Pengalaman bisnis selama 30 tahun dari miliarder Silicon Valley: Semua tujuan yang pernah saya kejar di masa lalu adalah bodoh

PANews

Penulis: DeepThinkCircle

Pernahkah kamu berpikir bahwa tujuan-tujuan yang membuatmu berjuang keras itu sebenarnya bisa jadi adalah penghalang terbesar untuk keberhasilanmu? Promosi, kenaikan gaji, gelar, status sosial—milestone hidup yang tampaknya wajar ini sebenarnya bisa saja menjeratmu dalam sebuah perangkap yang dirancang dengan cermat. Baru-baru ini saya menonton sebuah video, di mana mantan eksekutif awal Facebook dan investor terkenal Chamath Palihapitiya merangkum 30 tahun pengalaman bisnisnya dalam 13 menit. Dia mengatakan satu kalimat yang benar-benar mengguncang saya: “Saya butuh 30 tahun untuk menyadari bahwa semua tujuan yang dulu saya kejar dengan gigih itu sebenarnya bodoh.” Ini bukan sekadar pepatah motivasi kosong, melainkan refleksi mendalam dari seorang miliarder setelah mengalami banyak keberhasilan dan kegagalan.

Latar belakang Chamath sendiri sudah cukup legendaris. Dia pernah menjadi anggota inti tim pertumbuhan Facebook, kemudian mendirikan perusahaan modal ventura Social Capital yang menginvestasikan banyak perusahaan teknologi sukses. Ketika seseorang seperti dia mengatakan bahwa sebagian besar hal yang dia kejar selama 30 tahun itu salah, apa yang akan kamu pikirkan? Saat pertama kali mendengar pandangan ini, saya merasa menolaknya. Karena ini benar-benar membongkar paradigma keberhasilan yang selama ini diajarkan sejak kecil. Kita diajarkan untuk menetapkan tujuan, membuat rencana, dan secara bertahap mencapai satu milestone demi milestone. Tapi Chamath memberi tahu kita bahwa cara berpikir seperti itu sendiri bermasalah.

Mengapa Tujuan Bisa Menjadi Musuhmu

Poin utama pertama yang dia angkat membuat saya berpikir cukup lama: kamu tidak pernah boleh berhenti. Kedengarannya aneh, tapi dia menjelaskan bahwa kebanyakan orang membatasi hidup mereka sebagai rangkaian tujuan. Masalahnya, ketika kamu sudah mencapai cukup banyak tujuan, kamu akan merasa “Saya sudah sukses, saatnya berhenti.” Pola pikir ini bisa membuatmu kehilangan motivasi di suatu titik, dan kehilangan alasan untuk terus maju.

Saya sangat memahami perasaan ini. Dalam perjalanan karier, di satu titik, setelah mencapai beberapa target yang saya tetapkan sendiri, saya pernah merasa kosong. Ada rasa “lalu apa selanjutnya?” yang membuat bingung dan tidak tahu harus apa. Chamath mengamati bahwa banyak orang yang dulu sangat dia hormati, setelah usia 50-an berhenti aktif. Mereka tidak lagi terlibat di industri, tidak lagi menantang diri sendiri, tidak lagi belajar hal baru. Menurut dia, “mereka tidak lagi di arena kompetisi.”

Sebaliknya, dia memberi contoh Warren Buffett. Buffett masih bekerja di usia 95 tahun, baru-baru ini mulai mengurangi aktivitasnya. Ada juga Charlie Munger, yang hampir meninggal saat masih aktif bekerja. Apa kesamaan mereka? Mereka bukan fokus mengejar serangkaian tujuan, melainkan berkomitmen untuk terus belajar, berani mengambil risiko, dan bergaul dengan orang-orang menarik. Sikap mental ini yang membuat mereka tetap tajam dan penuh energi.

Pandangan ini membuat saya meninjau ulang rencana karier saya sendiri. Dulu, saya memang menetapkan banyak target spesifik: mencapai posisi tertentu di usia tertentu, mendapatkan penghasilan tertentu, mencapai kebebasan finansial. Tapi sekarang saya sadar bahwa tujuan-tujuan itu sendiri bisa berbahaya. Karena begitu tercapai, motivasi untuk terus maju hilang. Jika fokusnya justru pada proses—belajar terus-menerus, berkembang, menantang diri—kamu tidak akan pernah berhenti.

