China sebenarnya sudah memasuki tahap ini. Kapasitas manufaktur terus meningkat, efisiensi produksi semakin tinggi, tetapi pertumbuhan konsumsi tampak melambat secara signifikan.
Banyak perusahaan masih berusaha memperluas kapasitas, menekan biaya, dan bersaing dalam harga, tetapi mereka mengabaikan satu masalah mendasar: jika pekerja tidak punya uang dan waktu, bagaimana mereka bisa menjadi konsumen sejati?
04
Hari ini, China juga menghadapi logika yang sama. Kebanyakan kaum muda adalah “pekerja” sekaligus “konsumen”. Jika waktu luang mereka terlalu dipersempit dan pendapatan mereka lambat tumbuh, daya beli mereka pun sulit terbangun.
Pariwisata, hiburan, dan banyak layanan lainnya pada dasarnya adalah konsumsi berbasis waktu. Tanpa waktu luang, tidak peduli berapa banyak kebijakan diskon yang ada, keinginan berbelanja kaum muda tetap sulit tergugah.
Oleh karena itu, diskusi tentang sistem cuti tahunan tidak hanya soal hak pekerja, tetapi juga sangat terkait dengan struktur ekonomi. Sistem cuti yang lebih cukup dan dapat dilaksanakan tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup pekerja, mengurangi tekanan kerja lembur jangka panjang, tetapi juga menciptakan permintaan konsumsi yang lebih stabil di sektor pariwisata dan hiburan.
Tentu saja, reformasi sistem tidak cukup hanya dengan menambah hari cuti. Dalam praktiknya, banyak perusahaan masih menghadapi tekanan operasional, dan beberapa usaha kecil menengah khawatir bahwa cuti lebih banyak akan menambah beban operasional. Reformasi yang benar-benar efektif biasanya memerlukan kombinasi perlindungan sistem dan insentif perusahaan: baik melalui pengawasan ketenagakerjaan agar sistem libur dua hari dan cuti tahunan dilaksanakan secara nyata, maupun melalui insentif pajak, jaminan sosial, atau kebijakan lain agar perusahaan tidak ragu dalam menerapkan hak cuti karyawan.
Perbaikan sistem cuti perusahaan pada dasarnya adalah pengakuan ulang terhadap nilai kerja. Sebuah masyarakat konsumsi yang sehat biasanya menunjukkan struktur “piramid” dengan kelompok menengah yang besar. Jika pekerja tidak punya waktu dan tidak punya daya beli, maka seluruh masyarakat akan terjebak dalam siklus produksi intensif dan permintaan konsumsi yang rendah, yang akhirnya akan merugikan perusahaan dan pasar.
Dari sudut pandang ini, memberi lebih banyak waktu cuti kepada kaum muda bukan hanya soal kesejahteraan, tetapi juga investasi sosial jangka panjang. Ketika kaum muda memiliki penghasilan stabil dan waktu luang yang cukup untuk beristirahat, mereka baru benar-benar bisa keluar dari kantor dan menjadi bagian dari kelompok konsumsi yang paling energik.
Dalam era ini, kapasitas produksi tidak pernah lagi menjadi sumber kekurangan; yang benar-benar langka adalah konsumen yang mau dan mampu berbelanja.
Artikel ini adalah karya asli dari Glacier Think Tank, dilarang disebarluaskan tanpa izin, dan pelanggaran akan ditindak sesuai hukum.
Penulis menyatakan: Ini adalah pandangan pribadi, hanya untuk referensi.