Seiring dengan tanda-tanda bahwa serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran meluas ke seluruh Timur Tengah, harga minyak melonjak tajam, meningkatkan kekhawatiran inflasi yang sudah ada. Perubahan ekonomi ini juga mempengaruhi kebijakan bank sentral utama negara-negara.
Perubahan situasi di Timur Tengah baru-baru ini menyebabkan lonjakan harga energi, sehingga tekanan inflasi semakin meningkat. Oleh karena itu, bank sentral utama termasuk Federal Reserve AS sedang mempertimbangkan kemungkinan penyesuaian kebijakan suku bunga. Pasar memperkirakan kemungkinan berhenti melakukan pemotongan suku bunga lebih awal, yang memberikan tekanan kenaikan pada tingkat suku bunga pasar.
Pejabat bank sentral dari berbagai negara menyatakan kekhawatiran terhadap risiko kenaikan inflasi yang dipicu oleh krisis di Timur Tengah. Kepala Ekonom Bank Sentral Eropa, Philip Lane, menekankan tekanan harga akibat lonjakan energi dan kekhawatirkan dampaknya terhadap ekonomi regional. Demikian pula, Presiden Federal Reserve Minneapolis, Neel Kashkari, menganalisis kemungkinan bahwa kenaikan harga energi bisa menjadi variabel utama dalam inflasi.
Wall Street terus mengeluarkan peringatan tentang inflasi. CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, memperingatkan bahwa situasi inflasi saat ini tidak boleh membuat pasar merasa puas, dan menyebutkan bahwa selain kenaikan harga minyak, berbagai faktor lain turut mendorong inflasi.
Mengingat ancaman Iran untuk memblokade Selat Hormuz yang dapat menghambat pasokan minyak mentah dan lebih lanjut menaikkan harga minyak, komunitas internasional tetap waspada tinggi. Jika ketegangan saat ini berlanjut, dampaknya terhadap ekonomi global bisa meluas. Akhirnya, situasi ini diperkirakan akan memperburuk ketidakpastian ekonomi global dan menjadi variabel penting dalam pengambilan kebijakan.