Chamath berkata, jika dia diberi tahu hal ini lebih awal, dia akan membuat keputusan yang sangat berbeda. Dia akan mengurangi fokus pada uang, mengambil risiko lebih besar, bahkan lebih besar dari saat muda dulu. Kalimat ini sangat menarik karena mengungkapkan sebuah kebenaran yang bertentangan dengan kebanyakan orang: keberhasilan sejati bukan dicapai melalui optimasi tujuan jangka pendek, melainkan melalui konsistensi dalam proses jangka panjang.

Tiga Kondisi Batas: Bagaimana Hidup dalam Proses

Kalau mau meninggalkan gaya hidup berorientasi tujuan dan beralih ke gaya hidup berorientasi proses, Chamath berpendapat kamu perlu menetapkan beberapa batasan (boundary conditions) yang sangat baik. Batasan ini bukan sekadar tujuan, melainkan prinsip—garis bawah yang tidak boleh dilanggar dalam kondisi apapun. Dia mengemukakan tiga batasan spesifik, masing-masing sangat menyentuh hati saya.

Batasan pertama: Jangan berhutang. Kedengarannya sederhana, tapi Chamath menjelaskan bahwa hutang adalah sesuatu yang bisa membuatmu berhenti. Hutang bisa menghentikan proses belajar, menghentikan petualangan, dan membuatmu fokus mengejar tujuan jangka pendek—yang paling nyata adalah uang. Semua optimasi jangka pendek ini akan berdampak besar terhadap hidupmu 20, 30, bahkan 40 tahun ke depan.

Saya sepenuhnya setuju. Hutang bukan hanya beban finansial, tapi juga belenggu psikologis. Saat kamu berhutang, keputusanmu akan dipengaruhi oleh tekanan membayar cicilan. Kamu mungkin menolak peluang menarik yang berpenghasilan rendah tapi menyenangkan, demi pekerjaan yang membayar tinggi tapi membosankan, hanya karena harus membayar hutang. Kamu mungkin bertahan di perusahaan yang tidak kamu sukai karena butuh stabilitas keuangan. Hutang menghilangkan kebebasan memilih, dan kebebasan memilih adalah fondasi utama untuk hidup dalam proses.

Chamath menyoroti fenomena yang sangat berbahaya bagi generasi muda: mereka menghabiskan banyak waktu di media sosial, menonton orang-orang yang sebenarnya berbohong tentang kehidupan mereka yang palsu. Banyak orang tertipu oleh kehidupan palsu ini, mengira itu adalah kehidupan nyata, lalu berusaha meniru gaya hidup tersebut. Semuanya berputar di sekitar uang. Tidak ada yang dipuji karena mengabdikan hidupnya untuk proses, melainkan karena pencapaian eksternal. Mungkin Kobe Bryant adalah pengecualian, tapi sayangnya dia sudah tiada.

Ini mengingatkan saya pada konten media sosial yang penuh dengan pamer kekayaan. Tas bermerek, mobil mewah, perjalanan mewah—semua ini terus memicu keinginan konsumtif muda-mudi. Untuk mengikuti gaya hidup ini, banyak orang berhutang, mengorbankan masa depan. Tapi kenyataannya, banyak dari mereka yang memamerkan kehidupan mewah di media sosial sebenarnya berhutang besar, atau hidupnya tidak semewah yang terlihat. Mengejar gaya hidup palsu ini akhirnya akan menjerumuskanmu ke dalam perangkap hutang, dan mengalihkan perhatian dari hal-hal yang benar-benar penting.

Batasan kedua: Kelola hidup dengan rendah hati. Chamath mengatakan ini adalah pelajaran yang dia pelajari setelah bertahun-tahun. Apa arti rendah hati? Artinya kamu harus jujur terhadap kenyataan hari ini. Hanya dengan begitu kamu bisa melihat hakikat sesuatu secara jernih, dan berbagi kebenaran dengan orang lain agar mereka bisa benar-benar memahami dan terhubung secara tulus.

