Ilmu humaniora dan ilmu sosial di era AI memikul tekanan dari berbagai sisi. Mahasiswa yang memasuki universitas akan menghadapi tantangan dalam memilih keterampilan masa depan.
(Ringkasan sebelumnya: analisis a16z: biaya AI setengah dari sebelumnya, penggunaan berlipat ganda, Amerika Serikat memasuki era “penundaan kedewasaan” di usia 30 tahun)
(Latar belakang tambahan: Jangan ikut-ikutan OpenClaw secara membabi buta, AI udang kecil sangat kuat, tapi belum tentu cocok untukmu)
Daftar Isi Artikel
Toggle
Setiap kali pengumuman ujian masuk universitas keluar, perdebatan tentang jalur “ilmu humaniora” dan “ilmu sains” selalu muncul kembali. Di pulau Taiwan yang bangga dengan industri teknologi, pernyataan “ilmu sains adalah jalan mulus, ilmu humaniora adalah mode neraka” meski bercanda, mencerminkan kenyataan pasar yang sudah lama berlangsung.
Namun, di tengah gelombang teknologi AI yang melanda dunia saat ini, saya ingin mengajukan pandangan yang lebih serius: jika masa lalu ilmu humaniora adalah mode neraka, maka di era AI, tingkat kesulitannya akan meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sebelum membahas dampak AI, kita harus memahami mengapa ilmu humaniora dulu disebut “mode neraka”. Ini terutama disebabkan oleh dua masalah struktural:
Pertama adalah batas gaji dan ketidakseimbangan kebutuhan industri. Ekonomi Taiwan sangat bergantung pada teknologi dan manufaktur, sehingga lulusan jurusan teknik dan sains memiliki jalur karier yang jelas dan gaji awal yang relatif tinggi. Sebaliknya, jurusan humaniora seperti sejarah, filsafat, sosial, antropologi, dan lain-lain, memiliki posisi (seperti peneliti, guru, pekerja budaya) yang terbatas jumlahnya, dan pertumbuhan gaji di banyak bidang relatif datar.
Kedua adalah kemampuan substitusi dan pasar yang jenuh. Banyak lulusan ilmu humaniora akhirnya bekerja di bidang administrasi, pemasaran, perencanaan, editing, dan posisi entry-level lain yang mudah diakses. Meskipun penting, keahlian inti mereka di pasar tenaga kerja sangat oversupply, menyebabkan kompetisi sengit, nilai pribadi sulit menonjol, dan terjebak dalam siklus gaji rendah dan jam kerja tinggi.
Dulu, “mode neraka” berkaitan dengan tantangan ekonomi dan pengembangan karier. Namun, badai baru yang akan datang ini adalah tantangan langsung terhadap nilai inti dari ilmu humaniora.
Banyak orang masih membahas apakah AI akan memiliki kesadaran diri, atau akan menguasai dunia seperti film fiksi ilmiah. Tapi diskusi semacam ini sering mengabaikan kenyataan yang lebih mendesak: di bidang “pengolahan bahasa” dan “pembuatan konten”, kemampuan AI sudah bukan lagi sekadar mengejar, melainkan telah mencapai lompatan kualitas.
Menulis naskah iklan, merapikan catatan rapat, menyusun dokumen hukum, menerjemahkan berbagai bahasa, menghasilkan berita, menciptakan cerita… keahlian yang dulu dianggap sebagai kompetensi inti pekerja teks, kini dengan cepat diduplikasi, dioptimalkan, bahkan dilampaui oleh AI. AI mampu mencerna data dalam jumlah besar dalam hitungan detik dan menghasilkan teks yang lengkap secara struktur dan makna. Ini berarti, pekerjaan yang hanya mengandalkan “pengorganisasian, pengaturan, dan pengoptimalan teks” sedang nilai-nilainya dengan cepat tergerus.
Contohnya dari industri pengacara yang saya kenal, kita bisa melihat perubahan ini dengan lebih jelas.
