Layer 2 awalnya mendapatkan popularitas karena keterbatasan performa dan tingginya biaya Gas di mainnet. Sebagai contoh, pada masa awal kemacetan jaringan Ethereum, pengguna harus membayar biaya transaksi yang sangat mahal, sehingga Layer 2 menjadi solusi skalabilitas yang penting.
Dengan sejumlah peningkatan mainnet (seperti optimalisasi biaya dan peningkatan ketersediaan data), biaya transaksi keseluruhan telah menurun secara signifikan. Hal ini menyebabkan perubahan struktural:
Jika Layer 2 hanya mengandalkan penurunan biaya sebagai nilai utama, akan sulit mempertahankan daya saing jangka panjang. Fokus ke depan akan bergeser ke optimalisasi performa, pengalaman pengguna, dan pengembangan ekosistem aplikasi.
Seiring semakin banyak jaringan Layer 2 yang bermunculan, ekosistem semakin didominasi oleh chain paralel. Meski ekspansi ini meningkatkan throughput secara keseluruhan, hal ini juga memunculkan efek samping nyata—likuiditas tersebar di berbagai jaringan.
Secara spesifik:
Saat ini, cross-chain bridge dan protokol messaging telah membantu mengurangi masalah ini sampai batas tertentu, tetapi risiko keamanan dan kompleksitas operasional tetap ada. Fragmentasi likuiditas kini menjadi hambatan utama yang membatasi perkembangan lebih lanjut Layer 2.
Dari perspektif yang lebih luas, ini juga merupakan tahapan yang harus dilalui blockchain saat beralih dari era single-chain ke era multi-chain.
Isu lain yang ramai diperbincangkan adalah utilitas nyata dan kemampuan penangkapan nilai token native Layer 2. Sebagian besar jaringan Layer 2 masih menggunakan ETH sebagai aset pembayaran biaya Gas, sehingga token native mereka belum memiliki dukungan permintaan langsung dalam skenario inti.
Hal ini memunculkan beberapa perdebatan utama:
Beberapa Layer 2 mencoba meningkatkan nilai token melalui distribusi pendapatan sequencer, mekanisme staking, atau insentif ekosistem, tetapi secara umum belum ada solusi terpadu untuk tantangan ini.
Jika model penangkapan nilai yang jelas tidak dapat diwujudkan, token Layer 2 berisiko menghadapi skeptisisme pasar jangka panjang.
Tantangan yang dihadapi Layer 2 pada dasarnya mencerminkan fase transisi perkembangannya—dari fokus utama pada penyelesaian bottleneck performa, kini beralih ke pembangunan ekosistem. Dahulu, nilai Layer 2 terletak pada penurunan biaya dan peningkatan efisiensi. Namun, seiring kedua aspek tersebut menjadi fitur dasar, logika kompetitifnya pun berubah.
Kompetisi ke depan tidak lagi sekadar soal TPS atau biaya transaksi; melainkan pada kemampuan Layer 2 menarik pengembang dan pengguna, membangun jaringan likuiditas yang efisien, serta menciptakan sistem nilai token yang jelas dan berkelanjutan. Kemampuan scaling akan menjadi syarat minimal untuk masuk pasar, sedangkan diferensiasi sejati akan muncul dari kedalaman ekosistem dan kapabilitas penangkapan nilai.
Tahap berikutnya bagi Layer 2 bukan lagi hanya soal skalabilitas, melainkan kompetisi menyeluruh pada model ekosistem dan ekonomi. Berbagai tantangan ini akan mendorong industri blockchain bergerak dari peningkatan infrastruktur menuju lanskap aplikasi dan ekosistem yang lebih matang.