Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sedang menimbulkan kekhawatiran bahwa harga minyak dapat melonjak tajam, menurut ahli komoditas Francisco Blanch dari Bank of America. Saat ini, harga minyak WTI sekitar 96 USD per barel dan Brent sekitar 109 USD per barel, tetapi risiko besar terletak pada masa depan jika konflik berlangsung lama. Blanch memperingatkan bahwa pasar minyak bisa menjadi sangat volatil. Ancaman terbesar adalah gangguan di Selat Hormuz, tempat pengangkutan sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Jika terjadi gangguan, pasokan akan langsung menjadi ketat, mendorong harga naik tinggi. Pada saat yang sama, banyak negara mungkin beralih ke penimbunan sumber daya alih-alih bergantung pada rantai pasokan yang segera, seperti yang dilakukan China. Tren ini dapat menjaga harga minyak tetap tinggi dalam jangka panjang. Harga minyak bisa mencapai 160 USD, bahkan melampaui 200 USD per barel.