Apakah AI bisa sepenuhnya menggantikan pengacara? Jujur saja, saat ini belum. Karena pekerjaan pengacara tidak hanya soal pengolahan teks, tetapi juga meliputi strategi, wawasan manusia, adaptasi di pengadilan, dan komunikasi dengan klien. Tapi, AI sudah menjadi “tentara pengacara yang disewa” dari pengacara top, ini fakta yang tak terbantahkan.
Dulu, seorang pengacara membutuhkan 8-10 jam fokus untuk menyusun dokumen litigasi rumit, mulai dari riset kasus, merangkum poin sengketa, hingga selesai. Sekarang, dengan bantuan AI, pengacara yang mahir bisa membuat draft dokumen dalam hitungan puluhan menit. Mereka bisa menghabiskan waktu yang dihemat untuk merancang strategi yang lebih bernilai tinggi, melakukan promosi bisnis, menenangkan klien, dan lain-lain. Waktu kerja satu hari bisa diselesaikan dalam dua atau tiga jam, dengan kualitas yang lebih baik.
Apa artinya ini? Artinya pasar jasa hukum akan mengalami “M-shaped” yang semakin cepat. Pengacara papan atas akan meningkatkan kapasitasnya puluhan kali lipat, mampu menangani lebih banyak kasus dengan biaya lebih rendah, dan daya saingnya akan meningkat secara eksponensial. Sebaliknya, pekerja yang bergantung pada pekerjaan berulang-ulang dalam dokumen hukum akan tertekan keras, karena AI bisa melakukan lebih cepat dan lebih murah.
Gelombang efisiensi ini akan menyebabkan pengangguran struktural yang luas, dan tidak terbatas pada bidang hukum saja. Jurnalis, editor, penerjemah, penulis naskah, asisten riset akademik… semua profesi yang keahlian utamanya adalah “menghasilkan teks” sedang menghadapi tantangan yang sama.
Dulu, satu tim mungkin membutuhkan beberapa penulis untuk memenuhi kebutuhan pemasaran yang berbeda; ke depan, mungkin hanya satu orang yang tahu cara memberi instruksi tepat kepada AI. Dulu, menerjemahkan satu buku membutuhkan berbulan-bulan kerja keras; kini, dengan AI yang menerjemahkan awal dan kemudian diperiksa oleh profesional, model ini akan menjadi arus utama, secara drastis menurunkan kebutuhan tenaga penerjemah murni.
Ketika “menghasilkan teks” mendekati biaya marginal nol, pasar tidak lagi bersedia membayar lebih untuk “penulisan sederhana”. Keahlian yang dulu menjadi sumber penghidupan akan dalam semalam menjadi murah bahkan tak bernilai. Ini bukan omong kosong, melainkan kenyataan keras yang sedang dialami semua pekerja teks.
Kembali ke pertanyaan awal: dalam konteks ini, bagaimana pandangan terhadap pilihan jurusan ilmu humaniora? Saya harus sangat konservatif: risiko memilih jurusan humaniora belum pernah sebesar ini. Jika dulu “mode neraka” ilmu humaniora berasal dari struktur industri dan batas gaji, maka tantangan di era AI adalah serangan langsung ke nilai inti dari bidang tersebut.
Ini bukan berarti meniadakan nilai budaya dan humaniora. Sebaliknya, di zaman di mana informasi melimpah dan kebenaran sulit dibedakan, kemampuan berpikir kritis, kedalaman sejarah, dan pemahaman manusia menjadi semakin penting. Tapi kita harus sadar bahwa keahlian ini sendiri sulit langsung dikonversi menjadi nilai pasar. Jika setelah ujian masuk kamu tetap memilih ilmu humaniora, kamu harus tahu bahwa di era AI, tujuanmu bukan lagi menjadi “produsen teks”, melainkan “pencipta pemikiran” dan “pengendali alat”. Jalan ini tentu lebih sulit, tapi hanya dengan begitu kamu bisa menemukan posisi yang tak tergantikan di tengah perubahan struktural yang akan datang, bukan terbuang oleh gelombang zaman.