Dalam latar belakang ketidakstabilan ekonomi global, nilai tukar won Korea terhadap dolar AS meningkat tajam. Penyebab utamanya adalah ketegangan politik di Timur Tengah yang dipicu oleh perang Iran-AS.
Pada 3 Maret, nilai tukar won terhadap dolar di pasar valuta asing Seoul melonjak secara signifikan, mencapai 1.466,1 won. Ini mendekati rekor tertinggi 1.469,5 won yang dicapai hanya sebulan sebelumnya. Fluktuasi nilai tukar mencapai 26,4 won, menunjukkan kenaikan terbesar sejak guncangan tarif AS pada April tahun lalu.
Kenaikan nilai tukar yang begitu cepat disebabkan oleh meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global, yang mendorong investor untuk mencari aset aman. Terutama, penyekatan Selat Hormuz oleh Iran membuat pasar minyak mentah semakin tidak stabil, mendorong harga minyak internasional naik, yang secara alami memperkuat dolar AS. Bank investasi AS Morgan Stanley juga memperingatkan dampak kenaikan harga minyak terhadap ekonomi Asia dan menganalisis bahwa kenaikan harga minyak akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan PDB.
Di pasar saham, investor asing melakukan penjualan besar-besaran, menyebabkan indeks harga saham gabungan Korea (KOSPI) turun ke 5.791,91 poin, menunjukkan tren penurunan yang signifikan. Ini merupakan respons terhadap ketidakstabilan situasi internasional, di mana investor menarik dana sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasar.
Tren ini kemungkinan akan terus dipengaruhi oleh perubahan situasi internasional, yang akan mempengaruhi arah pergerakan nilai tukar dan harga saham di masa depan. Terutama jika ketidakstabilan di Timur Tengah berlangsung dalam jangka panjang, diperkirakan akan secara tak terhindarkan mempengaruhi ekonomi Korea. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu memantau perkembangan situasi secara ketat dan menyesuaikan strategi investasi mereka.