Pandangan ini sangat menyentuh saya. Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan jujur menilai kemampuan dan batasan diri. Dalam berwirausaha dan bekerja, saya melihat banyak kegagalan karena kekurangan kerendahan hati. Ada yang terlalu percaya diri dan enggan mengakui kesalahan, sehingga jalan yang diambil menjadi sempit. Ada juga yang takut menunjukkan kelemahan, berusaha tampil sempurna, sehingga kehilangan peluang untuk hubungan yang tulus. Kerendahan hati sejati adalah mengakui “Saya tidak tahu,” mau belajar, dan berani mengaku “Saya salah.”

Batasan ketiga: Kelilingi dirimu dengan orang yang lebih muda dari kamu. Chamath mengatakan bahwa pandangan dunia orang muda sangat berbeda. Mereka punya bias dan kerangka pikir yang berbeda pula. Meskipun dia merasa sudah cukup banyak belajar dan tidak perlu diberi tahu bahwa dia salah, kenyataannya justru sebaliknya. Semakin banyak dia bergaul dengan orang muda, semakin dia menyadari bahwa semua pengetahuannya terjebak di satu titik waktu tertentu.

Ini adalah wawasan yang sangat mendalam. Pengetahuan dan pengalaman kita selalu memiliki batas waktu. Apa yang benar hari ini bisa jadi usang besok. Metode yang efektif hari ini bisa jadi tidak relevan lagi keesokan harinya. Orang muda adalah sistem peringatan awal masa depan—mereka bisa menunjukkan bagaimana dunia akan berubah. Chamath berkata, di suatu titik, dia akan merasa bahwa cara dia mengira sesuatu harus berjalan, justru berlawanan dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. Mengakui hal ini membutuhkan keberanian, karena berarti mengakui bahwa pengetahuan kita menjadi usang.

Saya sendiri mengalami hal serupa. Saat berbicara dengan orang yang 10 tahun lebih muda, saya sering terkejut dengan pandangan mereka. Pemahaman mereka tentang teknologi, penggunaan media sosial, dan adopsi model bisnis baru jauh melampaui ekspektasi saya. Jika saya keras kepala dan menolak mendengarkan mereka, saya akan menjadi kaku dan tertinggal.

Target yang Bodoh

Chamath secara jujur menyebutkan bahwa dia dulu mengejar “tujuan bodoh” tersebut. Saat dia menjadi manajer, dia ingin menjadi wakil direktur. Saat jadi wakil direktur, dia ingin jadi senior wakil direktur. Setelah itu, dia ingin menjadi principal (penanggung jawab) di perusahaan modal ventura, lalu menjadi general partner. Di Facebook, dia bagian dari tim manajemen dan menginginkan lebih banyak saham. Semua itu adalah tujuan bodoh.

Pengakuan ini sangat mengguncang saya. Karena tujuan-tujuan ini tampaknya tidak bodoh sama sekali. Mereka adalah hal yang diidamkan banyak profesional. Dari manajer menjadi wakil direktur, dari karyawan menjadi mitra, dari pengelola menjadi pemilik saham—bukankah ini jalur karier yang diajarkan sejak kecil? Tapi Chamath mengatakan bahwa tujuan-tujuan bodoh ini justru menjauhkan dia dari dirinya yang sejati 100%. Mereka membuatnya menjadi versi kartun dari dirinya sendiri, memperbesar aspek kecil tertentu dan menjadikannya representasi dari dirinya yang lebih besar. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang di sekitarnya.

Saya mengerti maksudnya. Saat kita mengejar target eksternal ini, tanpa sadar kita menyesuaikan perilaku agar sesuai dengan peran tersebut. Kita mungkin menekan sifat tertentu, memperbesar sifat lain, karena percaya bahwa itu akan membantu mencapai tujuan. Tapi dalam proses ini, kita kehilangan diri sendiri. Kita menjadi versi yang terdistorsi demi mencapai target, bukan versi diri yang paling otentik dan lengkap.

Chamath mengakui, bahwa pelajaran ini hanya bisa dipahami melalui waktu. Setiap orang yang sudah berusia 40-an, 50-an, akan mengangguk setuju saat mendengar ini. Tapi orang yang berusia 20-an, 30-an, mungkin merasa “Ini tidak cocok buat saya.” Jadi, ada dua pilihan: cara mudah dan cara sulit. Cara mudah adalah melakukan beberapa hal sederhana ini. Cara sulit adalah menghabiskan 30 tahun untuk belajar pelajaran ini secara mandiri.

Ini mengingatkan saya pada paradoks klasik: saat muda, kita punya waktu dan energi tapi kekurangan kebijaksanaan dan pengalaman; saat tua, kita punya kebijaksanaan dan pengalaman tapi kehilangan waktu dan energi. Kalau kita bisa memahami prinsip-prinsip ini sejak muda, berapa banyak waktu dan tenaga yang bisa kita hemat? Tapi masalahnya, pelajaran ini seringkali harus dialami langsung agar benar-benar dipahami. Sekadar mendengar orang lain tidak cukup.

Optionality: Menjaga Kebebasan Memilih

Salah satu prinsip terpenting yang dia ajukan adalah: menjaga optionality (kemampuan memilih) dengan segala cara. Dia bilang, dalam bisnis, dia berusaha menjaga opsi terbuka, dalam negosiasi dia berusaha tetap fleksibel. Mencari ruang win-win adalah hal yang sangat kuat dan sangat membantunya.

Apa arti optionality? Artinya menjaga ruang pilihanmu, jangan terjebak dalam satu jalur saja. Saat kamu punya opsi, kamu bisa menyesuaikan diri secara fleksibel sesuai situasi. Kalau ada peluang yang tidak cocok, kamu bisa menolaknya. Kalau muncul peluang yang lebih baik, kamu bisa langsung ambil. Tapi kalau kehilangan opsi, kamu terjebak. Kamu harus menerima pilihan yang ada, meskipun tidak ideal.

Chamath menjelaskan, manfaat menjaga opsi adalah melindungi hubungan, menjaga harga diri orang lain, dan menjaga emosi mereka. Ini memaksa dia untuk lebih sabar, lebih banyak mendengar dan lebih sedikit bicara. Banyak orang yang menghancurkan diri sendiri karena melakukan hal bodoh. Tapi baginya, kerangka ini membantunya menghindari hal tersebut secara maksimal.

Saya sangat setuju. Dalam perjalanan karier saya, keputusan-keputusan yang menjaga opsi selalu berbuah hasil lebih baik. Misalnya, saya pernah menolak pekerjaan bergaji tinggi yang mengikat kontrak jangka panjang, dan memilih peluang yang lebih fleksibel meski penghasilannya lebih rendah. Beberapa bulan kemudian, peluang yang lebih baik muncul karena saya tidak terikat kontrak. Mereka yang menerima kontrak jangka panjang hanya bisa menonton peluang itu lewat.

Hutang adalah musuh terbesar dari optionality. Saat berhutang, kamu harus membayar cicilan tiap bulan, yang berarti harus punya penghasilan tetap. Kondisi ini membatasi pilihanmu. Kamu mungkin harus menerima pekerjaan yang tidak kamu sukai demi stabilitas finansial. Kalau kamu bebas hutang, kamu punya kebebasan untuk mengeksplorasi, berpetualang, dan mengejar peluang yang mungkin tidak langsung menghasilkan uang tapi berpotensi besar di masa depan.

Chamath juga berbagi pemikiran filosofis: jika kita benar-benar hidup di dunia simulasi, ada level tertentu yang secara sengaja menampilkan rahasia ini dan memberi kita kesempatan untuk memahaminya. Dia sekarang hampir 50 tahun dan menyadari bahwa rahasia ini mulai terbuka padanya. Dia berkata, “Wow, ini luar biasa. Saat muda saya tidak tahu ini, bahkan kalau ada yang coba memberi tahu, saya abaikan.” Jadi, dia hanya menyarankan, meskipun kebanyakan orang akan mengabaikannya, akhirnya semua orang akan mengalami proses ini.

Metafora ini menarik. Hidup memang seperti sebuah permainan, di mana beberapa rahasia hanya terbuka setelah kamu mencapai level tertentu. Tapi ironisnya, saat kamu akhirnya memahami rahasia ini, mungkin sudah terlambat memanfaatkannya secara optimal. Itulah mengapa mendengarkan nasihat orang tua dan mentor sangat penting, meskipun saat itu kamu mungkin tidak sepenuhnya memahaminya.

Kejujuran Total dalam Hubungan

Dalam membahas hubungan antar manusia, Chamath berbagi pelajaran terpenting yang dia pelajari: menikah dengan orang yang 100% mendukungmu sangat penting. Dan satu-satunya cara mendapatkan dukungan itu adalah dengan jujur sepenuhnya.

Dia mengakui, kejujuran itu sangat sulit bagi banyak orang. Dia sendiri tidak tahu bagaimana menjadi benar-benar jujur. Dia berbagi sebagian besar hal, tapi tidak semuanya. Ini adalah bagian dari gaya hidup yang dia pelajari dalam keluarganya. Tapi jika kamu tidak belajar pelajaran ini, itu bisa kembali menyakitimu.

Chamath bilang, dalam hubungan, memiliki pasangan yang menjadi co-founder dan pendukung utama sangat penting. Dia pernah mengalami perceraian dan menyebutnya hampir seperti kehilangan anggota keluarga. Apa yang kurang dari pernikahan pertama? Kurangnya kejujuran mentah, tanpa filter, murni. Saat semuanya baik, kalian bisa merayakannya bersama. Tapi saat buruk, kamu harus bisa menunjukkannya dan menyebutkan masalahnya. Sayangnya, mereka tidak melakukannya. Pernikahan kedua jauh berbeda, dan dia menyebut menemukan hubungan seperti itu sebagai berkah.

Ini mengingatkan saya pada banyak masalah dalam pernikahan dan hubungan pasangan. Banyak orang berpikir menyembunyikan sebagian hal, menutupi kenyataan, adalah cara melindungi pasangan atau menjaga kedamaian. Tapi pengalaman Chamath menunjukkan sebaliknya. Kurangnya kejujuran total justru menanam bom waktu dalam hubungan. Masalah kecil yang tidak segera diungkapkan akan menumpuk dan menjadi masalah besar. Kesalahpahaman yang tidak diklarifikasi akan berkembang menjadi kebencian.

Kejujuran total berarti apa? Berarti saat kamu merasa tidak puas, kamu harus mengatakannya. Saat kamu melakukan kesalahan, kamu harus mengaku. Saat kamu takut, kamu harus jujur. Ini membutuhkan keberanian besar, karena kejujuran membuatmu rentan. Tapi hanya melalui kerentanan ini, hubungan yang benar-benar mendalam bisa terbangun. Saat pasanganmu tahu siapa dirimu yang sebenarnya—termasuk kelemahan dan ketakutanmu—mereka bisa benar-benar mendukungmu.

Dalam konteks bisnis, hal yang sama berlaku. Kemitraan paling sukses biasanya didasarkan pada kejujuran total. Saat kamu dan mitra terbuka membahas perbedaan pendapat, mengakui kesalahan, dan berbagi kekhawatiran, kalian bisa menghadapi tantangan bersama dan membuat keputusan terbaik.

Saran Karier untuk Generasi Muda

Chamath memberi saran sangat spesifik untuk orang muda yang berambisi. Yang pertama dan terpenting: kamu harus pergi ke Broadway (panggung utama).

Dia menjelaskan, tergantung apa yang ingin kamu lakukan, jika ingin masuk politik, kamu harus ke Washington D.C. Mungkin perlu satu atau dua kali berpindah, mulai dari kota bagian, lalu ke ibukota negara bagian, dan akhirnya ke Washington. Kalau ingin di bidang keuangan, harus ke New York atau London. Kalau ingin di bidang kripto, mungkin ke Abu Dhabi. Kalau di bidang teknologi, sederhananya, kamu harus ke Silicon Valley. Tidak ada jalan pintas untuk ini.

Saran ini tampak sederhana, tapi pelaksanaannya membutuhkan keberanian. Artinya, kamu mungkin harus meninggalkan kampung halaman, keluar dari zona nyaman, dan memulai dari tempat asing. Tapi Chamath berpendapat, kamu harus pergi ke tempat yang penuh peluang. Kalau ingin menangkap ikan besar, jangan tinggal di kolam kecil.

Saya sangat setuju. Lokasi geografis sangat mempengaruhi perkembangan karier. Di tempat yang tepat, kamu akan bertemu orang yang tepat, mendapatkan peluang yang tepat, belajar hal yang tepat. Di Silicon Valley, kamu dikelilingi pengusaha dan investor, secara otomatis kamu menyerap budaya kewirausahaan. Di New York, kamu berinteraksi dengan elit keuangan dan media. Kalau tetap di tempat yang tidak relevan dengan tujuan karier, kamu akan melewatkan banyak peluang.

Saran kedua Chamath adalah: jangan fokus pada optimasi gaji. Ini mengapa kamu harus hidup dengan rendah hati. Kamu harus mengoptimalkan peluang. Saat ada kesempatan bekerja sama dengan orang yang lebih pintar, dan peluang itu terasa seperti roket, lompatlah dan raih. Jangan menunda-nunda, karena jika tidak, kamu akan gagal dan menyesal. Itu karena kamu membiarkan faktor-faktor tidak penting menghalangi jalanmu.

Saran ini bertentangan dengan apa yang diajarkan sejak kecil. Kita diajarkan untuk memperjuangkan gaji terbaik, menawar nilai diri. Tapi Chamath bilang, di awal karier, belajar dan berkembang jauh lebih penting daripada gaji. Pekerjaan berpenghasilan rendah yang memberimu pengalaman cepat berkembang jauh lebih berharga daripada pekerjaan bergaji tinggi yang membuatmu stagnan.

Dia juga menyinggung soal keseimbangan kerja dan hidup (work-life balance). Dia bilang, dia bahkan tidak mengerti apa arti itu. Saat kamu berada dalam vibe state dan flow state, artinya kamu bekerja dan menjalani hidup dengan cara yang memberi makna dan tujuan. Kamu menggabungkan keduanya secara harmonis. Itulah yang kamu cari. Kamu berada dalam proses berkelanjutan, terus menambahkan hal-hal yang membuat hidupmu lebih baik.

Pendapat ini mungkin kontroversial, tapi saya mengerti maksudnya. Sejati work-life balance bukan memisahkan secara ketat antara kerja dan hidup, lalu mematikan semua aktivitas setelah jam kerja. Melainkan menemukan cara bekerja yang membuat pekerjaan menjadi bagian bermakna dari hidupmu. Saat kamu mencintai pekerjaanmu, sejalan dengan nilai-nilai dan memberi rasa pencapaian, batas antara kerja dan hidup menjadi kabur—dan itu bukan hal buruk.

Eksperimen Tikus dan Air

Chamath berbagi sebuah eksperimen yang sangat mengguncang. Para ilmuwan menaruh tikus ke dalam wadah berisi air, lalu mengukur berapa lama mereka bisa bertahan sebelum tenggelam. Rata-rata sekitar 4,5 menit. Kemudian mereka melakukan eksperimen lagi. Mereka menaruh tikus, dan saat tikus hampir tenggelam, sekitar 30 detik sebelum mati, mereka mengangkatnya keluar, mengelap dan menenangkan, lalu menaruh kembali ke air. Kali ini, tikus yang sama bisa bertahan hingga 60 jam.

Apa bedanya tikus yang mati dalam 4 menit dan yang bertahan 60 jam? Selain dugaan kita, tidak ada yang tahu pasti, kecuali otak mereka. Otak yang mengaktifkan ketahanan dan kemampuan bertahan dalam diri tikus itu. Inilah yang harus kita temukan: tempat yang mampu membuka bagian terdalam otak, mengaktifkan potensi yang selama ini kita anggap tidak mungkin.

Eksperimen ini sangat menyentuh saya. Tikus yang kedua kali dimasukkan ke air tahu apa? Mereka tahu ada yang akan menyelamatkan. Mereka punya harapan. Dan harapan ini meningkatkan kemampuan bertahan mereka hampir 800 kali lipat. Ini mengajarkan kita sesuatu: potensi manusia jauh melampaui apa yang kita bayangkan. Saat kita percaya bahwa sesuatu itu mungkin, dan punya harapan, kita bisa melakukan hal yang sebelumnya tampak mustahil.

Chamath bilang, Navy Seals dan atlet berbicara tentang ini. Tapi dalam bisnis, hal besar adalah kita tidak punya batas waktu. Tidak seperti Navy Seals atau atlet yang punya masa aktif 10-15 tahun, kita bisa terus bermain dan berkembang. Jadi, kamu harus menemukan tempat yang mampu membuatmu seperti tikus yang berjuang 60 jam di air—tempat yang secara mendalam akan mengubahmu, dalam cara yang hanya bisa dipahami setelah kamu mengalaminya. Setelah itu, kamu akan melihat orang lain dan bertanya-tanya, mengapa mereka tidak mengerti apa yang kamu alami.

Ini mengingatkan saya pada ciri utama orang yang benar-benar sukses. Mereka semua pernah mengalami ujian tertentu, pengalaman yang memaksa mereka melampaui batas persepsi diri. Bisa jadi sebuah proyek penuh tantangan, bangkit dari kegagalan, atau menyelesaikan tugas yang tampaknya mustahil di bawah tekanan ekstrem. Pengalaman ini mengubah mereka, menyadarkan bahwa potensi mereka jauh lebih besar dari yang mereka kira.

Dan keindahan bisnis adalah, tidak seperti olahraga yang memiliki batas usia, kita bisa terus mengejar terobosan ini. Orang berusia 60 tahun masih bisa berwirausaha, 70 tahun belajar hal baru, 80 tahun tetap memberi kontribusi. Buffett dan Munger adalah contoh terbaik. Ketidakberhentian ini menjadikan bisnis panggung belajar dan pertumbuhan seumur hidup yang sempurna.

Status sebagai Jerat

Pandangan Chamath tentang status mungkin yang paling menggegerkan dari seluruh video ini. Dia bilang, yang paling penting tentang status adalah: itu sepenuhnya buatan manusia dan tidak relevan sama sekali. Status adalah alat yang digunakan orang untuk menipu orang lain dan membuang-buang waktu berharga. Kalau kamu tahu ini, salah satu hal terkuat yang bisa kamu lakukan adalah mengabaikan semua cara masyarakat berusaha memberi status kepada kamu.

Kenapa? Karena apa yang dilakukan masyarakat sebenarnya adalah menancapkan sebuah kait kecil di dirimu, yang menarikmu kembali. Kalau kamu mulai percaya bahwa semua itu validasi eksternal, maka orang lain bisa menilai dan menghakimi kamu. Mungkin kecil, mungkin besar. Kalau kamu mengejar cukup banyak hal ini, cukup banyak status ini, kamu akan sepenuhnya dikendalikan oleh orang-orang yang tidak peduli dengan kepentingan terbaikmu.

Chamath bilang, dia belajar ini melalui jalan sulit karena dulu dia sangat menginginkan banyak hal, karena menganggapnya penting. Masuk daftar ini, bergabung klub ini, diundang ke acara ini. Tapi semua itu sebenarnya tidak penting, karena semuanya buatan manusia. Kamu mengubah dirimu, kadang sampai membengkokkan harapan dan perilaku agar bisa menjadi bagian dari itu atau mendapatkan pengakuan. Akibatnya, kamu menjadi kurang lengkap.

Pandangan ini membuat saya merenung. Masyarakat kita penuh dengan simbol status: gelar dari universitas ternama, jabatan di perusahaan besar, kantor mewah, mobil mahal, keanggotaan klub eksklusif. Kita diajarkan untuk mengejar semua itu karena dianggap sebagai tanda sukses. Tapi Chamath bilang, semua itu jebakan.

Kenapa jebakan? Karena begitu kamu mulai peduli dengan simbol status ini, kamu akan menyesuaikan perilakumu agar sesuai. Kamu akan melakukan hal-hal yang meningkatkan status, meskipun sebenarnya itu bukan keinginanmu. Kamu akan menghindari hal yang bisa merusak status, meskipun itu pilihan yang benar. Kamu akan peduli apa kata orang tentangmu, peduli posisi di peringkat-peringkat tertentu. Ketergantungan ini akan membelenggu dan menghilangkan kebebasanmu.

Chamath bilang, status adalah sesuatu yang sepenuhnya buatan manusia dan merusak, yang digunakan masyarakat untuk menahanmu. Semakin kamu bisa melepaskan diri dari itu, semakin kamu punya kekuatan super. Pandangan ini mungkin terdengar ekstrem, tapi coba pikirkan orang-orang yang benar-benar mengubah dunia—banyak dari mereka tidak peduli simbol status tradisional. Mereka mengikuti rasa ingin tahu mereka, melakukan apa yang mereka anggap penting, bukan apa yang masyarakat anggap penting.

Saya sendiri sedang berusaha melepaskan ketergantungan terhadap status. Saya merasa lebih bebas saat tidak terlalu peduli apa kata orang tentang pilihan saya. Saya bisa mengejar hal-hal yang benar-benar saya minati, meskipun itu tidak menampilkan tanda-tanda keberhasilan konvensional. Saya bisa bergaul dengan orang-orang menarik tanpa mempedulikan posisi sosial mereka. Kebebasan ini sangat berharga.

Refleksi Saya

Setelah menonton dan mencerna semua pandangan Chamath ini, saya butuh waktu cukup lama untuk mencerna dan menyerapnya. Mereka menantang banyak asumsi yang selama ini saya pegang. Saya selalu percaya bahwa menetapkan tujuan yang jelas adalah kunci keberhasilan, tapi sekarang saya sadar bahwa terlalu fokus pada tujuan bisa membuat kita melewatkan hal yang lebih penting—proses berkelanjutan untuk berkembang.

Saya mulai meninjau ulang definisi keberhasilan saya sendiri. Dulu, mungkin saya mengukur keberhasilan dari posisi, penghasilan, dan status sosial. Tapi sekarang saya bertanya: Apakah saya terus belajar? Apakah saya menantang diri sendiri? Apakah saya melakukan hal yang bermakna? Jika jawabannya ya, maka saya sudah sukses, tidak peduli apa gelar saya, berapa saldo rekening saya.

Pengalaman Chamath juga mengajarkan saya tentang nilai waktu. Dia bilang, dia butuh 30 tahun untuk belajar pelajaran ini. Kalau saya saat ini berusia 30-an dan bisa memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini sejak dini, berapa banyak waktu dan tenaga yang bisa saya hemat? Tapi saya juga sadar, beberapa pelajaran memang harus dialami langsung agar benar-benar dipahami. Yang terpenting adalah tetap terbuka dan mau belajar dari pengalaman orang lain, meskipun saat itu saya belum sepenuhnya mengerti.

Akhirnya, saya ingin menegaskan bahwa nasihat Chamath ini bukan untuk semua orang menjadi miliarder atau membangun perusahaan besar. Tapi tentang bagaimana menjalani hidup yang lebih otentik, penuh makna, dan memuaskan. Tidak peduli apa tujuan kariermu, prinsip-prinsip ini berlaku: fokus pada proses, rendah hati dan belajar terus-menerus, lindungi kebebasan memilih, jujur dalam hubungan, dan abaikan simbol status yang dibuat manusia.

Saya yakin, jika lebih banyak orang memahami dan menerapkan prinsip-prinsip ini, kita akan melihat dunia yang berbeda. Dunia di mana orang bekerja bukan demi pengakuan eksternal, melainkan untuk pertumbuhan internal. Dunia di mana orang tidak lagi berjuang menaiki tangga kesuksesan yang didefinisikan orang lain, melainkan menapaki jalan unik mereka sendiri. Mungkin ini pilihan yang lebih sulit, tapi pasti lebih bermakna.

Lihat Asli
Penafian: Informasi di halaman ini dapat berasal dari pihak ketiga dan tidak mewakili pandangan atau opini Gate. Konten yang ditampilkan hanya untuk tujuan referensi dan bukan merupakan nasihat keuangan, investasi, atau hukum. Gate tidak menjamin keakuratan maupun kelengkapan informasi dan tidak bertanggung jawab atas kerugian apa pun yang timbul akibat penggunaan informasi ini. Investasi aset virtual memiliki risiko tinggi dan rentan terhadap volatilitas harga yang signifikan. Anda dapat kehilangan seluruh modal yang diinvestasikan. Harap pahami sepenuhnya risiko yang terkait dan buat keputusan secara bijak berdasarkan kondisi keuangan serta toleransi risiko Anda sendiri. Untuk detail lebih lanjut, silakan merujuk ke Penafian.
Komentar
0/400
Tidak ada komentar
Perdagangkan Kripto Di Mana Saja Kapan Saja
qrCode
Pindai untuk mengunduh aplikasi Gate
Komunitas
Bahasa Indonesia
  • 简体中文
  • English
  • Tiếng Việt
  • 繁體中文
  • Español
  • Русский
  • Français (Afrique)
  • Português (Portugal)
  • Bahasa Indonesia
  • 日本語
  • بالعربية
  • Українська
  • Português (Brasil)